Ketua Kelompok Karya Ibu, Maria Fransiska Mei

Ende, Ekorantt.com – Warga Detukeli-Ende memiliki tradisi menganyam yang tetap terawat hingga sekarang ini. Kaum ibu di kampung-kampung terampil meracik produk anyaman dengan berbagai macam varian.

Nahasnya, keterampilan mereka ini tidak memberikan jaminan secara ekonomi karena terkendala pemasaran purnaproduksi.

Tak heran kalau semangat mereka perlahan-lahan kendur. Lebih baik mencari rezeki dari pekerjaan lain daripada terus menganyam tapi tidak mendatangkan keuntungan apa-apa.

“Usaha anyaman ini kami buat untuk diwariskan kepada anak cucu, sudah hampir punah ketrampilan anyaman karena perkembangan zaman,” tutur Maria Fransiska Mei kepada Ekora NTT di Ende pada akhir Agustus lalu.

Mama Meri, demikian ia disapa, adalah ketua Kelompok Karya Ibu yang sehari-hari memproduksi kerajinan anyaman di Kampung Detuboro, Desa Watunggere, Kecamatan Detukeli, Kabupaten Ende. Mereka menghasilkan berbagai macam jenis anyaman seperti Rembi (tas laki-laki),Busa (tas perempuan), Wati (tempat menyimpan siri pinang), Te’e (tikar), Benga (bakul).

Kelompok Karya Ibu beranggotakan 21 orang. Rerata usia mereka di atas 40 tahun. Walau sudah lima tahun menjalankan aktivitas pengembangan anyaman ini, Pemkab Ende belum mendukung usaha kreatif ibu-ibu ini untuk dijadikan salah satu destinasi penyangga wisata sejarah perkampungan adat pahlawan Marilonga.

“Selama ini kami hanya nimbrung jika ada kegiatan keagamaan atau kunjungan pejabat Pemda. Kami promosi seadanya, dan jika ada yang membeli itu pun dalam jumlah kecil,” keluh Mama Meri.

Menurutnya, mereka sudah berusaha bertemu dengan pihak Pemkab Ende melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ende untuk meminta bantuan dalam memasarkan produk kerajinan. Namun hingga kini belum ada tanggapan sama sekali.

Menurutnya, kerajinan anyaman ini dibuat untuk menjaga warisan budaya yang sangat bernilai.

“Bisa juga dijadikan oleh-oleh atau buah tangan bagi wisatawan yang datang ke Detukeli,” katanya.

Tokoh Masyarakat Desa watunggere, Marselinus Tote meminta Pemkab Ende melalui dinas terkait untuk mendukung Kelompok Karya Ibu yang ada di desanya.

“Ini aset yang mahal pak. Selain bernilai budaya mereka juga belajar berusaha dalam kelompok sehingga mudah dalam pengembangan,” pungkas Marsel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here