Larantuka, Ekorantt.com – Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto mendorong Pemerintah Kabupaten Flores Timur mempercepat finalisasi lahan untuk pembangunan hunian tetap (Huntap) tahap pertama sekitar 2.702 rumah bagi penyintas Gunung Lewotobi Laki-laki.
Ia menyampaikan hal ini saat tatap muka dan dialog dengan penyintas di Huntara Konga, Kecamatan Titehena pada Jumat siang, 17 Juli 2026.
Suharyanto mengatakan penyiapan lahan merupakan kewenangan pemerintah daerah. BNPB dag Kementerian Perumahan siap membangun huntap secara mandiri maupun terpusat.
Suharyanto menyadari huntap berlarut-larut hingga dua tahun lantaran terkendala kesiapan lahan. Kementerian Perumahan yang berwenang membangun huntap secara terpadu terus menunggu finalisasi lahan oleh pemerintah daerah setempat.
“Menteri Perumahan nunggu, tanahnya sudah pasti (dulu). Penanganan bencana kan tidak bisa satu badan (lembaga) saja. BNPB punya tanggung jawab ini sampai dengan masuk huntara dan rumahnya dibangun di tahan sendiri (relokasi mandiri),” katanya.
Suharyanto memastikan negara tidak akan menutup mata terhadap nasib warga penyintas. Ia pun meminta dukungan semua pihak agar jangan saling menyalahkan. Di sisi lain, ia mengakui setiap kekurangan dan kelemahan pemerintah.
“Penyiapan lahan ini berubah-ubah, jadi memang ini tanggung jawab pemerintah daerah. Pemerintah daerah mulai dari kepala kampung, kepala desa, camat, bupati, dan gubernur,” katanya.
Ia menuturkan BNPB diberikan kewenangan membangun huntap bagi warga yang berkeinginan direlokasi secara mandiri pada lahan sendiri dan dalam radiusnya aman dari zona risiko erupsi Lewotobi Laki-laki.
“Jadi, yang relokasi terpusat itu huntapnya dibangun Kementerian Perumahan. Tetapi kalau bapak, ibu sekalian ingin pindah mandiri, itu yang bangun BNPB,” katanya.
Ia memaparkan BNPB sudah selesai membangun 12 rumah huntap dan saat ini sudah ditempati. Dalam waktu dekat, pihaknya juga membangun ratusan rumah untuk 238 kepala keluarga.
Wakil Bupati Flores Timur, Ignas Boli Uran, memastikan bahwa pemerintah sudah melakukan penetapan lokasi (Penlok) di dua lahan yakni Kuhe dan Todo. Ia berharap secepatnya dibangun perumahan layak huni di dua lahan tersebut.
“Untuk Todo plus Kuhe sendiri, proses penlok sudah. Kita berharap minimal di akhir tahun sudah ada pembangunan 200 lebih rumah,” kata Ignas.
Penulis: Paul Kabelen
Ekora NTT juga memiliki serial liputan bertajuk Setengah Hati Urus Pengungsi Lewotobi yang tayang di Teras.id. Liputan ini merupakan hasil Program Independent Media Accelerator (IMA) 2.0 batch 2, inisiatif strategis oleh Tempo Institute, Teras.id, dan AMSI. Klik di sini!













