Ruteng, Ekorantt.com – Sub Cluster Network (SCN) Lingko Lodok Manggarai memfasilitasi layanan kesehatan bagi 14 anak disabilitas dan pelajar SMP Negeri 1 Cibal Barat di Aula Kantor Camat Cibal Barat pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Selain itu, dilakukan pula edukasi kesehatan reproduksi hingga pemulihan psikososial pascagempa.
SCN Lingko Lodok melibatkan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTT, Puskesmas Wae Codi, dan Pemerintah Kecamatan Cibal Barat.
Kegiatan ini didukung Yayasan NLR Indonesia, yang berfokus pada penanggulangan kusta dan inklusi sosial penyandang disabilitas, serta Liliane Fonds, organisasi nirlaba asal Belanda yang mendorong inklusi dan peningkatan kualitas hidup anak serta pemuda penyandang disabilitas di negara berkembang.
Ketua SCN Manggarai, Elias Dagung berkata, pemulihan psikososial pascagempa sangat penting bagi anak dan remaja disabilitas. Meski masih tahap awal, kegiatan selanjutnya yakni mengedukasi anak-anak tentang kesiapsiagaan dan cara menghadapi gempa bumi.
“Mungkin baru tahap pertamanya pengenalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini adalah bagian dari tujuh hasil program Building Effective Network (BEN), salah satunya tentang pelayanan kesehatan.
“Jadi untuk pelayanan kesehatan termasuk pemeriksaan, lalu penguatan tenaga medis, penguatan kapasitas tenaga medis, lalu intervensi dan deteksi dini.”
Tujuan program ini meningkatkan harkat dan martabat anak dan remaja disabilitas. Meski demikian, mengurus mereka membutuhkan keterlibatan orang lain seperti dokter maupun tenaga medis lain.
Sarrah Dwiananda Mayasafira, Relawan Dokter Umum PKBI berkata, kehadirannya untuk memberikan pelayanan kesehatan, edukasi kesehatan reproduksi, dan trauma healing sebagai upaya pemulihan psikososial.
Dalam edukasi kesehatan reproduksi, ia memberikan pemahaman tentang pubertas. Sarah menggarisbawahi batasan diri dan area privasi tubuh, termasuk keberanian untuk melapor kepada orang terpercaya jika mengalami tindakan yang melanggar batasan tersebut.
“Sehingga bila ada yang melakukan kekerasan atau mungkin menyentuh area-area privasi yang sudah dilarang, mereka ditekankan agar bisa melapor ke orangtuanya,” ujarnya.
Edukasi ini, kata dia, dianggap penting karena anak dan remaja rentan menjadi korban kekerasan baik fisik maupun seksual.
“Kalau misalkan di area pengungsian kan mungkin bisa jadi, karena ditinggal di dalam tenda. Jadi tinggal mungkin bersama dengan orang yang mungkin beda keluarga, dengan lawan jenis yang berbeda,” jelasnya.
Saat pemeriksaan kesehatan, ia menemukan kurangnya perhatian pengasuh terhadap anak dan remaja disabilitas. “Sehingga perlu diajarkan dan ditekankan kepada para pengasuh agar anak-anak menjaga kebersihan dan kesehatannya,” tutur Sarah.
Hal lain yang ditemukan juga terkait munculnya rasa cemas dan trauma terhadap gempa.
“Tetapi, untuk yang lain mungkin ada yang sudah cukup bisa beradaptasi, sudah cukup stabil dan tenang,” kata Sarah.
Ia menambahkan, pihaknya membantu pelayanan trauma healing bagi korban bencana maupun korban kekerasan. “Kemudian untuk pelayanan dari kami, juga untuk kelompok-kelompok rentan seperti ibu hamil, dan ibu menyusui serta anak-anak.”













