Ende, Ekorantt.com – Sejumlah pedagang di Ndao, Kabupaten Ende, NTT, baru merasakan dampak negatif akibat penggusuran lapak di sempadan pantai Ndao pada 15 April lalu.
Murdiana Haryati, salah satu pedagang yang direlokasi ke Terminal Ndao mengaku pendapatan sehari turun drastis yakni hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp60 ribu.
“Beda jauh sekali. Kalau lokasi sebelumnya Rp300 ribu hingga Rp400 ribu,” ucap Murdiana di Ende, Kamis, 21 Mei 2026.
Ia menjelaskan, lokasi yang direlokasi oleh pemerintah tidak strategis karena sepi pembeli. Mereka dipaksakan berjualan di terminal agar penumpang dari luar daerah dapat membeli.
Namun, faktanya bus antar-kabupaten hanya sekali singgah di terminal dalam sehari. Hal itu menyebabkan barang dagangan mereka tidak laku, kata Murdiana.
Sepi pembeli yang berdampak turunnya pendapatan, membuat Murdiana dan keluarga tidak dapat membayar cicilan koperasi. Bila ada rezeki lebih ia membayar cicilan Rp10 ribu.
“Biar makan kami tidak bisa beli. Itu juga koperasi datang tagih terus,” ungkap ibu tiga anak itu.
Turunnya pendapatan juga membuat Murdiana harus hidup hemat. Bahkan untuk makan saja mereka rela satu kali makan sehari.
“Makan satu hari satu kali, kalau anak-anak siang ada MBG di sekolah,” pungkasnya.
Murdiana an keluarga terpaksa bertahan dengan kondisi yang cukup pelit itu. Ia berharap pemerintah memperhatikan keadaan warga terdampak.
“Harapan kami itu, cepat tata ulang supaya kami bisa berjualan lagi di tempat semula,” kata dia.
Harapan serupa juga disampaiakan Fatima, seorang pedagang yang memaafkan trotoar dekat SPBU untuk berjualan.
Ia keluhkan pendapatan jauh dari harapan dan target karena pemasukan hanya berharap pada orang yang datang lewat dari arah barat dan mau singgah.
Fatima mengaku, sejak awal penggusuran tidak ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Ende terkait dengan kondisi ekonomi yang dialami warga.
Sejauh ini, ia menyebutkan hanya anggota DPD RI, Angelius Wake Kako yang datang berkunjung dan memberikan bantuan berupa sembako.
“Yang pernah datang itu hanya bapak Angelo itu kasih kami beras dengan bapak Haji Edin kami dapat beras dengan telur juga minyak,” ungkap Fatima.
Ia berharap agar pemerintah segera menata area sempadan pantai sehingga dirinya bersama pedagang lainnya secepatnya bisa kembali berjualan.
“Harapan kami semoga bapak bupati bisa tata lagi lokasi sebelumnya supaya kami bisa jual lagi di sana,” tandasnya.













