Modal Sosial Pascagempa Flores

Gempa Flores menggugat sekaligus menggugah. Menggugat karena menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur fisik kita. Menggugah karena menunjukkan betapa kuatnya infrastruktur sosial kita

Oleh: Bonefasius Zanda*

Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.55 WITA. Gempa magnitudo 7,7 menggetarkan Pulau Flores. Dalam hitungan detik, semua sistem yang biasa diandalkan lumpuh. Listrik padam. Jalan retak. Sinyal hilang. Rumah sakit rujukan rusak. Di titik inilah kita diuji sebagai bangsa, bukan oleh pidato, tapi oleh kenyataan.

Masyarakat Flores kini, masih ada orang yang memilih tidur di luar rumah dengan terpal seadanya. Dingin menusuk tulang. Tapi yang lebih dingin dari udara adalah rasa takut karena gempa susulan datang, hampir setiap saat hingga kini.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 10 September 2026 mencatat 136 orang meninggal, dan 56.577 jiwa masih mengungsi. Angka itu kering. Tapi di baliknya, ada dapur umum yang berdiri karena ibu-ibu otomatis berkumpul. Ada beras yang dibagi karena warung tetangga bilang “utang dulu”. Ada tenda dari spanduk bekas yang dipinjamkan. Itulah modal sosial.

Dalam bahasa Robert Putnam, modal sosial adalah jaringan, norma, dan kepercayaan yang membuat orang bisa bekerja sama. Dalam bahasa kami di pengungsian, modal sosial artinya “masih ada yang mau bertanya, sudah makan atau belum?”

Gempa Flores menggugat sekaligus menggugah. Menggugat karena menunjukkan betapa rapuhnya infrastruktur fisik kita. Menggugah karena menunjukkan betapa kuatnya infrastruktur sosial kita.

Sebelum truk bantuan dari pusat tiba, sebelum puluhan ribu paket sembako dan ribuan personel gabungan TNI-Polri dikerahkan, yang pertama bergerak adalah warga. Walau sesama korban dan terkena dampak gempa tanpa pengecualian, namun antar kabupaten, kecamatan, desa se-Flores saling membantu satu sama lain. Tidak ada surat perintah. Yang ada hanya satu kalimat: “Kita sama-sama kena.”

Ini bukti bahwa manusia memang makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri. Apalagi saat bencana. Orang bisa bertahan bukan karena bantuan besar, tapi karena bantuan kecil yang datang tepat waktu. Secangkir kopi. Sepotong roti. Pelukan.

Tapi modal sosial tidak bisa dibiarkan habis pakai untuk bertahan saja. Kalau negara hanya mengandalkan gotong royong lalu berhenti di situ, warga akan kelelahan. Kalau data pengungsi dan kerusakan masih simpang siur antar-desa dan kecamatan, maka bantuan akan menumpuk di satu titik dan kosong di titik lain. Kepercayaan yang hari ini tumbuh bisa runtuh besok.

Karena itu kehadiran negara harus naik kelas. Dari hadir membawa logistik, menjadi hadir merawat kerja-kerja warga. Catat relawan dapur umum sebagai bagian resmi posko. Buka program padat karya tunai. Bayar warga Rp150 ribu per hari untuk membersihkan puing, membangun hunian sementara, dan memperbaiki jalan desa. Itu bukan sekadar gaji. Itu cara menghidupkan ekonomi sekaligus mempercepat pemulihan.

Yang paling mendesak adalah satu data dan transparansi. Tempel di kantor desa: dana masuk berapa, dipakai untuk apa, siapa penerimanya. Buka untuk publik. Transparansi adalah vitamin bagi kepercayaan. Tanpa itu, bantuan sebesar apa pun akan dicurigai.

Prioritas lain adalah layanan dasar. Dua rumah sakit rujukan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng dan RSUD Aeramo, rusak berat. Puskesmas banyak yang retak. Sekolah juga. Anak-anak sekolah butuh tenda darurat sekarang, bukan nanti. Air bersih dan MCK layak harus ada di setiap titik pengungsian. Jangan sampai kita selamat dari gempa tapi kalah oleh penyakit.

Flores tidak meminta dikasihani. Kami hanya minta diperlakukan adil sebagai bagian dari Indonesia. Kami bayar pajak. Anak-anak kami mengikuti upacara bendera setiap Senin.

Negara yang kuat bukan diukur dari banyaknya proyek. Tapi dari kehadirannya saat rakyat menderita. Dan kehadiran itu diuji bukan saat konferensi pers, tapi saat tenda terakhir dibongkar dan warga kembali ke rumah yang lebih layak.

Jika negara mampu merawat modal sosial ini, maka gempa 15 Agustus tidak akan jadi akhir. Dia akan jadi awal. Awal dari Flores yang dibangun bukan hanya dengan semen dan baja, tapi juga dengan kepercayaan.

Karena pada akhirnya, yang membuat masyarakat Flores bertahan bukan hanya beras. Tapi keyakinan bahwa Flores tidak hidup dan berjuang sendirian.

*Penulis adalah pendidik di SMAS Regina Pacis Bajawa

TERKINI
BACA JUGA