Ruteng, Ekorantt.com – Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai melakukan uji coba mesin pemanen padi combine harvester di kawasan persawahan Lingko Lanar, Desa Pong Leko, Kecamatan Ruteng, Senin, 26 Mei 2026. Penggunaan teknologi modern ini bisa memangkas biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen petani.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai, Ferdy Ampur mengatakan, penggunaan mesin ini lebih efisien ketimbang metode panen manual tradisional.
“Dengan demikian, semakin nyata dan jelas bahwa tujuan kita memberikan alat panen ini untuk membantu para petani,” ujarnya.
Ferdy berharap kehadiran combine harvester dapat menghidupkan kembali minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Teknologi ini dinilai mampu menghapus anggapan bahwa bertani adalah pekerjaan yang selalu identik dengan “kotor” dan “kerja berat”.
“Kita harapkan akan menarik minat orang muda semakin banyak,” tuturnya.
Ia mengakui, dalam satu dekade terakhir pemerintah daerah cukup kesulitan mencari regenerasi petani muda. Ia optimistis gairah ini muncul kembali dengan modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan).
Langkah ini juga sejalan dengan program Petani Milenial yang digagas pemerintah daerah. Ferdy menargetkan para petani yang berusia maksimal 35 tahun dapat diberikan insentif lewat pemanfaatan alsintan modern.
“Bahkan malah lebih jauh dari yang kita tahu. Untuk alat-alat pertanian ini dikelola sendiri oleh orang-orang muda di Kecamatan Ruteng, melalui unit pelayanan jasa alsintan yang masih kita cita-citakan,” kata Ferdy.
“Sehingga alat-alat alsintan ini tidak perlu dibawa dari luar,” tambahnya.
Penggunaan teknologi, menurut Ferdy, membuat sektor pertanian jauh lebih menjanjikan secara ekonomi, khususnya bagi kaum muda. Keuntungan riil pun langsung terlihat dari kapasitas hasil panen yang meningkat signifikan.
“Ada peningkatan hasil dari panen manual itu kira-kira 10-15 persen. Yang dulunya hanya 10 karung, sekarang bisa 12 karung,” paparnya.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak lagi merasa gengsi menjadi petani di era modern ini.
“Saya mengajak teman-teman generasi muda untuk melihat pertanian itu menjadi salah satu sektor yang menjanjikan dan memiliki masa depan,” ajak Ferdy.
Petani setempat, Leon Damar (35) mengakui bahwa pemanfaatan mesin pemanen ini jauh lebih praktis serta menghemat waktu dan biaya.
Berdasarkan pengalamannya terdahulu, Leon harus mengeluarkan biaya hingga lebih dari Rp1 juta rupiah setiap kali musim panen tiba. Biaya bisa membengkak bila panen terjadi saat musim hujan.
“Ketika menggerakkan alat ini, waktunya tidak sampai 30 menit selesai.”
Pemanfaatan teknologi, kata Leon, jadi kunci utama untuk menarik minat orang muda agar kembali mengolah lahan pertanian.
“Karena untuk menggunakan alat-alat tradisional sudah tidak zaman lagi, maka kita harus mengaktifkan,” sebutnya.
Ia beralasan, keengganan orang muda untuk bertani disebabkan oleh sistem pengolahan dan peralatan yang masih tradisional.
“Tetapi dengan kehadiran alat-alat pertanian modern seperti ini, bisa menarik pertanian muda ke depannya,” kata Leon.













