Magdalena Azi

Ende, Ekorantt.com – Di bawah sorot lampu Stadion Marilonga Ende, wanita paruh baya itu hilir mudik di tribun. Ia seolah-olah tak menghiraukan euforia penonton yang sedang mendukung tim kebanggaan mereka.

Keranjang jualan terpacak di bagian perutnya dengan tali yang menggantung di leher. Tas hitam kusam menempel silang dari bahu kanan ke sisi kiri badannya.

Di dalam keranjang ada rokok, keripik pisang, biskuit, kacang tanah, air mineral dan beberapa plastik kecil berisi jagung manis.

Ia naik turun tribun dan nenawarkan barang jualannya kepada penonton yang tengah menyaksikan pertandingan. Saat lelah, ia duduk. Memilih untuk istirahat sejenak. Tapi pandangannya tetap berkeliaran kemana-mana.

Tatapannya tajam dengan bola bata yang agak tenggelam ke dalam. Hanya beberapa saat saja, ia bangkit. Berdiri. Berjalan lagi dengan langkah yang ringkih.

“Mau rokok ka. Atau air minum,” dengan lihai ia menawarkan barang jualan kepada kami yang baru saja meletakkan pantat di lantai tribun penonton Stadion Marilonga, 12 Oktober lalu.

Ia nampak jeri saat kami memintanya untuk memperkenal diri. Ia malu. Tapi kemudian ia berbincang lepas dengan kami.

“Magdalena Azi,” demikian ia menyebut namanya.

Ia menuturkan, sejak bergulirnya Soeratin Cup di Ende, dirinya dan beberapa penjual keliling yang lain mencari peruntungan di tengah hiruk pikuk dan meriahnya turnamen yang mempertemukan tim sepak sepak bola U 17 dari 15 kabupaten/kota di NTT ini.

“Sejak pembukaan kami sudah jual di sini. Setiap sore, saya datang dari Ipi,” katanya.

Ia rela berjalan kaki dari kediamannya di daerah Pelabuhan Ipi menuju ke Stadion Marilonga. Bagi orang kebanyakan mungkin rutinitas ini cukup melelahkan. Namun tidak bagi Mama Magdalena. Ia harus pergi ke Marilonga. Sejumput rezeki telah menantinya di sana.

Sesampai di stadion, ia menjajahkan barang dagangan, berharap ada yang membeli.

Soal pendapatan, tergantung jumlah penonton yang hadir di stadion. Ia bisa memperoleh pendapatan 300 ribu rupiah sehari. Paling rendah 50 puluh ribu rupiah.

“Kalau Perse yang main pasti penonton banyak sekali. Pasti kami bisa dapatkan hasil yang besar. Tapi hari-hari lain, kalau Perse tidak main, penonton sedikit saja. Yang laku juga sedikit saja,” ungkapnya.

Usai pertandingan terakhir setiap malam, ia tidak lekas pulang. Bersama penjual yang lain, ia membersihkan sampah yang bertebaran di tribun penonton.

Mereka harus membersihkan tribun stadion sebagai bentuk kompensasi karena diizinkan untuk berjualan di dalam stadion.

Sehari-hari, ibu enam anak ini berjualan makanan ringan di kapal. Bersama para penjual yang lain, ia menjajahkan barang dagangannya saat kapal sandar di Pelabuhan Ipi dan Pelabuhan Ende.

Sudah hampir 25 tahun ia menekuni pekerjaan ini. Darinya, ia bisa menafkai keluarganya yang menetap di Ipi, Kelurahan Tetendara, Kecamatan Ende Selatan.

Bahkan, beban hidup keluarga ada pada pundak perempuan kelahiran 59 tahun silam ini. Suaminya, Yohanes Lana, 57 tahun, tak bisa bekerja karena sakit.

“Saya tulang punggung keluarga. Saya cari uang untuk makan minum, sekolah anak-anak dan cucu. Saya cari juga uang jajan untuk mereka,” tuturnya polos.

Pasang surut dalam usaha menjadi sesuatu yang tak bisa dielakkan. Besar kecilnya keuntungan tergantung pada ramai tidaknya penumpang kapal.

Ia bilang, kalau ramai ia bisa meraup pemasukan 600 ribu rupiah per hari. Kalau sepi, syukur-syukur kalau dapatkan pemasukan sebesar 200 ribu rupiah.

“Kalau untung besar, saya dapatkan saat musim libur. Penumpang pasti banyak. Kalau datang sepinya, kita hanya dapat untung sedikit,” urai Mama Magdalena.

Kapal tidak sandar setiap hari di Pelabuhan Ipi dan Pelabuhan Ende. Karena itu, saat kapal belum sandar, ia memanfaatkan waktu untuk berjualan keliling di Pasar Ende.

Ia bisa bernafas lega manakala barang dagangannya terjual habis. Kadang-kadang ia tertunduk lesuh bisa pendapatan tak sesuai dengan yang diharapkan.

“Saya putus asa juga. Tapi mau bilang apa. Saya pasrah saja. Saya berserah pada Tuhan saja,” ujarnya.

Untuk memperlancar usaha, Ia meminjam uang di koperasi. Hal itu sedikit membantunya.

“Ya, tapi harus gali lubang, tutup lubang,” ujarnya singkat, menggambarkan caranya berutang untuk menutup utang yang lain.

Ia juga pernah diminta untuk menyiapkan berkas sebagai persyaratan untuk mendapatkan bantuan dari salah satu program pemerintah. Entah karena alasan apa, bantuan tidak pernah datang-datang.

“Saya ngamuk. Orang lain yang mampu dapat tapi kami tidak,” ujarnya singkat.

Mau bilang apa. Toh, ia tetap ngotot bekerja. Selain menafkai keluarga, ia juga membiayai pendidikan anak-anaknya. Seorang anaknya telah menjadi guru, seorang lagi sedang mengenyam pendidikan di universitas dan yang satu lagi masih di bangku sekolah menengah atas. Demi mereka, ia tetap berjuang hingga detik ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here