Larantuka, Ekorantt.com – Pemerintah Kabupaten Flores Timur menetapkan status tanggap darurat bencana alam gempa selama tiga bulan ke depan dari 9 April hingga 8 Juli 2026.
Selama masa itu, bantuan logistik terhadap korban gempa terus mengalir dan diharapkan menyasar semua wilayah terdampak di Desa Terong dan Lamahala, Kecamatan Adonara Timur, maupun empat desa di Kecamatan Solor Timur.
Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty AC Nebo Tukan, mengatakan bantuan tambahan datang dari Pemprov NTT berupa dua ton beras dan 850 kaleng sarden. Distribusi bantuan tetap merujuk pada data dari pemerintah desa dan kecamatan.
“Tidak semua warga otomatis menerima beras, hanya keluarga yang terdampak langsung yang benar-benar membutuhkan,” kata Maria kepada awak media di Larantuka pada Kamis, 16 April 2026.
Ia menuturkan, sehari setelah gempa besar yang merobohkan ratusan rumah pada 9 April, BPBD Flores Timur sudah melakukan tindakan cepat. Petugas langsung menyalurkan logistik ke wilayah terdampak.
Bantuan yang terdistribusikan, paparnya, antara lain 116 kasur lipat, 500 lembar tikar dan matras, 484 selimut, 3,5 ton beras, 101 terpal, 23 unit tenda, dan masih banyak logistik lain termasuk perlengkapan mandi.
Maria menambahkan, kondisi geografis wilayah kepulauan menjadi tantangan tersendiri bagi petugas lapangan dalam proses distribusi bantuan. Bantuan disalurkan ke satu titik demi menghemat anggaran.
“Strategi dropping barang di satu titik untuk dijemput tim dari pulau lain. Stok logistik terbatas sehingga distribusi beras dilakukan selektif, hanya bagi keluarga terdampak langsung,” ucapnya.
Sejauh ini, dapur umum belum dibuka lantaran menunggu proses administrasi dan penetapan surat keputusan (SK). Pemkab Flores Timur berjanji bakal membangun pos komando untuk meningkatkan penanganan.
Maria mengingatkan kepada masyarakat agar terus berwaspada. Gempa susulan berpotensi terjadi, kendati intensitasnya berangsur landai.
“Jangan panik dan selalu mengikuti arahan pemerintah desa maupun kecamatan. Hindari bangunan yang sudah rusak,” tuturnya.
Tim teknis BPBD Flores Timur, Dinas PUPR Flores Timur dan Dinas Perumahan Flores Timur melakukan identifikasi kerusakan 611 unit rumah rusak, baik ringan maupun rusak berat.
Korban terdampak terdata berjumlah 3.242 jiwa, meliputi 16 desa di Kecamatan Adonara Timur dan Solor Timur. Gempa dengan total ratusan kali itu tidak merenggut korban jiwa, hanya 18 warga yang mengalami luka.
Di sisi lain, berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan rumah kemungkinan disebabkan oleh konstruksi bangunan yang tak mampu menahan guncangan gempa.
Selain itu, letak desa-desa terdampak cukup dekat dengan titik koordinat gempa. Gempa beruntun dengan kekuatan kurang dari magnitudo 3,0 sangat terasa saat berada di Desa Terong dan Lamahala. Getaran juga terasa di Desa Motonwutun dan desa-desa sekitarnya di Solor Timur.
Hingga kini, warga masih bertahan di tenda-tenda darurat yang dibangun di halaman terbuka. Mereka enggan melakukan aktivitas di dalam rumah.
Paul Kabelen













