Kosmas Dua dan Maria Mimpiana

Maumere, Ekorantt.com – Namanya Kosmas Dua. Tinggal di RT 20/RW 06, Keluarahan Waioti, Maumere, Kabupaten Sikka. Pria berusia 66 tahun ini buta total sejak tahun 2005.

Sejak divonis dokter menderita terkena penyakit gula dan membuatnya buta, Kosmas awalnya pasrah dan tak bekerja. Rencana awal untuk operasi mata tak jadi kenyataan karena terbentur biaya.

Pasrah di rumah dan tak bekerja ternyata memengaruhi pendapatan ekonomi keluarga dan juga pendidikan anak-anak.

Setelah tahun sebelum-sebelumnya berprofesi sebagai pekerja serabutan dan penjaga gudang, Kosmas nekad menjadi pemulung sekalipun buta.

“Saya sudah hafal jalan dan tempat-tempat di kota Maumere jadi saya pake rasa saja. Saya nekad bekerja agar kami sekeluarga bisa makan”, tutur Kosmas.

Aktivitasnya sejak tahun 2005 adalah setiap pagi pukul 05.30 WITA adalah  menyusuri jalan dan lorong-lorong di Kelurahan Waioti dan kota Maumere hanya untuk memungut barang rongsokan seperti kardus, botol kemasan plastik dan aneka sampah yang bisa dijual kembali.

Kosmas tidak pernah khawatir terjadi bahaya yang mengancam seperti ditabrak kendaraan.

Ia akan dengan setia melintasi toko Batu Gajah, Roxy dan depan toko Rejeki Express hanya untuk memungut barang-barang ronsokan tadi.

“Ketika ada tanda lalu lintas lampu merah dan semua kendaraan berhenti saya berusaha menyeberang. Jika tidak bias, saya selalu berusaha meminta bantuan,” katanya.

Dirinya pun bersyukur karena selalu ada orang yang membantu untuk menyeberanginya.

Setiap hari rutinitasnya dimulai saat keluar dari rumah pukul 05.30 dan akan kembali dengan sejumlah barang rongsokan di pundak pada pukul 11.00 WITA.

Maria Mimpiana, istri dari Kosmas Dua mengaku pasrah pada keadaan yang menimpa suaminya. Setiap hari ia ikut membantu suaminya memilah aneka barang rongsokan dan mengepaknya untuk dijual.

“Lumayanlah dari sampah kami bisa dapat uang Rp 300-400 ribu setiap dua atau tiga bulan. Selain mengepak barang-barang ronsokan, saya menjual sayur dan tomat untuk tambah-tambah penghasilan,” ujar Maria.

Dirinya mengaku tetap bersyukur dan berharap ada  bantuan dari Pemerintah untuk biaya pendidikan anak-anaknya.

“Anak kami ada lima orang. Ada dua yang sudah tamat SMA dan tiga lainnya masih bersekolah. Semoga ada bantuan beasiswa untuk anak-anak kami. Kami juga setiap hari konsumsi air asin dari sumur jadi semoga ada bantuan untuk kami,” demikian harapan Kosmas Dua dan Maria Mimpiana.

Badai kehidupan yang menerpa pasutri sudah dijalaninya selama 14 tahun. Bagi Mimpiana, pahitnya hidup yang dialami tidak pernah membuatnya putus asa.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here