Trash Hero MOF, Soal Sampah, Pemerintah Harus Jadi Contoh

Maumere, Ekorantt.com – Trash Hero adalah pahlawan sampah, sebuah yayasan yang berdiri sejak 2013 lalu di Ceko. Saat ini sudah ada di hampir setiap kabupaten di Pulau Flores. Di kabupaten Sikka Trash Hero hadir dengan Trash Hero Chapter Maumere.

Ibu Susi salah satu pahlawan sampah di Trash Hero Chapter Maumere dengan semboyannya we clean, we educated, we changes sejak beberapa tahun lalu ikut memerangi persoalan sampah di Kota Maumere.

Terhitung sudah 163 kali ia dan tim melakukan pembersihan sampah di pesisir pantai hingga fasilitas umum seperti pasar dan jalan dengan jumlah total sampah yang dikumpulkan sampai saat ini seberat 2,7 ton.

Dalam kegiatan pembersihan sampah bersama alumni SMA Negeri I Maumere di Pasar Tingkat Maumere, 3 Agustus 2019 lalu, Ibu Susi menjelaskan, memungut sampah yang bertebaran di Kota Maumere ini memang hal baik namun bukanlah solusi.

Berbicara soal solusi masalah sampah adalah soal sistem dan kebijakan, orang yang melakukan, dan bagaimana pengolahan sampah setelah dipungut dari hulu sampai ke hilir.

iklan

Masyarakat harus berbenah sambil menunggu pemerintah membuat sistem kebijakan serta implementasinya. Secara pribadi masyarakat mesti mulai hemat menggunakan plastik sekali pakai, sebab sampah jenis ini butuh waktu ratusan tahun untuk terurai.

“Bayangkan kita tanpa pikir panjang menggunakan plastik sekali pakai untuk membungkus belanjaan setiap harinya. Jika plastik ini dibiarkan bertebaran dimana-mana, saat turun hujan masalah berikutnya adalah tersumbatnya saluran air atau got dan banjir di sekitar rumah tempat tinggal, pasar, dan jalanan kota,” kata Ibu Susi.

“Sampah-sampah plastik yang lolos dibawa hanyut air hujan akan berkumpul di laut menjadi polusi air,” tambahnya.

Selama kurun waktu 100 tahun, plastik akan berubah menjadi mikro plastik atau plastik kecil, selanjutnya mikro plastik akan dimakan plankton. Sementara plankton adalah makanan ikan-ikan dilaut yang nantinya akan kita beli dari nelayan dan pedagang untuk disantap.

Tidak berhenti di situ, roda masalah selanjutnya adalah penurunan kualitas kesehatan yang berdampak pula pada kualitas hidup masyarakat kita.

“Kita tidak kekurangan orang pintar, kita kekurangan orang peduli,” ucap Ibu Susi. 

Sosialisasi dan edukasi tentang sampah ini bukan hal baru bagi masyarakat. Yang menjadi hal baru adalah merubah kebiasaan.

Sudah berpuluh-puluh tahun masyarakat hidup bergantung pada plastik yang mereka nilai mudah dan murah. Sekali berbelanja keperluan memasak misalnya, ibu-ibu kembali ke rumah dengan membawa plastik bekas bungkus ikan, sayur, serta bumbu-bumbu masak lainnya.

Masalah sampah bukan hanya datang dari pasar ke rumah oleh ibu-ibu, di lingkungan pemerintah misalnya.

Berapa sering aktivitas pemerintah yang ikut menyumbangkan sampah plastik sekali pakai? Dalam rapat atau pertemuan tak jarang para undangan atau peserta rapat disuguhkan makanan atau minuman dengan kemasan plastik.

Hal ini yang juga menjadi perhatian teman-teman di Trash Hero Chapter Maumere tentang bagaimana pemerintah menjadi role model atau contoh masyarakat.

“Kami minta sebagai penentu kebijakan bisa menjadi contoh yang positif tentang masalah sampah yang sama-sama kita perangi saat ini,” tambah Susi.

“Kalau kita belum bisa mengolah plastik itu sendiri sebaiknya kita mengurangi penggunannya.”

Dalam suatu sosialisasi “ngobrol sampah” Trash Hero mengajak anak sekolah, karyawan, pegawai negeri sipil, serta seluruh elemen masyarakat untuk mengurangi konsumsi minuman kemasan plastik dengan membawa sendiri botol air minum dari rumah.

Jika hal ini menjadi kebiasaan, tentu hal baik akan menyambut kita dan anak cucu di masa yang akan datang.

Ati Kartikawati

TERKINI
BACA JUGA