Edi Lidi dan sang istri, Nia Manapa sedang memanen cabai di kebun cabainya di Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Senin (13/1/2020)

Maumere, Ekorantt.com – Tujuh tahun menjadi kepala marketing di salah satu perusahaan leasing di Maumere, Edi Lidi banting setir menjadi petani hanya karena keseringan menonton cara bertani profesional dari YouTube.

Awal banting setir menjadi petani memang tidak gampang. Sang istri Nia kurang sreg dengan pilihan sang suami. Setiap bulan telah menerima gaji pokok dan memilih bertani jelas cukup mengganggu  ekonomi rumah tangga pada awal memulai bertani. Tekad sang suami sudah mantap bertani tetap jadi pilihan utama.

Tahun 2018 pekerjaan baru menjadi petani dimulai. Lahan seluas 2.500 persegi milik Edy yang sebelumnya penuh ilalang disulap jadi kebun cabai rawit varietas B1 cap panah merah.

“Saya jebolan sarjana teknik tapi memilih bertani. Saya nonton di YouTube dan saya lihat penghasilannya menjanjikan dan bertani sendiri itu sangat membahagiakan,” ujar Edi dan istrinya Nia ketika Ekora NTT mampir di kebun cabainya di Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok Timur, Senin (13/1/2020).

Sang istri disela-sela memanen lombok yang sudah matang menjelaskan, ketika panen wajib menggunakan gunting kecil agar tunasnya tidak rusak.

“Saya jadi ikut mencintai dunia bertani khususnya bertani cabai hanya karena suami. Lumayanlah penghasilan dari menanam cabai ini,” celetuk Nia.

Soal panen, pasangan suami istri ini menjelaskan, dilakukan 90-120 hari setelah tanam. Setiap kali panen bisa mencapai 5 kg per 2 hari. Cara menjualnya 1 mok harga berkisar 15 ribu rupiah sampai 18 ribu rupiah.

Awalnya Edi menjual cabai rawit yang mentah untuk dijual ke pengusaha gorengan di Kota Maumere. Setelah dikalkulasi ternyata rugi kalau jual mentah. Solusinya, menjual yang sudah matang atau yang merah karena harganya lebih bagus.

Saat ini pemasaran cabai rawit tidak susah karena biasanya langsung diborong oleh pelanggan. Edy sudah punya pelanggan tetap. Kini setiap musim panen sekitar 5 juta rupiah sudah dalam genggaman.

“Rasanya nikmat sekali bertani itu,” kata Edy bersemangat.

Obsesi Edy pada tahun 2020 ini adalah meluaskan lagi areal pertanian untuk bercocok tanam cabai. Edy ingin menanam lagi 3000 anakan cabai rawit.

Edy memilih bertani secara organik karena sangat bagus untuk kesehatan dan hasilnya lebih tahan lama. Salut Edy dan Nia.

Yuven Fernandez

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here