Larantuka, Ekorantt.com – Perum Bulog Cabang Larantuka mematok harga pembelian pemerintah (HPP) untuk komoditas jagung sebesar Rp6.400 per kilogram di tingkat tapak.
Pimpinan Cabang Perum Bulog Cabang Larantuka, Mustafa Suhut, mengatakan pihaknya telah berhasil menyerap 115 ton jagung yang diperoleh dari Desa Ile Gerong, Kecamatan Ile Boleng dan Tanjung Bunga.
Hingga Mei 2026, kata Mustafa, penyerapan jagung sudah melampaui target yakni 100 ton. Stok jagung di tiga wilayah itu cukup melimpah, terbukti belasan ton untuk per pengiriman.
“Kami selalu siap menjalankan kebijakan pusat. Jagung tetap kami serap dari petani Rp6.400 per kilogram,” kata Mustafa di Larantuka, Selasa, 14 Juli 2026.
Selain jagung, kata Mustafa, Bulog juga menerima suplai beras dengan harga Rp12.000 per kilogram dan gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Ia menilai kualitas hasil panen di Flores Timur sejauh ini tergolong baik.
Penyerapan hasil pertanian oleh Bulog dianggap menguntungkan petani karena harganya tinggi. Hal ini mengacu pada kehadiran Bulog yang bukan hanya sebagai penampung, tetapi menyangga stabilitas pangan daerah.
“Petani kita tidak perlu bingung menjual hasil panen. Bulog selalu siap untuk menampung,” tutur Mustafa.
Mustafa menilai kualitas jagung dan padi Flores Timur tak kalah saing dengan daerah lain. Kadar air dua komoditas ini membuat panen lebih tahan lama dan layak konsumsi maupun pakan.
“Potensinya bisa diandalkan. Jagung dan padi dengan kadar air 14 persen adalah standar yang bagus,” kata Mustafa.
Kendati begitu, masih ada kekhawatiran di tingkat petani. Pasalnya, Bulog mensyaratkan pembelian jagung harus berkadar air 14 persen dan komoditas harus benar-benar bersih.
“Harga Rp6.400 itu bagus sekali. Hanya saja petani takut soal kadar airnya, apalagi kalau bawa jagung ke sana lalu ongkosnya besar, tetapi tidak bisa terjual,” tutur petani di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Fransiskus Gergorius (65) kepada Ekora NTT pada Selasa pagi.
Gergorius menyebut petani Desa Konga belum memiliki sarana yang memadai, termasuk alat pengukur kadar air. Dengan persyaratan yang ada, petani tak langsung menjualnya ke Bulog meski harganya sangat bagus.
Petani, ujar dia, umumnya langsung menjual ke pengepul dan peternak ayam. Harganya Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram. “Mungkin ada jalan keluar ke depan.”
Penulis: Paul Kabelen













