Greg Upi Deo ambil jalan pragmatis menggabungkan diri dengan Paulus Soliwoa, Sang Petahana. Paulus Soliwoa, Bupati Ngada, belum sampaikan pertanggungjawaban ke Publik tentang apa-apa saja yang sudah ia bangun selama tiga (3) tahun memimpin Ngada usai ditinggalkan Marianus Sae akibat kasus korupsi infrastruktur jalan di Kabupaten Ngada.
Bajawa, Ekorantt.com – Perhelatan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Ngada memasuki babak baru.
Bakal Calon Bupati Ngada Gregorius Upi Dheo yang sebelumnya digadang-gadang berpasangan dengan Bakal Calon Wakil Bupati Ngada Anis Tay Ruba harus berpisah lantaran Gregorius Upi Dheo memilih jalan menjadi Bakal Calon Wakil Bupati Ngada berpasangan dengan incumbent.
Dua mantan pasangan ini telah melalui jalan panjang dalam melakukan sosialiasasi diri menjelang Pilkada Ngada pada Desember 2020 mendatang.
Mengusung tagline GUD-ATR, dua putra Ngada tersebut telah melakukan sosialisasi diri sebagai Bakal Calon Bupati Ngada dan Bakal Calon Wakil Bupati Ngada.
Tidak hanya mendapat dukungan dari para relawan GUD-ATR, keduanya juga mengantongi rekomendasi dari Partai Demokrat melalui hasil Rapat Kerja Cabang (Rakercab) yang digelar Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten Ngada pada 7 Maret 2020 lalu di Aula Hotel Nusantara Bajawa.
Saat itu, hasil rapat diserahkan oleh Sekretaris DPD Partai Demokrat Nusa Tenggara Timur Fredi Le’u.
Pertarungan semakin menarik pasca Bupati Ngada Paulus Soliwoa, yang sebelumnya menyatakan diri tidak maju, tiba-tiba mengambil keputusan untuk maju menjadi Bakal Calon Bupati Ngada berpasangan dengan Gregorius Upi Dheo.
Kepada EKORA NTT, Selasa (7/7/2020), Bakal Calon Wakil Bupati Ngada Gregorius Upi Dheo melalui sambungan telepon membenarkan jika dirinya telah memutuskan mengikuti Pilkada Ngada bersama Paulus Soliwoa yang juga adalah incumbent.
Ia terpaksa ambil keputusan tersebut pasca mengamati dinamika perpolitikan di Ngada serta arah dukungan partai menjelang pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ngada.
“Ia benar sekali kalau saya maju bersama Pak Paulus. Saya tidak bantah itu. Keputusan itu saya ambil setelah saya mengamati betul peta perpolitikan di Kabupaten Ngada dan juga arah dukungan partai politik,” ungkapnya.
Menurut Greg, setelah mengambil keputusan untuk tidak bermitra lagi dengan Anis Tay Ruba, dirinya kemudian menemui ATR di Kupang untuk menyampaikan pesan perpisahan tersebut.
Ia juga menjelaskan sejumlah variabel alasan yang membuat ia tidak lagi maju bersama ATR.
“Akhir pekan lalu, saya sudah bertemu dengan Kakak Anis Tay Ruba (ATR) di Kupang. Saya sampaikan kepada Kakak Anis bahwa saya tidak bisa meneruskan kemitraan kami dalam Pilkada Ngada semata-semata karena pertimbangan keluarga. Dengan selesainya kemitraan ini, maka baik Kakak Anis dan saya sendiri melepaskan komitmen untuk maju sebagai satu paket dalam Pilkada Ngada musim ini,” ujarnya.
Menurut Greg, Anis Tay Ruba adalah orang yang mempunyai kapabilitas mumpuni dan track record atau rekam jejak yang sangat teruji dalam pemerintahan.
Dengan segudang pengalamannya, ATR sangat layak dan pantas menjadi salah satu calon pemimpin Ngada dan NTT.
“Saya sendiri belajar banyak dari Beliau selama kemitraan kami selama ini,” ungkapnya.
Greg mengungkapkan, sebagai politisi, dirinya menyadari betul kalau ada yang kecewa terhadap keputusan tersebut.
Namun, dia menegaskan bahwa politik itu dinamis dan mesti selalu melihat peluang.
“Saya menyadari betul bahwa keputusan ini ada yang kecewa, baik dari pendukung GUD maupun ATR. Tapi, ini kan politik dan dalam politik kita melihat peluang,” tegasnya.
Terkait Bakal Calon Bupati Ngada Paulus Soliwoa, ia mengaku telah membangun komitmen bersama menuju perhelatan Pilkada Ngada.
“Yang Jelas bahwa kita sudah bangun komunikasi, melalui zoom meeting, WA (Whatsapp), dan telepon. Karena situasi Covid ini terpaksa kita hanya mengandalkan teknologi,” ungkapnya.
Menurut Greg, pembangunan Kabupaten Ngada mesti dilakukan secara berkesinambungan dan tidak boleh terhenti.
Bergabungnya dirinya bersama Paulus Soliwoa dilakukan atas dasar kesamaan visi-misi dalam membangun Ngada.
“Om Paulus ini adalah sosok yang tepat. Beliau kaya akan pengalaman. Jika kita bicara data dan fakta, memang Ngada ini pembangunan positif,” ujarnya.
Menurut Greg, selama kepemimpinan Soliwoa, dirinya melihat, banyak prestasi telah dicapai Beliau saat memimpin Ngada, mulai dari indeks pembangunan manusia sampai pertumbuhan ekonomi.
Greg menjelaskan, hal fenomenal yang terjadi di Kabupaten Ngada selama kepemimpinan Soliwoa adalah penurunan jumlah stunting di Kabupaten Ngada.
“Kalau kita bicara masalah stunting ini berarti kita bicara tentang kesehatan masyarakat Ngada dan gizi keluarga. Jika itu sukses berarti Beliau berhasil,” ujarnya.
Menurut Greg, untuk membangun Ngada, ia tentu memilih orang yang tepat.
Menurut dia, dengan sejumlah prestasi dan pengalamannya, Paulus Soliwoa adalah orang yang tepat untuk membangun Ngada.
Anis: Saya Kecewa!
Anis Tay Ruba ketika dikonfirmasi EKORA NTT membenarkan kabar perpisahan dirinya dengan GUD.
Menurutnya, sebelumnya, Gregorius Upi Dheo meneleponnya saat ia masih berada di Bajawa.
Greg memintanya untuk bertemu di Kupang.
“GUD menyampaikan bahwa dirinya minta waktu untuk bertemu saya di Kupang pada Sabtu (27/6). Oleh karena itu, pada Jumat (26/6), saya berangkat dari Bajawa menuju Kupang. Sebelumnya, saya berada di Bajawa untuk melakukan koordinasi dengan Tim GUD-ATR. Koordinasi yang saya lakukan tersebut sebenarnya atas permintaan GUD, karena selama Pandemi Covid-19, koordinasi dengan tim pemenangan di Ngada, hanya dapat dilakukan melalui telepon,” paparnya.
Menurut Anis, saat tiba di Kupang, ia tidak menyangka tujuan kedatangan GUD adalah untuk berpamitan dan untuk menyampaikan bahwa mereka tidak bermitra lagi.
“Saya tidak menyangka bahwa GUD hendak berpamitan dan bahwa GUD tidak ingin lagi bermitra dengan saya dalam Pilkada, setelah perjuangan yang disepakati bersama oleh kami berdua dalam paket GUD – ATR,” bebernya.
Anis mengaku kecewa terhadap keputusan tersebut.
Apalagi, menurutnya, sudah hampir satu tahun, ia bersama GUD melakukan sosialisasi diri menuju Pilkada Ngada dengan akronin GUD-ATR.
“Saya hanya tertegun dan diam. Istri saya yang bicara dan memang sejujurnya kami sangat kaget. Kalau mau dikatakan kecewa, memang saya kecewa. Tetapi, ini adalah politik. Saya harus berbesar hati menerimanya. Sebab, itu hak politik GUD,” ungkapnya.
ATR menambahkan, setelah mendengar penyampaian GUD, ia memendam rasa kecewa tersebut selama beberapa hari.
“Bagaimanapun, kebersamaan yang kami lalui lebih dari 1 tahun. Tidak gampang untuk dilupakan. Tetapi, sebenarnya, hal yang paling mengganggu pikiran saya adalah bagaimana saya bertanggungjawab terhadap keluarga, tim sukses, simpatisan, juga para pendukung,” katanya.
Meskipun demikian, Anis tetap membuka ruang bagi Bakal Calon Bupati Ngada yang ingin berpasangan dengannya dalam Pilkada Ngada pada Desember 2020 mendatang.
Soliwoa: Lanjutkan Visi – Misi
Bupati Ngada Paulus Soliwoa membenarkan keputusannya untuk maju di Pilkada Ngada.
Ia mengambil keputusan tersebut untuk melanjutkan visi-misi pembangunan Ngada sebelumnya.
“Ini memang pilihan sebagai Bupati sekarang. Memang, melihat kondisi bahwa apapun yang kita lakukan, pengalaman sepuluh tahun ini masih banyak hal yang masih kurang, belum baik, belum sempurna. Bahkan mungkin ada yang belum ada. Oleh karena itu, dari aspek aturan, saya masih diberi ruang untuk menjabat satu kali,” ujar Soliwoa.
Soliwoa membenarkan bahwa ia telah memilih Gregorius Upi Dheo sebagai wakilnya di Pilkada Ngada 2020 ini.
“Kalau GUD sudah pasti, iya. GUD sudah pasti. Wakil saya itu GUD,” ujarnya.
Soliwoa bahkan menyebutkan, sudah ada dua Partai yang akan mengusung PS-GUD dalam Pilkada Ngada pada Desember 2020 mendatang. Dua partai itu adalah Partai NasDem dan Partai Demokrat.
Pragmatisme Mengejar Kuasa
Pengamat Maalah Soial dan Politik Petrus Kanisius Siga Tage berpendapat, perpisahan dengan ATR dan merapatnya GUD ke PS adalah langkah realistis yang ditempuh oleh Greg, dan demokrasi mengizinkan itu.
Namun, menurut dia, langkah pragmatis ini juga menarik dan menyimpan bahaya lain, terutama bagi koalisi baru ini, mengingat sang petahana, sejauh ini, selain hanya memiliki kuda pacu Parpol dan latar belakang incumbent, ia tidak punya kapasistas lain yang bisa dipakai sebagai barometer untuk mengukur bahwa ia layak untuk bertarung kambali.
“APBD yang seret, pembangunan pendidikan yang buruk, dan pengelolaan pariwisata yang tidak tepat sasar selama kepemimpinan petahana, adalah daftar panjang soal rendahnya kapabilitas petahana,” kata Rusni.
Tak cukup sampai di situ, lanjut Rusni, di ruang publik, berhembus berita dugaan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) berkaitan dengan pengangkatan sejumlah pejabat di beberapa Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) yang sejauh ini tidak pernah dibantah.
“Faktor-faktor semacam di atas jika tidak dikomunikasikan dengan baik akan menjadi kerikil tajam di masa kampanye yang serentak dapat menggerus elektabilitas PS-GUD,” kata Rusni.
Langkah koalisi ini, demikian Rusni, bagaimanapun, akan memperhadapkan GUD ke dalam posisi sulit. Sedikit banyak, ia harus mengubah proyeksi program kerja yang telah dikampanyekan sejauh ini bersama ATR. Dan boleh jadi, jika itu digabungkan dengan program PS kelak mungkin akan ada perbedaan.
“Bagi saya, ini tidak lebih dari bentuk inkonsistensi akibat tekanan pragmatisme, balutan apa pun yang digunakan untuk menutup langkah semacam ini, tidak terlalu menggembirakan. Sebab, akhirnya, kita akan tahu tujuannya cuma satu: mengejar kuasa,” kata Rusni.
Beban Petahana
Tokoh Muda dari Ngada Hancel Goru berpendapat, keputusan Petahana untuk kembali maju dalam kontestasi Pilkada Ngada 2020-2024 adalah hak politik Paulus Soliwoa yang dijamin oleh undang-undang.
Namun, menurut Hancel, sebagai masyarakat, Petahana punya beban tambahan selain soal menang-kalah atau membuat janji baru perihal melanjutkan kerja-kerjanya.
Beban tambahan itu adalah Petahana mesti mengingatkan kembali pada publik tentang janji-janji Petahana di periode lalu, membuat evaluasi dan pertanggungjawaban pada Publik luas secara transparan dan akuntabel tentang keberhasilan maupun kegagalan, lalu merumuskan ulang arah pembangunan Ngada ke depan, apalagi di tengah situasi yang serba tak menentu seperti saat ini dan periode kepemimpinan yang hanya kurang lebih tiga tahun lebih.
“Agak disayangkan, ketika anak muda enerjik dengan sejumlah ide-ide segar, progresif, dan inovatif, serta bebas dari beban masa lalu seperti Bung Greg Upi Dheo harus berpasangan dengan Petahana,” pungkas Hancel.
September Mulai Kampanye
Ketua KPUD Ngada Stanislaus Neke menjelaskan, berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 5 Tahun 2020 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Pemilihan Serentak 2020, masa kampanye bagi pasangan calon bupati dan wakil bupati akan dilaksanakan pada 26 September sampai 5 Desember 2020 dengan menaati Protokoler Kesehatan Pencegahan Covid-19.
Menurut Stanislaus, setiap pasangan calon bisa melakukan kegiatan kampanye berupa rapat umum dan pentas seni atau kebudayaan.
Kegiatan rapat umum dapat dilakukan di ruang terbuka.
Kegiatan itu dilaksanakan pada pukul 09.00 WITA – 17.00 WITA dengan menghormati waktu ibadah di Indonesia.
“Dalam pelaksanaan kampanye harus di daerah zona hijau dan mendapat rekomendasi dari Tim Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan Covid – 19,” ujarnya.
Stanislaus menjelaskan, jumlah massa paling banyak 50 persen dari kapasitas ruangan yang disiapkan dengan menjaga jarak minimal 1 meter setiap orang.
Seperti kita ketahui, Pilkada Serentak akan diselenggarakan kembali pada tahun 2020 mendatang.
Ada 270 daerah yang akan mengikuti Pilkada Serentak ini.
Ke-270 daerah itu adalah 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.
Pilkada Serentak 2020 seharusnya diikuti 269 daerah, tetapi menjadi 270 karena Pilkada Kota Makassar diulang pelaksanaannya.
Sembilan kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur akan menggelar Pilkada serentak pada tahun 2020 mendatang.
Sembilan kabupaten tersebut yakni, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Sabu Raijua, Sumba Timur, Sumba Barat, Ngada, Manggarai Barat, dan Manggarai.












