Larantuka, Ekorantt.com – Hujan pasir dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki melanda sembilan desa di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT. Aktivitas erupsi tanpa jeda selama beberapa hari itu terjadi lagi pada Rabu, 10 Juni 2026.
Desa-desa terdampak berada di arah barat dan barat laut dari gunung setinggi 1.584 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu.
Wartawan Ekora NTT yang berada di Desa Boru merasakan hujan pasir selama 10 menit. Selain di pusat ibu kota kecamatan, hujan pasir juga melanda Desa Boru Kedang, Desa Hokeng Jaya, Desa Nawokote, Desa Klatanlo, Desa Waiula, Desa Pantai Oa, Desa Hewa, dan Desa Ojan Detun.
Dominikus Selestinus (30), warga Desa Boru, khawatir dengan material vulkanik yang dapat merusak atap rumah. Di pertengahan tahun 2025, mereka baru mengganti atap yang baru akibat terpapar korosi.
“Ini seng tidak lama rusak lagi, abu gunung itu kerjanya cepat, lambat penanganan maka tidak ada guna, jadi karat semua,” kata dia.
Dominikus berkata, kerusakan atap berbahan besi terjadi begitu cepat. Seng terpapar korosi langsung rapuh, terlebih jika didukung cuaca lembap.
“Selain baca-baca, pengalaman kami selama hidup dalam bencana erupsi memang terbukti, seng rusak tidak sampai beberapa bulan,” jelasnya.
Dominikus bersama warga sekitar meminimalisir dampak atap berkarat dengan melakukan penyiraman secara rutin. Mereka membeli air seharga Rp 15.000 per drum. Rumah Dominikus berukuran sekitar 8×7 meter persegi butuh lima drum atau Rp 75.000 untuk sekali penyiraman.
Dominikus dan keluarga memilih tinggal di kampungnya di Dusun Kampung Baru, Desa Boru. Jarak rumahnya berkisar tujuh kilometer dari Lewotobi Laki-laki. Sebagian besar warga di dusun itu masih mengungsi di Huntara di Desa Konga, Kecamatan Titehena.
Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, melaporkan aktivitas erupsi bisa terjadi berkali-kali dalam sehari. Sejak Rabu dini hari hingga pukul 10.00 Wita, Lewotobi Laki-laki sudah empat kali erupsi.
“Pertama pukul 05.23 Wita tinggi abu 1.000 meter, pukul 08.26 Wita dengan tinggi 1.000 meter, pukul 09.10 Wita setinggi 1.000 meter, kemudian pukul 10.41 Wita juga 1.000 meter,” ujar Kepala PGA Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro.
Herman mengamati intensitas abu tebal berwarna kelabu bergerak ke arah barat dan barat laut. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 47.3 mm dan durasi kurang lebih 1 menit 17 detik.
“Masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi G. Lewotobi Laki-laki,” kata Herman.
Masyarakat diminta tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah, tidak mempercayai isu-isu yang tidak jelas sumbernya serta memperhatikan protokol kesehatan agar terhindar dari paparan abu pada sistem pernapasan.
Paul Kabelen













