Jelajah Pangan di SDK Nangamboa: Dari Kebun hingga Memasak Resep Pangan Lokal

SDK Nangamboa menyadari bahwa anak-anak sering kali bosan dengan olahan pangan lokal yang monoton seperti ubi rebus atau jagung goreng biasa.

Ende, Ekorantt.com Di bawah terik matahari siang di SDK Nangamboa, para siswa sibuk menggenggam adonan, membulatkannya perlahan, lalu merebusnya di atas tungku kayu bakar yang mengepul.

Di halaman sekolah, para siswa bersama pendamping sibuk mengolah ubi kayu (pangan lokal) menjadi kue onde-onde. Sedangkan siswa yang lain berada dalam ruangan kelas mengolah ubi menjadi steak ubi.

Sebanyak 141 siswa dari kelas satu hingga enam tampak antusias saat mengikuti kegiatan masak makanan pangan lokal yang diinisiasi oleh Yayasan Flores Bumi Lestari. Mereka dibagi secara merata ke dalam lima kelompok permanen yang telah di-SK-kan oleh kepala sekolah.


Lewat Program ‘Jelajah Pangan’, Yayasan Flores Bumi Lestari mengajak pelajar di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur untuk mengenal lebih dalam tentang pangan lokal.

Lembaga ini memberikan edukasi terkait pangan lokal bagi siswa, yang salah satunya menyasar di SDK Nangamboa, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende pada Sabtu, 23 Mei 2026.

Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari foraging class (kelas meramban) yang dikemas dalam Program Jelajah Pangan.

“Jadi, sebenarnya kami Yayasan Flores Bumi Lestari itu membuat sebuah program bersama dengan sekolah yang kami namakan Jelajah Pangan,” kata Pendiri Yayasan Flores Bumi Lestari, Lis Beribe kepada Ekora NTT di sela-sela kegiatan.

Dalam program ini terdapat beberapa tahap yang harus dilalui, mulai dari pengembangan modul pembelajaran, hingga penyiapan para guru pendamping dan fasilitator di masing-masing sekolah.

Setelah pembekalan guru selesai, barulah kami melaksanakan foraging class, kata Lis.

Dalam foraging class, para peserta didik diajak langsung menelusuri kebun, pekarangan rumah, hingga pinggiran kampung. Tujuannya adalah melatih pancaindra siswa untuk mengenali pangan lokal secara utuh.

“Mulai dari nama daerah, nama Indonesia apa, lalu bagaimana bentuknya, warnanya apa, rasa, hingga aromanya,” imbuh Lis.

Menurutnya, ketika melatih anak-anak menggunakan pancaindra, maka tentu saja semua informasi dan pengetahuan akan tertinggal di pikiran dan hati mereka.

Sebagai tindak lanjut dari foraging class atau kelas meramban tersebut, pihak SDK Nangamboa memilih aksi nyata berupa pengolahan (memasak) pangan lokal secara bersama yang dibagi ke dalam lima kelompok.

Para siswa membawa sendiri bahan pangan dari rumah, seperti singkong dan talas, untuk diolah bersama-sama sesuai dengan resep pengolahan pangan lokal yang dituliskan oleh Yayasan Flores Bumi Lestari.

Lis berharap, dengan keterlibatan langsung tersebut para peserta didik benar-benar mengenal dan menguasai “bagaimana cara mengolah pangan lokal dengan baik.”

Ia menambahkan, Program Jelajah Pangan mengusung pesan utama “Pangan Sehat untuk Generasi Cerdas”.

Kegiatan ini berangkat dari kekhawatiran Yayasan Flores Bumi Lestari terkait adanya fenomena kebiasaan konsumsi anak-anak zaman sekarang yang lebih suka makan yang instan.

“Dari edukasi yang kami lakukan, banyak informasi bahwa jajanan anak-anak sekarang tidak sehat, mayoritas adalah makanan yang diproses berkali-kali, tinggi gula, tinggi garam, mengandung pemanis, pengawet, serta perasa dan pewarna buatan,” ujar Lis.

Selain di SDK Nangamboa, Program Jelajah Pangan menyasar tiga sekolah lainnya di Kecamatan Nangapanda di antaranya, SMP Negeri 5 Nangapanda, SMP Negeri 6 Nangapanda dan SDK Puukou.

Yayasan Flores Bumi Lestari menaruh harapan besar agar keempat sekolah yang menjadi mitra ini dapat mengadopsi modul pembelajaran Jelajah Pangan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler atau mata pelajaran muatan lokal (mulok), serta mampu berdiri di garda terdepan sebagai pelopor edukasi pangan lokal. Sebab, pangan lokal merupakan identitas diri.

Gerakan Jelajah Pangan juga diharapkan dapat melahirkan generasi yang sehat dan cerdas.

“Sesuai dengan visi kami, kami ingin agar pangan lokal diperhatikan semua orang terutama perempuan dan anak-anak muda,” tandas Lis.

Bagi Yayasan Flores Bumi Lestari, aspek paling berharga yang harus diselamatkan dan diwariskan adalah pengetahuan.

“Seperti kata pepatah “menulis untuk hidup seribu tahun lagi,” imbuh dia.

Pendamping siswa dalam kegiatan Jelajah Pangan, Salestina Clastrivat Pake Mbu menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Flores Bumi Lestari atas inisiatif untuk menyelamatkan pangan lokal melalui Program Jelajah Pangan.

Menurut Salestina, kegiatan tersebut tidak hanya menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap pangan lokal tetapi sebagai upaya untuk menekan kebiasaan jajan anak.

Sebelum mebgolah pangan lokal, pihaknya terlebih dahulu melakukan jelajah pangan di wilayah Desa Ondorea Barat.

Dari hasil penjelajahan terhadap ratusan jenis pangan lokal, pihak Salestina mengambil sampel sebanyak lima jenis pangan lokal di antaranya, singkong (ubi kayu), ubi jalar, ubi tatas, jagung dan kacang hijau.

Kelima jenis pangan lokal tersebut sudah menjadi ciri khas daerah di Desa Ondorea Barat.

“Kalau hasil bumi kami di sini kan ya itu, ubi, terus kacang hijau, hasil kebun lah karena kami di sini tidak ada sawah. Jadi kami ambil hasil kebun,” kata Salestina.

Selain itu bahan tersebut menurutnya, mudah untuk diolah dan dikreasikan menjadi berbagai menu menarik.

Ia berkata, SDK Nangamboa menyadari bahwa anak-anak sering kali bosan dengan olahan pangan lokal yang monoton seperti ubi rebus atau jagung goreng biasa.

Oleh karena itu, melalui panduan buku resep yang diterbitkan oleh Yayasan Bumi Lestari serta kreativitas para guru, anak-anak diajarkan menyulap bahan mentah tersebut menjadi camilan kekinian yang menggugah selera.

Jagung, misalnya, berhasil diolah menjadi jagung bose, perkedel, hingga popcorn (jagung bunga). Sementara aneka ubi dikreasikan menjadi steak ubi, klepon, getuk, onde-onde, hingga lemek.

Salestina berharap agar kerja sama dengan Yayasan Bumi Lestari dapat terus berlanjut, karena kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan jenis pangan lokal kepada siswa tetapi juga memberikan dampak baik yang terhadap kesehatan siswa.

TERKINI
BACA JUGA