Maumere, Ekorantt.com – Ketua Pengurus Kopdit Pintu Air, Yakobus Jano berpesan kepada semua yang bekerja di Kopdit Pintu Air di Pulau Flores agar tidak perlu takut dengan gempa susulan yang masih terjadi.
Ia berharap agar tetap bekerja dengan baik melayani anggota, namun tetap waspada.
Jano mengajak pengelola Kopdit Pintu Air memanfaatkan September sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) dalam kalender liturgi Katolik dengan menyediakan waktu secara rutin untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci.
“Kitab Suci adalah nafas iman kita. Kalau kita tidak membaca dan merenungkan Sabda Tuhan itu iman kita menjadi kering,” pungkas Jano, belum lama ini.
Diketahui, pada tanggal 15 Agustus 2026, pukul 05.58 Wita, gempa bumi berkekuatan Mw 7.7 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Gempa bumi tersebut juga memicu tsunami dengan ketinggian mencapai 1,61 m (5 ft 3 in). Gempa bumi tersebut merupakan yang terkuat di wilayah Nusa Tenggara Timur, sejak tahun 1992.
Gempa bumi tersebut memicu peringatan tsunami untuk wilayah Flores dan Sulawesi. Sekitar 2.000 orang kemudian mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena khawatir akan terjadinya tsunami.
Setidaknya 136 orang tewas akibat gempa bumi ini, sementara 1.776 orang lainnya mengalami luka-luka. Sekitar 102.384 rumah mengalami kerusakan, termasuk lebih dari 26.343 rumah yang rusak berat.
Banyak rumah sakit di wilayah tersebut rusak atau hancur, sehingga pasien terpaksa dirawat di luar ruangan. Lebih dari 179.037 orang mengungsi, dengan 20.000 di antaranya tercatat berada di Manggarai.
Keadaan darurat selama 14 hari ditetapkan di Nusa Tenggara Timur seiring dimulainya upaya penyelamatan untuk mencari korban yang terjebak di bawah reruntuhan.
