Bajawa, Ekorantt.com – Rofinus Rewu (52) sibuk membersihkan gulma dan rumput di kebun hortikultura yang berlokasi di Desa Sobo, Kecamatan Golewa Barat, Kabupaten Ngada pada Senin, 20 April 2026. Tangannya lincah meraih rumput liar, lalu dicabut dan dibuang di sekitar bedeng.
Di atas tanah seluas setengah hektare itu, Rofinus menanam sawi, wortel, dan cabai. Ia tak menanam satu jenis tanaman saja.
“Meskipun lahan terbatas tapi bisa tanam lebih dari satu jenis tanaman,” ujarnya.
Rofinus berkebun hortikultura selama hampir 10 tahun. Ia sudah melewati jatuh bangun usaha dan kini ia memiliki tiga bidang lahan dikelola secara mandiri bersama istrinya Maria Bupu Lele.
Ia menuturkan, usahanya berjalan lambat di tiga tahun awal. Hal itu terjadi karena kekurangan modal. Namun, sejak mengakses modal di Kopdit Obor mas pada 2019, usaha hortikulturanya berjalan lancar.
Motivasi awal dia bergabung menjadi anggota koperasi yakni untuk menabung. Sebagian pendapatan ia sisihkan untuk disimpan di koperasi. “Waktu itu saya berpikir hanya menabung saja, belum pinjam,” katanya.
Rofinus kemudian sadar bahwa butuh modal untuk memperluas skala usaha. Bak gayung bersambut, manajemen Kopdit Obor Mas menyanggupi permohonan pinjaman yang ia ajukan.
Dengan modal yang ada, ia mengembangkan 6 ribu tanaman sayur, cabai, dan wortel di tiga lahan kebun. Ia memanen hasil yang melimpah setelah melewati proses perawatan yang melelahkan.
“Puji Tuhan saat itu ada pedagang yang datang beli langsung di kebun. Dia borong semua, itu yang membuat saya semangat,” ujarnya.
Musim demi musim Rofinus lewati dengan hasil panen yang bikin hati senang. Ada kebahagiaan yang diraih dalam setiap langkah usaha itu.
Tak berhenti di situ. Rofinus mengakses pinjaman di Kopdit Obor Mas untuk membeli mobil pikap. “Karena selama ini, kalau mau ke angkut hasil, saya pakai pikap orang dan biayanya cukup mahal.”
“Yang jelas kehadiran koperasi ini sangat membantu kami petani kecil, apalagi ini koperasi ada kredit usaha rakyat (KUR),” katanya.
Dalam sekali panen, Rofinus meraih omset puluhan juta. “Kalau bersih biasanya di angka belasan juta.”
Sebagian pendapatan usaha dipakai untuk biaya pendidikan kedua anaknya yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah menengah atas. Sementara yang lain digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan tabungan di Kopdit Obor Mas.
“Kita tabung supaya aman. Saya ajak teman-teman petani yang lain juga begitu,” ajak Rofinus.
Pengalaman Rofinus menjadi bukti nyata dampak nyata kehadiran Kopdit Obor Mas sebagai penyalur KUR. Kopdit yang berpusat di Maumere ini mendapatkan kepercayaan untuk menyalurkan KUR sejak sembilan tahun lalu.
General Manager KSP Kopdit Obor Mas, Leonardus Frediyanto Moat Lering menuturkan, tahun ini, pihaknya mendapat kuota penyaluran KUR sebesar Rp200 miliar yang terbagi dalam beberapa segmen. Dari Rp200 miliar, KUR Super Mikro Rp50 miliar, KUR Mikro Rp100 miliar dan KUR Kecil Rp50 miliar.
Plafon pinjaman untuk KUR Super Mikro maksimal Rp10 juta. Masa pengembalian pinjaman hingga 36 bulan dengan bunga 3 persen per tahun efektif atau sekitar 0,25 persen per bulan.

“Pinjam Rp 10 juta di Obor Mas bunganya hanya sekitar Rp 25 ribu per bulan. Ini jauh lebih ringan dibandingkan tempat lain,” ujarnya.
Sementara plafon pinjaman KUR Mikro di atas Rp10 juta hingga Rp100 juta dengan bunga tetap 6 persen. Sedangkan plafon pinjaman KUR Kecil di atas Rp100 juta hingga Rp500 juta bagi pelaku usaha yang membutuhkan modal lebih besar.
KUR, menurut Frediyanto, hadir untuk memperkuat permodalan anggota yang punya usaha produktif. Ia pun mengajak anggota untuk memanfaatkan produk kredit KUR untuk mengembangkan usaha demi peningkatan kualitas hidup.













