Ruteng, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Manggarai menganggarkan Rp185 juta untuk proyek penyediaan air minum di Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, setelah warga berulang kali berunjuk rasa akibat krisis air.
Meski proyek serupa telah dibangun, penyediaan air minum di desa tersebut dinilai belum tuntas karena 22 rumah belum mendapat akses air.
Sementara beberapa rumah lainnya, sudah mendapatkannya dari Proyek Uprating Instalasi Pengolahan Air (IPA)/Penambahan Sumur Dalam Terlindungi/Broncaptering beranggaran Rp973.000.000 yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus tahun 2025.
Klementinus Malis, Ketua Komisi C DPRD Kabupaten Manggarai sekaligus membidangi pembangunan berkata, pengembangan pembangunan fasilitas air minum senilai Rp185 juta dipastikan masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) perubahan tahun anggaran 2026.
Ia menegaskan, usulan masyarakat Desa Paralando telah diakomodasi dalam pembahasan anggaran. Kini, realisasinya tinggal menunggu pelaksanaan di lapangan dalam tahun anggaran berjalan.
“Anggaran pengembangan pembangunan air minum untuk masyarakat Paralando sudah final. Sekarang tinggal menunggu pelaksanaan di lapangan,” terang Klementinus kepada wartawan pada Kamis, 15 Oktober 2026.
Klementinus yang juga anggota Badan Anggaran berkata, kepastian anggaran ini menjawab aspirasi warga yang selama ini memperjuangkan pemenuhan kebutuhan air minum.
Sebab proyek air minum bersih yang direalisasikan pada 2025 sebelumnya menuai pro-kontra.
Klementinus bilang, aksi unjuk rasa yang dilakukan warga bersama aliansi mahasiswa beberapa bulan sebelumnya, telah ditindaklanjuti melalui mekanisme formal di lembaga legislatif.
“Pada prinsipnya, kami konsisten dengan janji dan kerja kami untuk masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kepastian penganggaran itu merupakan hasil pembahasan dan keputusan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang dipimpinnya di ruang Komisi C DPRD.
Dalam setiap tahapan pembahasan anggaran, katanya, DPRD terus mengingatkan pemerintah daerah untuk memberikan perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Baginya, penyediaan fasilitas air minum bukan sekadar persoalan pembangunan fisik, melainkan bagian dari pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang harus mendapat perhatian serius pemerintah.
“Air minum merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, pembangunan fasilitas ini menjadi prioritas dan tidak boleh terus ditunda,” tegasnya.
Yohanes H Gahor, warga Paralando menyambut baik kabar tersebut. Namun, ia meminta pemerintah harus menempati janji agar tidak berhenti pada pernyataan.
“Sekian lama kami menyampaikan keluhan dan perjuangan akhirnya ada kepastian walaupun hanya masih pernyataan,”
Dia berkata, ketika pemerintah sudah menganggarkan maka bukan lagi sekadar janji. Tetapi masyarakat tetap menanti sampai terealisasi.
“Kami sedikit cemas karna kami sudah terlalu sering mendengar janji-janji yang belum selesai,”
Ia berharap proyek itu segera dimulai, selesai tepat waktu, serta airnya harus benar-benar mengalir ke rumah warga.
“Kami berharap air yang kami terima benar-benar bersih dan sehat untuk keluarga kami,” ujarnya.
Ia juga menegaskan agar proyek tersebut tidak ada kendala yang membuat berhenti di tengah jalan.
“Beri kami informasi perkembangannya kami ingin tahu bagaimana proses berjalan,” tutupnya.













