Borong, Ekorantt.com – Jeriken-jeriken kosong berjajar di sekitar sebuah sumur air di Desa Sisir, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saban hari, warga datang bergantian mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga. Sebagian menunggu dalam antrean, sementara yang lain turun ke bagian bawah sumur untuk menimba air.
“Masalah ini sudah dirasakan setidaknya sejak belasan hingga puluhan tahun lalu,” kata Fransiska Mimi, 32 tahun, salah satu warga, kepada Ekora NTT, Selasa, 29 September 2026.
Ia bilang, frekuensi mengambil air tergantung kondisi di sumber air. Apabila beruntung, ia hanya mengambil sore dan pagi hari untuk mendapatkan air sesuai kebutuhan.
Tetapi bila tidak cukup, Fransiska bisa pergi empat hingga lima kali ke sumur dalam sehari. “Bahkan pergi pada jam dini hari.”
Fransiska berkata, jarak dari rumahnya ke sumber air sekitar satu hingga tiga kilometer.
Biasanya, warga berangkat pukul 05.00 Wita ke sumber air. Namun bisa saja berangkat sebelum itu jika ingin tidak antrean lama.
“Alasan pergi jam 5 itu karena pada jam tersebut stok air yang ada belum direbut warga lain.”
Kadang-kadang, ia bisa tidak dapat air meski berangkat pukul 05.00. Fransiska menuturkan, air yang dia bawa pulang tergantung stok air di sumur. “Biasanya 10-25 liter.”
“Saya biasanya berjalan kaki. Sesekali pakai sepeda motor,” tambahnya.
Berjuang mendapatkan air membuat waktu untuk hal produktif lainnya terbuang begitu saja. Banyak pekerjaan yang tersita demi mendapatkan air, kata Fransiska.
Meski begitu, kebutuhan seperti minum, mencuci, memasak serta kebutuhan lainnya harus terpenuhi.
“Kami pakai air utamanya untuk minum dan masak. Untuk cuci pakaian, kami lakukan di sumur. Karena jika dilakukan di rumah, akan membutuhkan energi maupun biaya tambahan untuk angkut air,” ungkapnya.
Dengan kondisi tersebut, ia harus gunakan air secara hemat.
Fransiska seringkali merasa letih karena setiap hari harus memikul banyak jeriken air.
“Kami harus menunda mandi, mencuci pakaian karena tidak ada air. Keadaan seperti itu sudah sangat akrab bagi kami,” tuturnya.
Menurutnya, air adalah kebutuhan utama manusia. Krisis air adalah krisis kemanusiaan.
“Mengingat topografi wilayah kami, pengadaan sumur bor barangkali pilih yang paling pas di dekat kampung kami,” katanya meminta pemerintah untuk pengadaan sumur bor.
Herry Narendra, warga lainnya berkata, krisis air di desanya bukan hanya baru terjadi tahun ini, namun sudah beberapa tahun sebelumnya, terutama saat musim kemarau.
Setidaknya, kata dia, 140 kepala keluarga (KK) terdampak akibat krisis air.
“Wilayah terparah ada di Dusun Nganta dengan lebih dari 60 kepala keluarga dan satu fasilitas kesehatan ikut terdampak,” sebutnya.
Ia menambahkan, pemandangan warga membawa jeriken dan ember sudah menjadi hal biasa di kampungnya.
“Ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak harus menuruni lembah dan mendaki kembali dengan beban air di pundak,” jelas Herry.
Kadangkala, warga terpaksa keluar isi dompet untuk menyewa kendaraan roda dua mengangkut jeriken.
“Biasanya yang punya motor pakai tarif Rp10 ribu per jeriken ukuran 30 liter,” ujarnya.













