Ulang Tahun, Soekarno, dan Post-Reformasi

Hari ini 6 Juni 2022. Siapa yang merayakan ulang tahun hari ini adalah satu kebahagiaan dan kebanggaan yang patut direfleksikan. Mengapa demikian? Kalian mungkin tidak tahu, hari ini adalah ulang tahun Soekarno, Sang Proklamator itu.

Soekarno lahir di Surabaya, 6 Juni 1901. Sepak terjang sosok Presiden pertama NKRI ini semakin kencang kala dirinya meraih gelar ‘Ir’ pada 25 Mei 1926 dari Hoogere Burger School atau ITB saat ini.

Pada 4 Juli 1937, Soekarno merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Orientasi awal, semuanya digerakkan untuk kemerdekaan, maka Soekarno juga mencetuskan nasionalisme Indonesia.

Akibatnya, Belanda marah dan memasukkannya ke penjara Sukamiskin di Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan. Maka, dalam pembelaannya berjudul Indonesia Menggugat, beliau menunjukkan kemurtadan dirinya pada Belanda.

Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah. Sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, beliau kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, pada 1933. Empat tahun kemudian, ia dipindahkan ke Bengkulu.

iklan

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, dibarengi dengan Jepang menginvasi Hindia Belanda pada Maret 1942, Soekarno mencari ruang gerak untuk kolaborasi dengan Jepang sebagai satu-satunya cara meraih kemerdekaan secara sukses. Sebuah taktik yang terbukti efektif hingga merdeka pada 1945.

Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengemukakan gagasan tentang dasar negara yang disebutnya Pancasila.

Tanggal 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Melalui sidang PPKI, 18 Agustus 1945 Ir. Soekarno terpilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama.

Tentu, kemerdekaan Indonesia bukan hadiah Jepang. Ini murni perjuangan sosok Bung Karno, Hatta, dan seluruh rakyat Indonesia. Dari sana, Orde Lama hadir dan menggerakkan masa kepemimpinan Bung Karno.

Ketika muncul Orde Baru, Soeharto menjadi Presiden dan menguasai kursi selama 32 tahun. Setelahnya, reformasi menjadi angin segar demokrasi.

Post-Reformasi

Di sini, ada sesuatu yang penting untuk saya refleksikan. Bahwa ulang tahun saya jatuh pada 6 Juni, tapi hal terpenting lainnya adalah merefleksikan post-reformasi untuk memberi makna pada hari ulang tahun semua yang merayakannya.

Sebelumnya, pada 1 Juni 2022 lalu, Jokowi datang mengunjungi Ende, Kota Pancasila, tempat Bung Karno menelurkan butir-butir mutiara indah yang kini menjadi spiritualitas NKRI. Setelah Bung Karno, Jokowi menjadi Presiden pertama yang menginjakkan kaki di Kabupaten Ende.

Hal lain yang unik, Presiden orang kecil ini tidur 2 malam di Ende. Betapa ini sebuah kebahagiaan serentak kebanggaan yang sangat nasionalis.

Namun, yang terpenting pada post-reformasi, adalah bagaimana sebuah sistem itu mengembalikan dan menguatkan pengamalan Pancasila dan semangat reformasi.

Pertama, menguatkan SDM yang unggul. SDM adalah pintu masuk kepada kemajuan. Negara yang semakin maju berangkat dari penguatan SDM.

Kedua, memahami post-reformasi sama dengan memahami Pancasila secara lebih humanis dalam bingkai sistem Informasi manajemen terintegrasi secara online (Cakti Indra G, 85:2019).

Artinya, sebagai warga negara, kita memegang 3 kata kunci, yakni rakyat, pemerintah, dan sistem online. Trilogi post-reformasi ini perlu digarisbawahi sebagai pokok refleksi mendalam.

Bagaimana rakyat bisa sejahtera? Apa tugas pemerintah? Dan, sudahkah sistem online dengan menitikberatkan digitalisasi desa yang berjalan saat ini? Pertanyaan-pertanyaan ini terjawab pada masa Jokowi dua periode berjalan.

Ketiga, post-reformasi menunjukkan bahwa perlu penguatan nasionalisme sebagaimana dibuktikan Soekarno. Nasionalisme ini bukan soal Anda omong banyak dan pintar, tapi soal Anda omong dan buat apa setelahnya.

Keempat, menguatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua bidang ini menjadi benar-benar kuat apabila SDM itu dibentuk dari awal.

Kelima, aspek utama post-reformasi adalah mengunggulkan pengalaman Pancasila sedalam-dalamnya. Bukan setengah-setengah. Pada titik ini, logika demokrasi harus benar-benar dibuktikan secara nyata.

Tujuannya, untuk melahirkan rakyat Indonesia yang sejahtera, bahagia, terpenuhi kebutuhan pokok, sandang, pangan, dan papan, serta mengakses digitalisasi yang mengubah sudut pandang yang lebih maju.

Dengan begitu, dalam momen ulang tahun 6 Juni, baik ulang tahun Soekarno, saya, dan hari jadi kita dengan tanggal yang berbeda, bahwasanya nasionalisme akan membawa kemerdekaan yang sesungguhnya.

Untuk itu, pada 6 Juni, mari merayakan ulang tahun Soekarno, menjaga spiritualitas post-reformasi, dan menghidupi sudut pandang digitalisasi atau online untuk menjadi pribadi, bangsa, dan negara yang semakin maju.

*Eto Kwuta adalah Editor di Surat Kabar Ekora NTT

TERKINI
BACA JUGA