Maumere, Ekorantt.com – Deru mesin Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Ile Ape berpadu dengan hiruk pikuk aktivitas bongkar muat barang di Pelabuhan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu sore, 29 Agustus 2026.
Enam mobil dump truck tampak masuk secara bergiliran ke dalam dek pertama kapal. Sedangkan mobil-mobil lain sebatas mengantar logistik hingga ke area pelabuhan. Para relawan dibantu oleh tentara dan polisi, menurunkan logistik bantuan dari mobil untuk dimasukkan ke dalam kapal.
Di dekat pintu rampa kapal, Kapten Mualim, nakhoda KMP Ile Ape, mengarahkan mobil yang masuk ke dalam kapal. Ia memberi kode kepada kru kapal untuk mengatur tumpukan logistik di lantai dasar kapal.
“Kami harus atur supaya barang-barang tidak berantakan, supaya tertata rapi. Begitu juga dengan kendaraan, harus bagus,” ujarnya sembari melempar senyum.
Tumpukan logistik berjejal di lambung kapal. Mulai dari karung-karung beras, kardus-kardus air mineral, obat-obatan tenda, terpal, selimut, hingga perlengkapan tidur.
Satu per satu penumpang masuk ke dalam kapal, lalu menaiki tangga yang mengarahkan mereka ke dek kedua. “Hanya satu dua saja penumpang. Yang paling banyak itu para relawan yang mau bawa bantuan,” ujar Mualim.
Denyut jam di gawai menunjuk tepat pukul 16.45 Wita. Mualim memberikan aba-aba; tali-tali haluan di tambatan dermaga dilepaskan, menyusul bergeraknya tali baja yang mengangkat rampa hingga menutup lambung kapal.
Kapal perlahan-lahan meninggalkan pelabuhan, memutar haluan, lalu membelah laut Flores menuju Pulau Palue. Sore itu, KMP Ile Ape mengantar logistik bantuan bagi korban gempa Flores di pulau yang terletak utara Pulau Flores itu.

Palue Paling Terdampak Gempa
Pulau Palue menjadi daerah paling terdampak gempa di Kabupaten Sikka. Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Bumi Tektonik Kabupaten Sikka mencatat, 3.340 warga Palue terkena dampak gempa dan satu orang meninggal dunia. Sebanyak 491 unit rumah rusak. Warga terpaksa mengungsi dan tinggal di tenda-tenda darurat.
Salah satu warga yang terdampak adalah Maria Lenga (33 tahun), warga Natakuni, Desa Kesokoja. Rumahnya ambruk rata tanah saat gempa terjadi pada 15 Agustus lalu.
Pagi itu, sekitar pukul 05.00 Wita, Maria merasakan guncangan yang sangat kuat. Dalam kekalutan, ia membangunkan kedua anaknya yang sedang tertidur pulas dan membawa mereka keluar rumah.
“Kami lari keluar. Anak yang kecil saya gendong, sedangkan yang besar saya tarik,” cerita Maria sambil menahan tangis saat Ekora NTT mengunjungi kampungnya pada Sabtu, 30 Agustus 2026.
Seorang anaknya lagi tidur bersama mama mantunya malam itu. Sementara suaminya sedang pergi melaut. Memang, mayoritas masyarakat di Kampung Natakuni bermatapencaharian sebagai nelayan dan sebagian kecil bertani dengan mengandalkan jambu mete sebagai komoditas utama.
Rumahnya yang dibangun bersama suaminya beberapa tahun lalu roboh. Bersyukur mereka berhasil menyelamatkan diri. “Kami tidak tinggal di rumah sejak lari keluar karena gempa. Setiap hari tinggal di posko, berharap bantuan datang,” cerita Maria.
Berharap bantuan di hari-hari awal setelah bencana bukanlah hal gampang. Akses dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka menuju Pulau Palue hanya bisa ditempuh menggunakan jalur laut. Jaraknya sekitar 65 kilometer, membutuhkan waktu 6 jam perjalanan laut.
Beruntung ASDP menyiapkan armada kapal Ferry untuk mengirimkan bantuan ke sana. Bagi Maria dan warga lain, kebijakan ASDP yang membantu menyeberangkan bantuan dan relawan telah menyelamatkan mereka di masa kritis pasca gempa.
Bantu Penyaluran Bantuan
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 saat KMP Ile Ape sandar di pelabuhan Pulau Palue pada Sabtu malam. Barang-barang bantuan diturunkan dari kapal untuk selanjutnya disalurkan ke posko-posko pengungsian warga.
Pulau Palue yang gelap tidak mampu menyembunyikan dirinya yang luluh lantak akibat gempa. Di sepanjang perjalanan, tampak orang-orang tidur di luar rumah, di bawah tenda darurat. Dwi Wiratmi, relawan dari Yayasan Nuhan Flores, menyaksikan penderitaan warga saat menginjakkan kaki pertama kali di Palue.
Bersama rekan relawan lain, Dwi membawa kebutuhan pokok berupa sembako, perlengkapan sanitasi, peralatan masak. Ia juga hadir untuk memberikan bimbingan psikososial demi mengurangi trauma dan menumbuhkan harapan bagi anak-anak korban bencana.
“Kami terjun ke lokasi untuk melihat dan menyaksikan secara dekat dan membantu kepada mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan,” kata Dwi sambil menambahkan bahwa KMP Ile Ape turut membantunya untuk mengantar bantuan ke Palue.

KMP Ile Ape merupakan satu dari tiga kapal yang disediakan PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Cabang Kupang untuk membantu penyaluran logistik di wilayah terdampak gempa Flores. Ketiganya yakni KMP Ile Labalekan, KMP Ile Ape dan KMP Inerie II.
KMP Ile Labalekan melayani pengangkutan bantuan dari Pelabuhan Bolok, Kupang, menuju Pelabuhan Nangakeo dan Ende. Sementara KMP Ile Ape melayani rute pelabuhan Maumere dan Kewapante menuju Pelabuhan Palue di Kabupaten Sikka. KMP Ile Ape kemudian digantikan oleh KMP Inerie II ketika kapal tersebut harus menjalani docking di Surabaya.
General Manager PT ASDP Indonesia Feri Cabang Kupang, Adrian mengatakan, dukungan ASDP tidak hanya berupa penyediaan kapal, tetapi juga fasilitas penyeberangan bagi bantuan kemanusiaan, akses pelabuhan, proses pemuatan, armada serta dukungan operasional.
Bantuan yang diangkut berupa kendaraan dan logistik berupa tenda, sembako, air mineral, perlengkapan mandi, pakaian, selimut, perlengkapan bayi, susu, obat-obatan, buku bacaan, permainan edukatif anak, lampu darurat, shelter kit serta alat kesehatan seperti kursi roda dan alat bantu berjalan.
Selain itu, penyeberangan juga membawa personel pendukung, antara lain tenaga medis, personel polisi, dan tentara. Wartawan juga menjadi salah satu pihak yang turut dibantu akses transportasinya oleh kapal Ferry ASDP.
Adrian mengatakan seluruh kendaraan atau logistik bantuan yang diangkut harus dilengkapi dokumen resmi dan dicatat dalam manifes kapal.
“ASDP menempatkan diri sebagai pendukung sisi konektivitas. Sedangkan pengumpulan, pengelolaan dan distribusi bantuan kepada warga dilakukan bersama pemerintah daerah serta lembaga penanganan bencana,” ujar Adrian.
Warga Terbantu
Wiliam Toka, tokoh muda dari Palue, mengatakan bahwa ASDP telah membantu masyarakat setempat sehingga bisa mengakses bantuan pascagempa. “Kami di sini terbantu dengan kapal Ferry yang melayani distribusi logistik bantuan dari berbagai elemen.”
Kendati demikian, Wiliam menyoroti krisis air bersih yang tengah dialami warga akibat ribuan bak penampung air hancur akibat gempa. Ia berharap bantuan air terus mengalir ke Palue, dan ASDP diharapkan terus membantu distribusi bantu tersebut.
“Karena kondisi sekarang, seluruh bak penampung air hujan itu semuanya hampir sebagiannya pecah. Kami sangat berterima kasih kepada ASDP dan semoga terus bantu kami di sini,” ujarnya.
Hal senada diutarakan oleh Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka, Yohanes Emil Satriawan. Distribusi bantuan oleh ASDP telah memberikan harapan nyata bagi warga yang sedang bangkit dari keterpurukan bencana.
“Kapal Ferry membantu menyeberangkan bantuan. Tidak pakai lagi jadwal reguler, tapi selalu siap untuk distribusi bantuan,” kata Emil Satriawan.
Dukung Pemulihan Masyarakat
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo mengatakan pihaknya mendukung upaya pemulihan masyarakat pascagempa. Baginya, pemulihan akan bisa terwujud bila akses distribusi bantuan berjalan dengan baik. ASDP sendiri berperan penting dalam menjangkau wilayah terdampak.
“Tugas kami bukan hanya memastikan kapal berlayar, tetapi memastikan konektivitas dapat digunakan untuk membantu masyarakat,” kata Heru sebagaimana yang dilansir Asdp.id.
Ia menginginkan kapal ASDP menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengantarkan bantuan, relawan, peralatan, dan kebutuhan dasar kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, pihaknya terus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.
“Kami ingin memastikan jalur transportasi dan armada penyeberangan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pemerintah dan masyarakat, mulai dari penanganan hingga proses pemulihan,” ujar Heru.
Di luar situasi gempa, kapal ASDP memiliki peran penting menghubungkan pulau-pulau di wilayah NTT. Konektivitas terwujud dengan terhubungnya pulau-pulau utama seperti Pulau Timor, Sumba, dan Flores dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya, seperti Palue, Lembata, Solor, Alor, Rote dan Sabu.
Heru, dalam acara audiensi dengan Pemerintah Provinsi NTT pada akhir Juli lalu, mengatakan bahwa pengembangan Long Distance Ferry bukan sekadar membuka lintasan baru, melainkan bagian dari strategi memperkuat konektivitas nasional. Hal ini lebih khusus meningkatkan aksesibilitas wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan) demi kemajuan perekonomian daerah.
“Layanan penyeberangan harus mampu memperlancar distribusi barang, meningkatkan efisiensi logistik, memperluas akses pasar, menjaga rantai pasok, sekaligus membuka peluang ekonomi baru,” ujarnya.













