Tujuh Komoditas Dongkrak Ekonomi Sikka, Perputaran Uang Capai Rp1,3 Triliun per Tahun

Kementerian Pertanian (Kementan) RI melalui Dirjen Perkebunan kembali mengalokasikan anggaran tahun 2026 untuk Kabupaten Sikka demi mendukung pengembangan komoditas unggulan.

Maumere, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Sikka mencatat sedikitnya ada tujuh komoditas unggulan yang mendongkrak ekonomi masyarakat. Ketujuhnya antara lain; kelapa, kakao, jambu mete, cengkih, pala, lada, dan vanili.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Markus Dua berkata, dari tujuh komoditas tersebut, cengkih menjadi komoditas dengan nilai jual tertinggi dengan kisaran harga Rp100 ribu per kilogram. Sedangkan harga terendah terdapat pada kopra dengan kisaran harga Rp20 ribu per kilogram.

“Perputaran ekonomi dari tujuh komoditas ini diperkirakan mencapai Rp1,3 triliun per tahun, dan menjadi sumber penghidupan utama bagi masyarakat Kabupaten Sikka,” kata Markus saat ditemui Ekora NTT di Kantor Dinas Pertanian Sikka, Rabu, 25 Februari 2026.

Ia menambahkan, total luas lahan untuk tujuh komoditas unggulan tersebut mencapai sekitar 59 ribu hektare, dengan produksi tahunan berada di kisaran 28 ribu ton atau 28 juta kilogram per tahun.

Kementerian Pertanian (Kementan) RI melalui Dirjen Perkebunan kembali mengalokasikan anggaran tahun 2026 untuk Kabupaten Sikka demi mendukung pengembangan komoditas unggulan.

Menurut Markus, anggaran ini untuk mengembangkan komoditas seperti jambu mete seluas 1.200 hektare, kakao sambung pucuk 2.500 hektare, pala 600 hektare, dan kopi arabika 300 hektare.

“Total seluruhnya kurang lebih enam ribu hektare. Sedangkan harian orang kerja (HOK) saya belum sampaikan karena masih menunggu petunjuk teknis resmi sebagai dasar perhitungan,” ujarnya.

Ia melanjutkan, data total kelompok tani yang menerima bantuan pada tahun 2026 belum direkapitulasi. Markus berkata “karena hari ini adalah hari terakhir pengiriman data calon CPCL (petani calon lokasi) penerima bantuan untuk perkebunan.”

Berdasarkan analisis potensi wilayah, kawasan pesisir Magepanda, Alok Barat Kangae, Waigete, dan Talibura sangat potensial untuk pengembangan jambu mete. 

“Wilayah ini berada di ketinggian 0-400 meter dari permukaan laut sangat cocok untuk tanam jambu mete,” ujar Markus.

Sedangkan pala memiliki potensi pengembangan yang baik di daerah dengan ketinggian 500 sampai 800 meter dari permukaan laut. Jenis komoditas ini cocok dikembangkan di wilayah Paga, Tanawawo, Mego, Nita, Doreng, Hewokloang, Bola, Waiblama dan Talibura.

Lalu, kakao sambung pucuk cocok dikembangkan di hampir seluruh wilayah Kabupaten Sikka. Kemudian, kopi Arabika difokuskan di dataran 800 sampai 1000 meter dari permukaan laut. Lokasi kopi Arabika meliputi pedalaman Kecamatan Tanawawo dekat kawasan hutan, Doreng, Mego, Nita, Mapitara, Waiblama dan Talibura.

Pada 2025, kata Markus, pemerintah pusat melalui Dirjen Perkebunan dan Pemda mengalokasikan bantuan perluasan komoditas mencakup jambu mete seluas 350 hektare, kakao 50 hektare, dan pala 500 hektare.

Di tahun 2025, realisasi kegiatan yang diterima oleh masyarakat dinyatakan 100 persen. Petani yang menerima bantuan ini mendapat harian orang kerja (HOK) sebesar Rp1.600.000 per hektare.

Pada Rabu, 26 Februari 2026, para petani melakukan proses pencairan keuangan.

“Sebelum mereka melakukan proses pencairan, saya sudah turun ke lapangan memastikan pekerjaan fisik sudah 100 persen dan petani siap membuat surat pernyataan sebagai bukti sah pekerjaan sudah selesai,” jelas Markus.

TERKINI
BACA JUGA