Kisah Sukses Dedy Fernandez, Petani Bawang Asal Flotim dan Provokasi Kalender Dinding

Larantuka, Ekorantt.comRaung kendaraan memecah kesunyian lokasi pertanian warga di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur. Sekitar 20 menit perjalanan dari jalan negara trans Larantuka-Maumere, kami tiba di pondok kebun milik Dedy Fernandes, petani bawang di Konga.

Perjalanan ke area pertanian milik warga di Desa Konga memang butuh kelihaian lebih saat mengendarai sepeda motor, lantaran harus melewati beberapa anak sungai. Beberapa kali saya dan anggota rombongan harus bertarung dengan bebatuan, kerikil yang licin, dan lumpur yang membasahi sepatu.

Hari itu Sabtu, 11 Oktober 2020, Dedy Fernandez panen perdana bawang di lahan pertaniannya. Sejak tiga tahun lalu, ia menyulap areal pertaniannya jadi kebun bawang yang berkualitas.

“Tiga tahun yang lalu. Saya membuka lahan ini seluas 1,5 hektare. Mayoritas petani di Konga sini banyak yang menjadi petani pangan. Oleh karena itu ketika mulai membuka lahan ini, saya tergugah untuk mulai menanam bawang. Bawang lebih menjanjikan,” ungkap Dedy.

Jenis bawang yang ditanam adalah jenis bawang biji. Menurutnya, menanam bawang biji adalah pilihannya sebab lebih murah dan lebih menguntungkan.

Dikatakan Dedy, bawang biji merupakan potensi yang belum digali oleh kebanyakan petani.

“Saya menanam bawang biji karena biaya operasional lebih murah dari pada bawang umbi. Bawang umbi lebih tinggi biaya operasionalnya. Bawang umbi satu hektare butuh 1 ton. Satu kilo harganya Rp30.000. Maka biaya operasional satu hektarr dibutuhkan Rp30 juta. Kalau bawang biji, satu hektare butuh 6 bungkus saja. Harga Rp 6 juta. Jadi selisihnya jauh sekali,” jelasnya.

“Keistimewaan bawang jenis ini karena biasanya ditanam saat musim hujan. Spesifikasi bawang ini, dia suka air tapi tidak suka becek. Di saat usia vegetatif, dia membutuhkan banyak air. Tanah di sekitarnya mesti basah terus karena butuh banyak air untuk proses pertumbuhan. Tapi ketika sudah generatif, kita kurangi airnya. Dia seperti padi,” jelas Dedy menambahkan.

Dedy menuturkan bahwa bibit bawang, ia peroleh dari bantuan pemerintah. Bibit bawang biji sengaja digunakan untuk mengantisipasi melonjaknya harga bawang saat musim hujan.

“Kualitas bawangnya juga baik. Rasanya pedis dan memiliki aroma yang harum, umbinya pun besar. Sehingga saya selalu bilang, bawang ini adalah bawang super, kualitas terjamin, harga terjangkau.  Kalau harga pasaran; bawang umbi satu kilo dengan Rp20 ribu, bawang biji satu kilo hanya Rp15 ribu. Bahkan ada yang hanya Rp10 ribu per kilo,” jelas Dedy.

Terprovokasi Tulisan Kalender

Saat memulai usaha bawang, Dedy sempat terkendala modal. Rencananya itu bisa saja batal karena tak punya modal.

Suatu waktu ia bertamu ke rumah tetangga. Saat asyik berbincang-bincang, matanya tak sengaja mengarah pada sebuah kalender yang tergantung di dinding rumah. Ia terprovokasi dengan sebuah kalimat yang menyatakan “Di mana-mana ada Pintu Air, Pintu Air ada di mana-mana, siap mendampingi anda menjadi orang kaya”.

“Gila, yang benar saja?” begitu gumamnya dalam hati. “Jarang menemukan lembaga keuangan yang memiliki visi menjadikan anggota kaya” kisahnya.

“Kapan ada institusi keuangan yang menjadikan anggota kaya. Saya termotivasi. Jadi saya ikut masuk. Saya optimis bisa jadi kaya,” kenang Dedy bersemangat.

Setelah mendaftarkan diri dan aktif sebagai anggota, Dedy mendapatkan bantuan dana pinjaman sebesar  6 juta rupiah. Pinjaman yang ada digunakan modal awal usaha, mulai dari pengadaan bibit, proses pembibitan, hingga produksi.

Setelah melewati masa-masa sulit, kini Dedy mulai menikmati hasilnya. Satu saja harapannya agar petani-petani lain di Konga mendapatkan suntikan modal sebagaimana yang ia alami. Sebab mimpi terbesar Dedy adalah kelak Desa Konga bisa menjadi sentra produksi bawang super untuk Flores Timur.

“Ke depannya saya ingin kembangkan lagi seluas 1,5 hektar bawang. Ke depannya bisa menjad ikon untuk orang Konga,” harap Dedy.

Sementara itu, Ketua Komite KSP Kopdit Pintur Air Cabang Boru, Martina Ina Lewu menjelaskan Pintu Air berfokus pada pemberdayaan petani, peternak, nelayan, dan buruh.

“Kami sangat bangga dengan Pak Dedy Fernandez. Walaupun pinjaman begitu kecil tetapi beliau dapat mengembangkan modal tersebut dengan baik sehingga dapat menghasilkan usahanya dengan luar biasa baik. Ini adalah tujuan kami,” jelas Martina.

Martina  berharap, keberhasilan Dedy membuka harapan bagi petani yang lainnya untuk menjadi anggota.

“Kami mau supaya dengan adanya satu anggota yang berhasil menggunakan modal dari Pintu Air, yang lain juga bisa,” kata Martina.

TERKINI
BACA JUGA