Anggota DPRD Ende, Mahmud Djgha meninjau Pasar Wolowaru Kabupaten Ende akhir Agustus 2019 lalu

Ende, Ekorantt.com – Aktivitas jual beli di sejumlah pasar kecamatan di Kabupaten Ende seringkali dikritik, termasuk Pasar Wolowaru. Kritik ini mengarah pada kondisi pasar yang semrawut. Kemomos dan jorok. Ini sudah menjadi permasalahan klasik.

Semrawutnya Pasar Wolowaru berkenaan dengan penataan pasar yang tidak rapi. Belum lagi unsur sanitasi pasar yang jauh dari kata bersih.

 Area parkirnya juga tidak tertata baik sehingga kendaraan diparkir sesuka hati. Yang lebih parah lagi adalah kondisi pasar yang padat atau over kapasitas hingga penggunaan ruas jalan utama untuk aktivitas jual beli.

Pekan lalu Ekora NTT berkesempatan mengunjungi Pasar Wolowaru bersama wakil rakyat dari partai Demokrat, Mahmud Djegha yang berkesempatan meninjau Pasar Wolowaru.

Para pedagang mengeluh dan meminta agar lokasi pasar ditata lebih baik dan teratur termasuk memperbaiki ruas jalan di sekitar lokasi pasar. Ada juga yang berharap penambahan beberapa los untuk para pedagang.

Penjual ikan di Pasar Wolowaru, Adnan Sao mengakui kondisi Pasar Wolowaru masih jauh dari yang diharapkan. Karena itu, ia meminta Pemkab Ende untuk menatanya lebih baik lagi.

“Pasar ini (Wolowaru) dapat ditata menjadi lebih baik termasuk tempat parkir untuk kendaraan, manajemen yang teratur sesuai jenis jualan. Termasuk tanggung jawab soal kebersihan pasar yang belum diperhatikan secara serius meski ada retribusi pasar,” tutur Adnan.

Senada dengan itu, Ahad Said mengaku prihatin dengan kondisi pasar Wolowaru. Pihaknya juga memandang bahwa manajemen pengelolaan pasar terkesan tidak tegas dan mengabaikan hak-hak para penjual dan pedagang kecil.

“Kami minta infrastruktur dan fasilitas jualan yang layak bagi pedagang kecil. Kami minta ketegasan pemerintah daerah melalui dinas perindustrian dan perdagangan Kabupaten Ende, juga pemerintah wilayah setempat agar mempertegas aturan mengenai pelaku pasar,” tandas Ahad.

Sejauh yang ia amati selama ini, situasi pasar lebih ramai di pinggir jalan umum ketimbang di area pasar.

“Kami minta ketegasan dari para petugas pasar untuk menertibkan para pedagang di pinggir jalan umum. Juga mempertegas aturan bagi para pedagang besar dari luar kabupaten yang sering menentukan harga seenaknya. Jika tidak dipertegas, maka para pedangan kecil akan terus ditindas oleh pedagang besar,” pungkasnya.

Sementara Anggota DPRD Kabupaten Ende, Mahmud Djegha kepada Ekora NTT mengatakan, agenda kunjungan tersebut sebagai bagian dari fungsi pengawasan.

“Hari ini bertepatan dengan hari pasar Wolowaru sehingga saya memutuskan untuk meninjau kondisi pasar dan mendengar langsung keluhan dan harapan masyarakat yang menjadi pelaku usaha,” kata Bento, begitu wakil rakyat yang satu ini biasa disapa.

Bento mengakui, keluhan dan harapan masyarakat mesti dikaji dan ditindaklanjuti. Ia berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan  pemerintah demi mengurai persoalan di Pasar Wolowaru.

“Prinsipnya, kita mendengar dan menyerap langsung keluhan dan harapan masyarakat. Ada keluhan soal penataan infrastruktur jalan dan fasilitas pasar, keluhan soal manajemen, kebersihan, juga pelayanan kesehatan melalui BPJS dan Kartu Indonesia Sehat (KIS),” terangnya.

Bento berkomitmen untuk terus menyerap aspirasi masyarakat dan akan berkoordinasi dengan pemerintah maupun pemimpin wilayah untuk bersama-sama mencari solusi terkait keluhan, persoalan dan harapan masyarakat.

“Pengawasan seperti ini akan terus dilakukan terutama di beberapa titik yang menjadi akses pelayanan publik, baik di pasar-pasar, rumah sakit atau Puskesmas, juga tempat umum lainnya yang harus menjadi fokus perhatian. Prinsipnya, ini adalah data primer dari kondisi riil yang kita temukan di lapangan,” ujar Bento.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here