Larantuka, Ekorantt.com – Sebastianus Subang Weruin (54) sibuk menumis sayur rumpu-rampe di atas wajan, Rabu, 26 Agustus 2026 pagi. Aromanya menyembul ke sudut warung meja pelanggan. Di atas etalase tersedia berbagai menu makanan siap santap.
Sebastianus tak sendirian. Ia mempekerjakan dua orang, Mery Daton dan An Daton. Mereka menggoreng ikan, tahu, dan sejumlah menu lainnya. Letak Warung berada di Desa Bokang Wolomatang, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Sebastianus tak pernah menyangka dengan capaian saat ini. Jauh hari sebelumnya, usaha yang ia rintis pertama di Desa Adabang, nyaris tutup karena tak punya modal yang cukup. Ia bertahan dengan usaha nasi bungkus berskala kecil.
Perlahan-lahan, warung makannya kian berkembang saat bergabung dengan KSP Kopdit Pintu Air Cabang Boru. Koperasi kredit itu membantu Sebastianus lewat modal pinjaman awal senilai Rp10 juta.
Sebastianus merasa tertarik dengan koperasi itu setelah mengalami pengalaman yang mengharukan. Ia bersama warga di Desa Adabang yang berada di sudut terluar utara Flores Timur disediakan listrik.
Tidak berhenti di situ, Sebastianus yang baru bergabung dengan KSP Pintu Air Cabang Boru juga dibantu biaya pengobatan saat ia dirawat di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka.
“Dari situ saya merasa ini koperasi yang bagus untuk kami masyarakat kecil, apalagi dengan tekad mengembangkan usaha,” ceritanya.
Pasca mengangsur pinjaman Rp10 juta tanpa tunggakan, Sebastianus yang kian berkembang dengan usahanya kembali mengajukan pinjaman tambahan sebesar Rp30 juta dan terakhir sebesar Rp60 juta.
Lewat pinjaman dan uang tabungan, Sebastianus mengontrak tanah di Desa Bokang Wolomatang lalu membangun warung dengan kapasitas lebih besar, hingga mengadakan kulkas pendingin bahan makanan yang semakin banyak.
“Koperasi Pintu Air juga tidak terus membantu kami dalam pendampingan berwirausaha, mereka rutin kunjungi kami anggota,” katanya.
Berkat kerja keras dan keterampilan, menu makanannya jadi langganan Pemerintah Kecamatan Titehena hingga sejumlah pemdes saat mengadakan kegiatan. Usahanya pun memperoleh laba jutaan rupiah.
Namun, sejak 2025 pendapatannya berangsur menurun lantaran tak ada lagi pesanan dalam jumlah banyak. Hal ini terasa saat kebijakan pemangkasan anggaran pusat bagi daerah. Instansi di daerah diharuskan berhemat. Dampak pengurangan kegiatan turut dirasakan Sebastianus.
“Orang-orang di desa dan kecamatan sudah tidak pesan lagi. Tetapi saya tetap bersyukur karena masih bisa berdiri dengan usaha sendiri,” katanya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada KSP Pintu Air Cabang Boru yang terus berkonsentrasi dan menaruh perhatian penuh bagi segenap anggota.
Manager KSP Kopdit Pintu Air Cabang Boru di Desa Konga, Yohanes Fransiskus, berkata Sebastinus Weruin adalah salah satu anggota teladan. Secara keseluruhan, koperasi terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki itu berjumlah 4.144 orang.
Menurut Yohanes, Sebatianus sudah bergang selama 10 tahun dan tercatat sebagai anggota peminjam aktif yakni sebanyak empat kali tanpa mengalami tunggakan.
Sementara KSP Kopdit Pintu Air Cabang Boru direlokasi sementara ke Desa Konga akibat bencana erupsi. Meski terdampak bencana, koperasi itu tetap kuat serta eksis berdiri. Banyak pihak dari empat kecamatan mulai tertarik dengan salah satu koperasi terbesar di Indonesia itu.
Yohanes mengapresiasi segenap anggota hingga badan pengurus KSP Kopdit Pintu Air Cabang Boru yang terus menjunjung tinggi semangat berkoperasi, seturut motto “Kau susah Aku Bantu, Aku Susah Kau Bantu”.
“Semangat anggota kita masih sangat tinggi. Ada yang berada di perantauan, mereka tetap membangun komunikasi dan tergerak untuk berkoperasi,” ujarnya.
Penulis: Paul Kabelen

