Ilustrasi (Sumber: hellosehat.com)

Ende Ekorantt.com – Harga cengkeh di Kabupeten Ende mengalami penurunan. Bahkan, nilai penurunannya sangat mencolok dan sempat turun hingga 50 persen.

Hal ini tentu saja membuat petani sedih dan tak berdaya. Bagaimana tidak? Banyak petani yang menaruh harapan hidupnya pada hasil cengkeh musim panen tahun 2019 ini.

Frans Rema, petani cengkeh di Desa Watumite, Kecamatan Nangapanda Kabupaten Ende menuturkan, selama tiga bulan terakhir harga cengkeh kering berkisar pada Rp50.000 sampai Rp65.000 per kilogram.

Angka ini turun kalau dibandingkan dengan harga pada akhir tahun 2018 hingga pertengahan 2019.

Sebelumnya harga cengkeh kering berkisar antara Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogramnya.

Dengan harga yang tidak bersabahat ini, kata Frans, dirinya terpaksa harus menjual cengkeh karena didesak oleh kebutuhan hidup sehari-hari dan pendidikan anak-anak.

“Kami petani merasa dampak langsung karena biaya sewa petik juga tinggi. Sedih. Semua pada mengeluh karena biaya produksi mahal,” ujarnya.

Petani lainnya,Nikolaus Jea prihatin dengan anjloknya harga cengkeh di pasaran.

Berdasarkan pengalamannya, baru kali ini harga cengkeh turun drastis hingga mencapai separuh harga biasanya.

“Tahun ini harga cengkeh sangat turun. Kami tidak bisa buat apa-apa,” ujar Nikolaus.

Ia berharap, harga cengkeh kembali normal seperti harga sebelumnya.

Kepala Desa Watumite, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Kristoforus Aryanto Dei Siu menjelaskan, petani di desanya benar-benar merasakan dampak turunnya harga komoditi cengkeh

“Saya minta pemerintah segera mengambil langkah untuk pengendalian terhadap harga komoditi perdagangan,” tegasnya kepada wartawan pada acara Bursa Inovasi Desa di Nangapanda beberapa waktu lalu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here