Anak-anak SDN Kolit yang berasal dari Dusun Lewomadat, Desa Ojang, Kacamatan Talibura, Kabupaten Sikka. Setiap hari, mereka menempuh jarak 5 kilometer menuju sekolah

Maumere, Ekorantt.com – Sabtu, 08 Februari 2020, bersama beberapa rekan wartawan, saya bertandang ke salah satu desa di wilayah timur Kabupaten Sikka yakni Desa Ojang. Secara administratif Desa ojang masuk dalam wilayah Kecamatan Talibura.

Berangkat dari Maumere pukul 10.00 pagi menggunakan mobil kijang milik Humas Pemkab Sikka, kami membutuhkan waktu tiga jam untuk sampai ke sana. Sekitar pukul 13.00, Kepala Desa Ojang Petrus Pade dan beberapa warga desa menyambut kami di kantor desa.

Ibarat santapan pembukaan, Kades Petrus menyuguhkan kepada kami sejumlah sengkarut masalah yang terjadi di desanya. Diantaranya; masalah pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan listrik dan juga beberapa permasalahan lain.

Setelah berdiskusi di kantor desa, kami berangkat menuju dua dusun yang terisolir, yakni Dusun Kolit dan Dusun Lewomudat.

Di Dusun Kolit, sejumlah tokoh masyarakat mengeluh karena akses litrik belum masuk sejak Indonesia merdeka, ditambah dengan kondisi jalan yang belum memadai.

Kondisi yang lebih memprihatinkan dialami oleh warga Dusun Lewomudat, sebuah daerah transmigrasi lokal di Kabupaten Sikka. kondisinya sangat terisolir, tak punya listrik, akses jalan rusak parah.

Dari penuturan warga, kami juga mendengarkan kisah bagaimana anak-anak Lewomadat berjuang dengan semangat ‘45 untuk mendapatkan pendidikan dasar.

Jarak tempuh dari Lewomadat ke lokasi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kolit cukup jauh. Jalan yang rusak dan terjal, membuat mereka harus mengambil jalan pintas dengan menyeberangi sungai sungai Tilu Ping dan sungai Kopakemak.

Mirisnya, tidak ada jembatan penyeberangan. Anak-anak terpaksa harus melintasi kedua sungai tersebut. Tentu saja, mereka harus berhati-hati.

Jika debit air sungai meningkat, maka terpaksa menunggu sampai surut. Atau kalau tidak, mereka menunggu ada orang lewat untuk membantu mereka menyeberang.

“Kalau curah hujan tinggi, volume air di dua sungai juga meningkat. Anak-anak tidak kami berangkatkan. Nanti pakaian basah atau tidak terseret arus air,” kata warga Lewomadat Marselinus Gilo.

Jalur jalan melewati dua sungai tersebut dirasa lebih singkat. Hanya 5 kilometer menuju SDN Kolit. Sementara jalur yang lain, jaraknya lebih jauh dan memakan waktu lebih lama.  

Warga Dusun Lewomadat, Wilfrida Nona Mince menuturkan, setiap hari anaknya harus pergi sekolah ke SDN Kolit. Kalau musim hujan, anak-anak berhati-hati ke sekolah karena debit air sungai meningkat.

“Biasanya, musim hujan pada bulan Desember hingga Maret, anak-anak suka terlambat ke sekolah,” kata tutor PAUD ST. Agnes ini.

Salah seorang staf pengajar SDN Kolit Audaktus Audak memaklumi setiap keterlambatan atau ketidakhadiran siswa yang berasal dari Lewomadat, khususnya saat musim hujan.

“Memang ada murid kita yang tinggal di daerah transmigrasi Dusun Lewomadat. Mereka harus melintas sungai. Kadang tidak sekolah karena anak-anak tidak dapat menyeberang sungai. Makanya anak-anak jadi ketinggalan belajar, ” kata Audaktus.

Ia berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat memperhatikan pendidikan hal tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here