Selamatkan 30 Hektar Wilayah Pesisir, Pria 71 Tahun Ini Raih Sejumlah Prestasi

Maumere, Ekorantt.com – Romanus Koda, warga RT 021, RW 004, Kampung Garam, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT ini bisa dibilang pahlawan penyelamat wilayah pesisir utara, selain almarhum Baba Akong.

Pasalnya, pria berusia 71 tahun ini ternyata telah menanam sekitar 50 ribu anakan bakau pada lahan seluas 30 hektare di Wolomarang. Ia gencar melestarikan kembali bakau di wilayah itu pasca gempa bumi dan gelombang tsunami meluluhlantakan Maumere dan daratan Flores pada tahun 1992.

Upaya kerja keras menyelamatkan pesisir pantai Wolomarang memang sudah digeluti Romanus jauh sebelum bencana dahsyat kala itu, sekitar 35 tahun lalu.

Romanus bercerita, pada tahun 1968, Kepala Dinas Perikanan Mo’at Joseph memerintahkan masyarakat Wolomarang mengubah wilayah pesisir menjadi lahan tambak. Pohon-pohon bakau ditebang.

Namun sekitar tahun 1970-an peristiwa alam menghantam tambak-tambak tersebut dan hanyut dibawa bencana. Masyarakat pengusaha tambak gigit jari hampir belasan tahun. Ia lalu berinisiatif membibit kembali bakau, namun upaya itu sia-sia karena bencana kembali melanda wilayah itu tahun 1992.

iklan

Puncak kesengsaraan masyarakat pesisir diperparah lagi ketika gempa tektonik dan gelombang tsunami meluluhlantakan wilayah Maumere. Wajah wilayah itu menjadi tak beraturan usai dihantam tsunami. Pemukiman penduduk rusak total bahkan banyak korban jiwa akibat dari peristiwa itu.

Romanus tidak tinggal diam dengan keadaam pesisir yang begitu terbuka. Ia terpanggil dan akhirnya kembali memulihkan lingkungan dengan menanam bakau seorang diri. Ayah lima anak itu membibit dan menanam bakau secara swadaya, tanpa seperse uang.

Pada tahun 1999, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup memintanya mendirikan kelompok di wilayah itu dengan catatan seluruh akomodasi pembibitan disiapkan pemerintah. Adalah Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam [KPSA] Penyedap Rasa yang diketuai Romanus.

Kelompok itu terus menerus melakukan pengawasan dan pelestarian anakan bakau berjenis langka yang hampir punah. Hasil nyata yang dapat disaksikan adalah populasi bakau terus bertambah sehingga kondisi alam dan lingkungan sekitar saat ini menyerupai habitat asli.

Prestasi

Cucuran keringat sebagai penyelamat lingkungan Ketua RT 021, Kelurahan Wolomarang itu ternyata membuahkan hasil. Pada Juni 2008, kelompok itu mendapatkan penghargaan pengelolaan lingkungan [Kalpataru] tingkat Provinsi NTT kategori penyelamat lingkungan.

Penghargaan berupa Piala dan Piagam Penghargaan itu diberikan Gubernur NTT Piet Alexander Tallo kepada Romanus.

Selain itu, adapun sejumlah piagam penghargaan dari tingkat Kabupaten Sikka. Pertama, Piagam Penghargaan dari Sekda marmo atas nama Bupati Kepala Daerah Tkt  II Sikka atas perhatian dan simpatinya terhadap upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup dengan mengikuti Orientasi Manajemen Kelompok Pelestarian Sumber Daya Alam yang diselenggarakan 7-8 April 2000 di Hotel Sugonian Maumere.

Romanus sedang menunjukan beberapa piagam penghargaan sebagai penyelamat lingkungan [Foto : Yuven Fernandez/Ekora NTT]
Kedua, Piagam Penghargaan dari Bupati Sikka Paulus Moa atas keikutsertaannya pada Pelatihan dan Temu Visi KPPA yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka dari tanggal 19-20 November 2002.

Ketiga, Piagam Penghargaan sebagai pengelola lingkungan hidup terbaik ketiga tingkat Kabupaten Sikka tahun 2004 dalam rangka pemberian penghargaan bidang lingkungan hidup [Kalpataru], Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun 2004 kategori Perintis Lingkungan oleh Bupati Alexander Longginus.

Keempat, Piagam Penghargaan dari Bupati Alexander Longginus tanggal 25 November 2005 sebagai peserta aktif KPSA Penyedap Rasa Kampung Garam Wolomarang pada kegiatan Workshop Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam/Kelompok Pencinta Alam yang diselenggarakan oleh Bapeda kabupaten Sikka tanggal 24-25 November 2005.

Kelima, Sertifikat dari Community Preparedness atas partisipasinya sebagai peserta Pelatihan Masyarakat 25-26 Mei 2007. Keenam, Sertifikat Pengukuhan Kelompok Tani Pemula Kelompok Tani Bersatu Wolomarang yang mempunyai 15 orang anggota dengan Komoditas Unggulan Tanaman Pangan dan Hortikultura.

Minim Perhatian Infrastruktur

Masyarakat pesisir Kampung Garam, Wolomarang belakangan ini, kata Romanus, jauh dari perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka. Pasalnya, pemukiman kumuh yang dihuni 30-an KK setiap bulan pasti langganan abrasi hingga masuk sampai rumah-rumah.

Ia menyatakan, ketiadaan tanggul penahan abrasi menjadi faktor utama menimpah wilayah itu. Selian itu, infrastuktur jalan yang tidak memadai membuat Wolomarang terisolir.

“Selama ini terus terang saja tidak ada perhatian. Pembangunan tanggul di bagian timur dan barat lalu kami di tengah-tengah jadi sasaran. Sesekali Bupati dan DPRD Sikka turun dan lihat kami dengan segala susah yang kami alami,” ujar Romanus.

Hal senada juga diungkapkan Yanto yang menyebutkan ketiadaan infrastuktur membuat warga setempat kesulitan mengatasi bencana abrasi. “Kami harapkan ada tanggul penahan abrasi pantai karena pemukiman ini tiap tahun selalu digenangi air atau banjir rob,” ujar Yanto.

Yuven Fernandez

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
TERKINI
BACA JUGA