Bajawa, Ekorantt.com – Dua warga asal Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada dilaporkan meninggal dunia pada pasca-gempa bumi yang melanda Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada Senin siang, 17 Agustus 2026, mengidentifikasi korban atas nama Geraldus Watu, bayi berusia 10 bulan dari Lengkosambi Barat.
Geraldus meninggal dunia di Puskesmas Riung usai dilarikan dari tempat pengungsian karena sesak nafas.
Korban meninggal dunia lain, seorang lansia bernama Welem Sepa, 79 tahun, berasal dari Tadho Timur. Saat gempa terjadi pada Senin pagi, Welem sempat mengalami benturan akibat reruntuhan bangun, kemudian belum mendapat perawatan yang baik.
“Mungkin karena kurang perawatan, ditambah lagi mungkin udara, lalu kondisi fisik yang sudah tua, lalu kurangnya penanganan karena medis sibuk penanganan sana-sini urus yang lain-lain, maka kemudian tadi dengar kabar meninggal dunia,” kata Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu saat berkunjung ke Riung pada Senin siang.
Kepala BPBD Kabupaten Ngada, Yohanes Ghae menambahkan, sejauh ini, terdapat 34 warga yang mengalami luka-luka, dengan rincian 14 orang alami luka berat, satu orang luka sedang, dan 19 orang luka ringan. Mereka sudah mendapatkan penanganan dari tim medis.
BPBD melaporkan adanya lonjakan jumlah kerusakan fisik akibat gempa Flores. Hingga kini tercatat 2.307 rumah warga mengalami kerusakan, baik ringan, sedang, maupun berat. Hal ini menyebakan 552 kepala keluarga mengungsi. Ada yang mengungsi secara mandiri, ada pula yang menumpang di rumah keluarga.
Gempa juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas umum di Kabupaten Ngada; 85 bangunan sekolah, 55 kantor pemerintahan, 41 unit fasilitas kesehatan, dan 32 gedung ibadat.
Pemkab Ngada, kata Yohanes, mulai menyalurkan bantuan logistik ke sejumlah titik terdampak gempa, seperti Desa Naru, Desa Bowali, Kecamatan Riung, Aimere, dan Riung Barat.
“Kami dirikan posko pelayanan kesehatan sementara di Maronggela, Desa Wolomeze.”













