Pemkab Manggarai Perkuat Literasi Desa Lewat Lomba Perpustakaan

Sebanyak 20 desa dan satu kelurahan yang telah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) menjadi sasaran pembinaan.

Ruteng, Ekorantt.com – Perpustakaan Desa Ponggeok, Kecamatan Satarmese, berhasil meraih juara 1 dalam ajang lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Kabupaten Manggarai 2026.

Keberhasilan tersebut diumumkan setelah melalui rangkaian seleksi administrasi hingga penilaian lapangan oleh tim juri independen.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Manggarai, Gabriel Aldino Posenti Tjangkoeng berkata lomba ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat budaya literasi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan desa.

Sebanyak 20 desa dan satu kelurahan yang telah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) menjadi sasaran pembinaan.

Dari jumlah tersebut, 18 perpustakaan desa dan kelurahan memenuhi persyaratan administrasi dan mengikuti seluruh tahapan lomba.

“Awalnya kami membuka pendaftaran melalui sistem daring, namun responsnya belum maksimal,” kata Aldino.

Pihaknya lantas melakukan kunjungan langsung ke desa-desa dan mengajak mengikuti lomba sekaligus melakukan pembinaan.

Aldino menerangkan, setelah lolos seleksi administrasi, seluruh peserta mengikuti sosialisasi dan pembekalan di Hotel Ranaka pada 13 Juli 2026.

Materi disampaikan oleh tiga dewan juri dari kalangan akademisi Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, pustakawan bersertifikat, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Manggarai.

Penilaian kemudian dilanjutkan melalui visitasi lapangan untuk melihat langsung kondisi perpustakaan, tata kelola, inovasi layanan, koleksi, hingga dampak kegiatan literasi bagi masyarakat desa.

Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, kata dia, Perpustakaan Desa Ponggeok keluar sebagai juara pertama dengan total nilai 546, disusul Kelurahan Mbaumuku di posisi kedua dengan 542 poin, serta Desa Bulan di peringkat ketiga dengan 515 poin.

Selain tiga besar, Desa Gara, Poco Likang, dan Desa Kole juga masuk dalam daftar enam desa terbaik pada kompetisi tersebut.

Aldino berpendapat, keberadaan perpustakaan desa tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga menjadi pusat belajar masyarakat melalui berbagai program literasi yang mampu meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan warga.

“Perpustakaan harus mampu mengubah masyarakat yang belum memiliki pengetahuan menjadi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan,” tegas Aldi.

Menurutnya, berbagai kegiatan literasi dapat dikembangkan melalui perpustakaan, mulai dari pelatihan keterampilan, kerajinan tangan, hingga pengembangan usaha masyarakat berbasis pengetahuan.

Ia juga menekankan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam membantu masyarakat memperoleh informasi yang benar sehingga tidak mudah terpengaruh berita bohong.

“Perpustakaan menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi yang benar, memiliki sumber yang jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak mudah terpengaruh hoaks,” ujarnya.

Aldimo berharap prestasi yang diraih Desa Ponggeok menjadi motivasi bagi desa-desa lain untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan perpustakaan.

 “Saya berharap desa-desa yang belum mampu mengelola perpustakaan dapat datang belajar ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan. Kami siap mendampingi agar seluruh desa memiliki perpustakaan yang dikelola dengan baik,” katanya.

Sementara Benediktus Jehano, pengelola perpustakaan Desa Ponggeok yang juga Sekretaris Desa Ponggeok menyampaikan rasa syukur atas penghargaan yang diraih.

“Prestasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan agar semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Benediktus.

TERKINI
BACA JUGA