Elisa Fahmi

Maumere, Ekorantt.com -Namanya Elisa Fahmi. Biasa disapa Bidan Fahmi. Bertugas di UPT Puskesmas Teluk Maumere, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Bekerja di wilayah gugusan pulau-pulau kecil seperti Parumaan, Pulau Besar sampai Semparong, Fahmi senantiasa berhadapan dengan medan berupa gelombang lautan.

Apalagi ketika harus merujuk pasien ke RSUD TC Hilers Maumere. Satu-satunya sarana adalah perahu motor.

“Kami yang bertugas di wilayah pulau hanya mengandalkan perahu motor dalam upaya merujuk pasien kalau memang harus butuh perawatan lebih lanjut”.

Fahmi punya kisah-kisah unik nan getir ketika harus berhadapan dengan gelombang laut yang tak bersahabat.

Menurutnya suatu waktu ketika merujuk pasien,  kapal macet akibat hantaman gelombang besar dan semua penumpang dalam perahu motor  harus terapung dulu di tengah laut menunggu kapal jemputan.

Pasiennya seorang ibu hamil sudah sangat kesakitan dan mau melahirkan. Dalam suasan demikian yang ada hanya pasrah dan berdoa.

“Puji Tuhan, kapal jemputan tiba juga dan pasien tertolong. Si ibu tadi melahirkan dan bayinya sehat.  Saking serunya menantang badai anak yang lahir diberi nama Badai oleh ayahnya,” kata Fahmi sambil tertawa.

Kisah unik lainnya harus menjemput seorang ibu yang hendak melahirkan di kebun pada malam hari. 

“Malam itu suami pasien datang ke Polindes menyampaikan bahwa istrinya sudah mau melahirkan tetapi istrinya tidak ikut. Ketika saya tanya sang suami mengatakan ia bersama istrinya tinggal di kebun,” tuturnya.

Malam itu juga, ia berjalan kaki melintasi hutan dan gelapnya malam dari Polindes ke kebun berjarak tiga kilometer.

“Ketika saya memeriksa keadaan ibu ternyata masih pembukaan dua centimeter dan ibunya masih bisa jalan sehingga perhitungannya bisa melahirkan di Polindes. Tetapi karena jaraknya terlalu jauh ketika mendekati Polindes ketuban pecah. Akhirnya kami menggendong ibu masuk ke Polindes,” tuturnya lagi.

“Seandainya tidak cepat pasti ibu melahirkan di hutan. Namun Tuhan membantu kami sehingga ibu dan bayi selamat. Esok harinya suami dari si ibu tadi membawa kelapa 1 subur sebagai ucapan terimakasih,” Bidan Fahmi menambahkan.

Menurut Fahmi sepuluh tahun mengabdi di wilayah gugusan pulau-pulau kecil adalah kisah yang dilewatinya dengan sukacita sekalipun harus tinggal terpisah dari suami dan anak-anaknya yang tinggal di Kota Maumere.

Menjadi seorang bidan baginya adalah profesi yang mulia dan serentak penuh dengan tantangan. Ia percaya bahwa tugas mulia yang dijalaninya membawa kebahagiaan batin tersendiri.

Alumni Akbid UIT Makasar ini mengungkapkan kegembiraan  lain yang dinikmatinya dalam tugas adalah ketika matanya selalu dimanjakan dengan panorama indah lewat laut yang membiru dan manjanya riak-riak gelombang.

Tak lupa ia juga terkesan dengan keakraban yang terjalin bagus antar pimpinan dengan para petugas kesehatan yang sama-sama mengabdi di wilayah kepulauan ini. Salut Bidan Fahmi.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here