Demam Babi Afrika Merebak di Sikka, Penjual Batang ‘Rose’ Menjerit

Maumere, Ekorantt.com – Merebaknya demam babi Afrika atau African Swine Fewer (ASF) tak hanya membuat pendapatan peternak babi di Kabupaten Sikka merosot tapi juga berimbas pada pendapatan para penjual batang ubi keladi (bahasa Sikka, rose) dan penjual pakan babi lainnya.

Nona, 28 tahun, warga Wolonmaget, Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng penjual rose mengaku terpukul karena banyak batang rose jualannya terpaksa dibuang karena membusuk.

Kepada Ekora NTT, Senin 08 Februari 2021 di Pasar Alok Maumere, Nona mengungkapkan dalam seminggu baru bisa terjual satu karung umbi keladi seharga Rp80 ribu.

“Kalau sebelum virus merebak penghasilan saya setiap hari bisa mencapai Rp500 ribu. Tetapi sekarang lihat saja, pak, belum laku. Sudah hampir satu minggu ini belum ada yang beli,” kata Nona.

Senada dengan Nona, ibu Maria yang juga penjual umbi keladi mengatakan hal yang sama. Maria mengaku kalau umbi dan batang rosenya sudah rusak dan terpaksa dibuangnya.

“Kami juga kena imbas dari virus babi itu. Batang rose orang tidak beli. Mau beli beras juga setengah mati. Jualan kami hanya rose ini untuk bisa beli beras saja dan tidak ada yang lain,” ungkapnya.

Jeritan juga datang dari pedagang dedak padi, dedak jagung dan ampas kelapa.

“Kami tidak bisa berbuat apa- apa pak. Karung dedak tetap menumpuk. Penghasilan melorot jauh,” ungkap Bu Nur.

Ibu Lusia yang sehari-hari menjual ampas kelapa juga mengeluh.

“Saya tiap hari masak minyak kelapa biasanya ampas saya jual di Pasar Alok untuk menambah penghasilan. Tetapi dengan merebaknya virus babi ini ampas kelapa dibuang karena tidak ada pembeli,” ucapnya.

Data yang diperoleh dari Kepala Seksi Kelembagaan, Veteriner, Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian kabupaten Sikka drh. M. A. Yersi Dua Bura pada 1 Februari lalu menyebutkan sepanjang Januari 2021 babi yang mati akibat demam babi Afrika ada 624 ekor. Jumlah ini menurut Yersi bisa lebih banyak.

Yuven Fernandez

TERKINI
BACA JUGA