Maumere, Ekorantt.com – Mama Viktoria Sensiana, seorang ibu paruh baya berjalan tertatih-tatih dengan sandal jepit usang di atas di jalan tanah, berdebu dan berlubang.
Di atas kepalanya ada sebuah jeriken berisi air berukuran lima liter. Sementara di punggungnya, ia memanggul anyaman daun lontar atau teli wadah lokal yang menampung sekitar 20 liter air bersih.
Beban seberat itu dibawanya sejauh tiga kilometer meter. Mama Viktoria berjalan melewati lembah dan tanjakan terjal.
Mama Viktoria tidak berjalan sendirian. Di sisi kanan dan depan, ada anak-anak kampung usia TK dan SD yang juga ikut membawa beban jeriken air berukuran lima liter. Padahal seharusnya mereka mengisi waktu luang untuk membaca buku atau bermain selayaknya anak-anak di kota.
Kenyataan pahit ini terpaksa dihadapi oleh ratusan Kepala Keluarga (KK) di wilayah Bora Blupur, Desa Bura Bekor, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT)
Krisis air berkepanjangan memaksa mereka harus hidup dalam keterbatasan, mengandalkan air hujan dan menguras tenaga berjalan kaki melintasi medan ekstrem.
Mama Viktoria mengaku sudah puluhan tahun mengandalkan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga.
Pada musim hujan, mereka menampung air hujan di bak Penampung Air Hujan (PAH) yang dibangun di halaman rumah warga.
“Air hujan kami buat mandi, mencuci dan memasak. Kalau untuk minum, air hujan harus dimasak lama baru bisa diminum,” ungkap Mama Viktoria ditemui pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Yang paling menyenangkan warga adalah ketika musim hujan tiba karena pasti kelimpahan air. “Kami bahagia, air melimpah, anak-anak juga bisa mandi sepuasnya,” ujar Mama Viktoria.

Sebaliknya, ketika musim kemarau justru warga menghadapi situasi sulit dan menyedihkan. Mereka terpaksa mengambil air di sumber mata air yang jaraknya jauh, sekitar tiga kilometer di kampung tetangga.
“Biar jauh melewati jalan terjal, mendaki dan menurun juga kami harus tetap jalan ke mata air untuk kebutuhan sehari-hari di rumah,” ujarnya.
“Mau beli air yang dijual di jeriken atau di tangki profil pakai pikap, kami tidak ada uang.”
Warga lain, Romana dan Yovita mengaku belum ada perhatian nyata dari pemerintah meski aparat desa dan kecamatan pernah meninjau lokasi.
“Mata airnya kecil sekali, lalu antre lagi karena kami banyak orang. Jarak dari rumah ke lokasi sumber mata air itu tiga kilometer,” ujar Romana.
Untuk menuju ke lokasi mata air, biasanya warga berangkat rombongan dengan membawa jeriken kosong.
“Kalau berangkat pukul 08.00 Wita kami baru kembali ke rumah pada pukul 13.00 Wita. Sementara itu, kalau berangkat pukul 13.00 Wita, kami tiba kembali pukul 17.00 Wita,” kata Romana.
Untuk sekali jalan, setiap orang membawa 20 liter air dengan cara satu jeriken ukuran lima liter dijunjung di kepala. Sedangkan dua jeriken lainnya dibawa dengan tangan kiri dan kanan.
Air sebanyak 20 liter tersebut digunakan untuk memasak, mencuci, dan kebutuhan sehari-hari lainnya secara hemat.
“Kami harus irit. Air ini hanya cukup untuk kebutuhan satu hari. Jika habis, kami harus kembali berjalan mengambil ke mata air,” ujarnya.
Sebagian warga juga memilih membeli air bersih dari mobil pikap dengan harga Rp5 ribu per jeriken ukuran 20 liter atau Rp175 ribu hingga Rp200 ribu untuk profil tank ukuran 500 liter.
Namun, kehadiran mobil pikap penjual air ini bergantung pada keberanian sopir masuk sampai perkampungan melewati jalan rusak.
“Pernah terjadi mobil pikap yang membawa muatan air profil mengalami pecah tangki di tengah perjalanan akibat kondisi jalan rusak,” kata Yovita.
Ia berharap pemerintah segera memperbaiki akses jalan agar mobil tangki air bersih bisa masuk ke kampung dengan harga yang lebih terjangkau.
“Kalau sudah diperbaiki, mobil tangki air bisa masuk dan harganya lebih murah. Beli satu tangki 5.000 liter bisa pakai sampai satu bulan, bahkan kalau irit bisa sampai dua bulan,” ungkap Yovita.
Penjabat Kepala Desa Bura Bekor, Antonius Moa berkata, di Kampung Bora Blupur ada sebanyak 43 KK yang sudah memiliki bak Penampung Air Hujan (PAH), sementara 18 KK lainnya belum memilikinya.
“Di Kampung Bora Blupur tidak ada sumber mata air. Selama ini, warga ambil di lokasi sumber mata air milik desa tetangga yakni Desa Blatatatin, Kecamatan Kangae,” ujar Anton.
Camat Bola, Charolus Luanga Saka mengaku sudah mengunjungi Kampung Bora Blupur dan meninjau langsung kondisi masyarakat yang tidak memiliki sumber mata air.
“Pemerintah kecamatan berupaya mengatasi krisis air menahun di Bora Blupur, salah satunya melalui langkah darurat dengan membangun bak PAH bagi warga yang belum memiliki fasilitas penampungan yang layak, ” ujar Charlos, Senin, 20 Juli 2026 lalu.













