Foto: viu.com

Maumere, Ekorantt.com – Miu Mai. Film pendek ini disutradarai oleh sutradara muda asal Maumere, Eka Putra Nggalu.

Film pendek tersebut berhasil meraih penghargaan kategori Best Short Form Content dari Indonesia di Asian Academy Creative Award 2019 yang diselenggarakan di Singapura.

Karya film pendek bertema Urban Legend ini mengambil Tung Piong sebagai ide cerita.  

Piong bagi orang Krowe merupakan ritual penghormatan arwah leluhur dengan memberi makan kepada mereka yang telah meninggal dunia.

Biasanya, ritual ini ditempatkan di sudut rumah dengan menaruh sedikit makanan dan minuman.

Masyarakat percaya bahwa makanan tersebut akan secara tak kasat mata dimakan oleh arwah leluhur.

Selain sebagai momen peringatan, Piong adalah cara untuk memohon perlindungan dari para leluhur.

Pendekatan dalam film ini adalah realisme magis di mana praktik Piong sebenarnya syarat akan aura magis ketika memberi makan orang yang telah meninggal.

Namun, Piong dilakukan sebagai ritual yang tidak ribet di tengah arus globalisasi yang sangat kuat saat ini.

Hal ini menjadi warisan budaya yang turun temurun dan masif dilakukan, bahkan oleh masyarakat modern di Maumere.

Proses garapan film ini terbilang cepat, mulai dari workshop sampai produksi hanya dilakukan dalam sepuluh hari pada Desember 2018 lalu dengan dimentori langsung oleh pegiat teater Tulik dan Bani Nasution.

Tika Solapung, artis dalam film “Miu Mai”, sedang memerankan salah satu adegan dalam film yang disutradarai oleh Sineas Muda Eka Putra Nggalu. Foto: youtube.com

Eka yakin betul, secara teknis, garapan mereka akan sangat sulit mengalahkan film-film Hollywood dengan segala kecanggihannya.

Namun, beruntung, modal emas anak muda Maumere ini adalah budaya itu sendiri.

Itulah mengapa nominasi best content pantas disematkan untuk karya Miu Mai.

Dengan torehan prestasi yang anti mainstream ini, anak muda Maumere ingin mengatakan bahwa NTT (Nanti Tuhan Tolong) sangat bisa menolong dirinya sendiri.

Dari keterbatasan ruang ekspresi, finansial, dan banyak lagi hal lain yang mengekang gerak maju, anak muda membuktikan mereka bisa, kita bisa. 

Maumere dengan kekayaan budaya yang melimpah bisa berkontribusi secara pemikiran dan gagasan dalam percakapan budaya tingkat nasional bahkan internasional.

Kerja seni teater dan film tidak lepas dari pemikiran dan kerja tim.

Karya seni film pendek Miu Mai dibuat dengan melibatkan banyak anak muda di Maumere baik dari lingkungan kampus, komunitas, maupun pegiat seni.

Prestasi dan pelibatan ini menunjukkan, sudah saatnya pemerintah mengambil langkah yang lebih progresif terkait kebudayaan.

Sangat disayangkan ketika pemerintah memfokuskan kebudayaan hanya pada hitung-hitungan profit, sementara pada dasarnya kebudayaan itu soal benefit atau manfaat bagi subjek yang melekat, yaitu pembangunan SDM, pengembangan kualitas, dan profesionalitas.

Eka berharap agar pemerintah serius menjaga kebudayaan.

“Saya berharap, Kabupaten Sikka punya Dewan Kesenian atau platform yang menghimpun dan menghasilkan kebijakan kebudayaan, transparansi distribusi anggaran kebudayaan, dan sebagai akses bagi siapa pun untuk menawarkan program atau kegiatan mereka berhubungan dengan kebudayaan,” ucapnya.

Miu Mai, yang bersinar di kancah internasional, tentu akan memantik semangat anak muda untuk berkarya di tengah keterbatasan.

Aty Kartikawati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here