Maumere, Ekorantt.com – Sore itu, Bapa Ruben tampak segar. Ia baru saja menyelesaikan istirahat siangnya ketika saya datang. Televisi di depannya menyiarkan siaran berita, yang selalu ditukar-tukar dengan sinetron India oleh salah satu cucunya. 

Kami duduk di sofa, di teras rumahnya. Saling menyapa kabar dan bertukar cerita. Tak lama berbasa-basi, obrolan kami berubah serius. 

Sore itu, kami membahas masalah ekonomi. Lebih tepatnya bapa Ruben bercerita kepada saya tentang pengalamannya berkoperasi. Juga soal The Ma’ruf Amin Way, buku tentang visi ekonomi kerakyatan Wakil Presiden Indonesia saat ini. Menurutnya, buku itu sangat inspiratif. Isinya sangat cocok diterapkan di Indonesia, bahkan Maumere. 

Bapa Ruben adalah salah satu pegiat koperasi. Sejak pensiun, ia berinisiatif menjalankan beberapa usaha. Mulai dari kios kecil-kecilan, hingga membantu anak dan istrinya mengembangkan bisnis catering. Menurutnya, usia tidak boleh menghalangi orang menjadi kreatif, termasuk kreatif meningkatkan penghasilan untuk menghidupi masa tua. 

“Saya jadi anggota koperasi sudah lama. 2014, saya daftar lagi jadi anggota Nasari. Berarti sudah lima tahun konsisten menjadi nasabah di koperasi ini.”

Menurut Bapa Ruben, menjadi anggota koperasi itu baik. Koperasi membantu masyarakat menata ekonomi mereka. 

“Saya masuk di Nasari karena pelayanan Nasari bagus dan mereka cukup fokus melayani para pensiunan. Tidak banyak yang mau ambil risiko bermitra dengan orang tua. Padahal bermitra dengan orang tua memberi satu keuntungan lain. Orang tua tidak mungkin sembarang menggunakan uang. Koperasi sangat membantu entah di saat kita membutuhkan, atau ketika kita ingin buka usaha di masa tua. Pelayanan mereka cepat dan tepat guna.”

Ketika ditanya apakah tidak ada hambatan berinvestasi di masa tua, Bapa Ruben dengan enteng menjawab, kalau kita fokus dan menata usaha tanpa neko-neko, disiplin dan tertib dengan urusan keuangan dari usaha yang kita bangun, semuanya pasti berjalan baik. 

Sejauh pengalaman bapa Ruben, ia tidak menemui hambatan yang berarti dalam mengakses maupun mengangsur pinjaman. 

“Kalau telat bayar, itu biasanya bukan karena kita tidak mau bayar, tetapi karena proses bank yang lama, atau kita lupa. Kalau kita telat, biasanya tidak ada sanksi. Malah dengan senang hati mereka sampaikan. Mereka biasanya terima alasan-alasan itu. Bahkan, kalau kita minta pinjam lagi, responsnya begitu cepat.”

Menurutnya, salah satu keuntungan berkoperasi adalah relasi yang dibangun antar anggota, hingga antara anggota dan pengurus terjalin dalam nuansa kekeluargaan. Ada rasa saling percaya di antara para anggota dengan para pengurus. 

“Ada bank atau koperasi yang sulit memberi pinjaman untuk orang tua seperti kami, para pensiunan. Itu mungkin agak keliru. Tapi di beberapa koperasi, misalnya Nasari yang saya ikut jadi anggota ini, mereka memberi kepercayaan kepada para pensiunan untuk berinvestasi. Manfaatnya bagus sekali. Mereka juga bantu mengarahkan kami. Akhirnya kita juga jadi seperti keluarga.”

Untuk konteks yang lebih luas, menurut Bapa Ruben, menata ekonomi melalui koperasi sudah seharusnya dilakukan oleh masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Di Maumere, sebagian besar interaksi ekonomi itu berlangsung di kalangan kelas menengah ke bawah mulai dari pengusaha-pengusaha rumah tangga, nelayan, petani, dan lain-lain. 

Meski demikian, menurutnya, kelompok-kelompok ini tidak punya modal yang besar sehingga selalu kalah saing. Untuk itu, koperasi menjadi wadah yang baik untuk membantu menata ekonomi masyarakat kecil ini. 

Ia teringat pada buku The Ma’ruf Amin Way. Menurutnya buku ini punya visi yang bagus bila diterjemahkan secara nyata dalam hidup sehari-hari.

“Pesan di buku itu bagus sekali. Dia omong soal ekonomi kerakyatan. Bagaimana memberdayakan masyarakat kelas menengah ke bawah yang sulit sekali berkompetisi karena selalu kalah saing dalam hal modal.”

Buku The Ma’ruf Amin Way ditulis oleh Sahala Panggabean dan Anwar Abbas. Buku ini berisi pemikiran ekonomi yang dilontarkan Ma’ruf dalam berbagai kesempatan. Buku ini baru saja diluncurkan pada 3/10/2019.

Menurut buku tersebut perekonomian Indonesia haruslah berlandaskan semangat perekonomian arus bawah.  Ada empat pilar penting yang perlu ditanamkan dan diperhatikan dalam membangun perekonomian arus bawah, antara lain kemitraan, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dan permusyawaratan perwakilan serta gerak ekonomi bottom-up.  

Dalam salah satu wawancara bersama Metro TV, Ma’ruf Amin sendiri menjelaskan, prinsip ini diperlukan untuk mengurangi disparitas antar golongan dalam masyarakat, mengusahakan redistribusi aset, menjamin akses masyarakat  ke lahan dan akses sumber-sumber ekonomi untuk rakyat kecil. 

Ketika ditanya, apakah visi ini tidak terlalu muluk, Bapa  Ruben menjawab, “harusnya tidak. Kalau koperasi mau konsisten dan tidak neko-neko pasti bisa terwujud, karena ini sangat sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi. Koperasi harus mulai berpikir untuk buka cabang di daerah-daerah terpencil. Berdayakan orang lokal. Jangan pakai orang-orang dari luar. Dan harus fokus pada rakyat, bukan pada kesejahteraan pengurus. Disiplin, jujur dan tidak usah neko-neko.

Beberapa kali Bapa Ruben mengulang kata neko-neko, karena menurutnya banyak koperasi yang akhir-akhir ini sudah lupa asas-asas dan prinsip-prinsip dasarnya.

“Kalau perlu harus ada menteri dari orang koperasi. Karena mereka yang lebih paham ekonomi kerakyatan dan lebih punya pengalaman bekerja dengan masyarakat kecil. Kita orang timur banyak pegiat koperasi. Karena saya anggota Nasari jadi saya setuju kalau ada orang dari manajemen Nasari yang jadi menteri. Top manajemen-nya atau siapa pun.”

Sore itu percakapan kami terhenti. Bapa Ruben harus mengantar anaknya ke sekolah. Ia beranjak dari sofa dan mendorong sepeda motornya, sambil berpesan kepada saya supaya jangan dulu pulang. Ia telah menyiapkan kopi sore spesial. Mudah-mudahan bisa menenangkan pikiran selepas obrolan serius tadi. (eka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here