Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai, Anglus Angkat

Ruteng, Ekorantt.com – Sektor pariwisata Kabupaten Manggarai menyumbang Rp175 juta bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai, Anglus Angkat menyampaikan hal ini saat ditemui Ekora NTT di ruang kerjanya, pekan lalu.

Anglus mengaku, pihaknya akan berusaha untuk menaikkan angka PAD tersebut dengan melakukan pembenahan-pembenahan di wilayah obyek wisata di Manggarai.

“Yah, di antaranya, kita bentuk kelompok masyarakat yang siap untuk penagihan kepada wisatawan yang berkunjung di objek tersebut,” katanya.

Membangun sektor pariwisata, kata Anglus, bukanlah hal yang gampang, seperti membalikkan telapak tangan. Tantangannya selalu ada. Sejauh ini pihaknya terkendala dengan pemasaran obyek wisata. 

“Masih untung, di era digital sekarang agak kemudahan, bisa melalui media sosial seperti facebook dan lain-lain,” beber Anglus.

Anglus menjelaskan, pihaknya akan terus berusaha mendorong masyarakat untuk menjadi bagian dalam membangun pariwisata. Karena, menurut Anglus, masyarakat adalah pelakunya. “Seperti desa wisata yang notabene di dalamnya adalah masyarakat,” tuturnya.

Kabupaten Manggarai memiliki beberapa wisata unggul, di antaranya, Wae Rebo, Lodok, Liang Bua, Todo, Ruteng Puu, dan Pasir Putih di Dintor.

Sejauh ini, urai Anglus, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai memiliki beberapa program kerja yakni; Pertama, pengembangan pemasaran pariwisata. Caranya dengan meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi, pelaksanaan promosi tempat pariwisata nusantara, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program.

Kedua, program pengelolaan kekayaan budaya dengan memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan.

Ketiga, program pengembangan destinasi pariwisata dengan langkah mengembangkan obyek pariwisata unggulan.

Keempat, program pengelolaan keragaman  budaya. Uraiannya yakni; pengembangan kesenian dan kebudayaan dalam penyusunan sistem informasi, fasilitasi perkembangan keragaman budaya, dan fasilitasi penyelenggara festival budaya dalam monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan.

Kelima, program pengembangan kemitraan, yakni; pengembangan SDM di bidang kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here