Warga Desa Paralando Bakar Jeriken Kosong Saat Demonstrasi di Kantor Bupati Manggarai

Sebastianus Jaya, orator lainnya berkata, ibu-ibu di desanya masih memikul jeriken, bahkan lansia masih berjalan ratusan meter demi mendapatkan air.

Ruteng, Ekorantt.com – Pedemo yang tergabung dalam Forum Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Manggarai melakukan aksi bakar jeriken di depan kantor Bupati Manggarai pada Senin, 4 Mei 2025.

Mereka melakukan aksi ini sebagai bentuk protes terhadap krisis air bersih yang dialami masyarakat di Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat.

Benediktus Dola, salah satu orator berkata, aksi pembakaran jeriken merupakan aksi simbolis mengkritik pemerintah yang belum memberikan solusi terhadap krisis air di Paralando. “Jeriken ini tidak ada gunanya lagi,” kata dia.

Benediktus bilang, negara gagal memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Orator lainnya, Florentianus Nadriyani Mbey menegaskan, pemerintah seharusnya tidak hanya melihat Manggarai dari kota Ruteng saja, namun harus turun langsung menemui masyarakatnya di pelosok-pelosok.

“Turunlah ke masyarakat-masyarakat Anda,” katanya.

Hingga sekarang, warga menjerit dan menyuarakan masalah air minum bersih di Desa Paralando. “Kami masih memperjuangkan untuk mendapatkan air minum, yang menjadi sumber hidup kami.”

Ia mengkritik Bupati Manggarai Herybertus G. L. Nabit asyik menikmati air bersih, sementara warga Paralando menikmati air keruh di kubangan kerbau dan sapi. “Sungguh-sungguh miris.”

Mbey menyentil proyek Uprating Instalasi Pengolahan Air (IPA)/Penambahan Sumur Dalam Terlindungi/Broncaptering beranggaran Rp973.000.000 bersumber dari Dana Alokasi Khusus tahun 2025 di Paralando yang penuh kontroversi. Kendati begitu, masih ada 22 kepala keluarga belum menikmati air minum.

“Justru sumber hidup mereka penuh dengan persoalan. Tetapi, hari ini apakah Pemerintah Manggarai memperhatikan? Tentu tidak. Karena masyarakat Desa Paralando masih menyuarakan persoalan yang sama,” ucapnya.

Sebastianus Jaya, orator lainnya berkata, ibu-ibu di desanya masih memikul jeriken, bahkan lansia masih berjalan ratusan meter demi mendapatkan air.

“Ini bukan cerita lama. Ini adalah realitas hari ini,” kata dia sembari menambahkan, masyarakat masih berjuang untuk mendapatkan air minum yang layak.

“Kami datang untuk mengingatkan: rakyat kecil juga harus dilihat dan diperhatikan.”

Pukul 12.30 Wita, massa aksi hendak masuk kantor bupati untuk berdialog dengan Nabit.

Namun, gerbang kantor itu dijaga ketat oleh aparat keamanan, polisi dan Satuan Polisi Pamong Praja. Aksi saling dorong pun terjadi.

Di tengah aksi saling dorong, Nas Huwa yang berseragam Polisi Pamong Praja menyatakan bahwa Bupati Nabit dan wakilnya Fabianus Abu sedang bertugas di luar daerah.

“Bupati dan wakil bupati sedang berada di luar kota,” katanya.

Massa aksi tetap bersikeras untuk mengecek langsung di dalam kantor. “Kami mau cek sendiri,” kata salah satu massa aksi.

Karena terus dijaga ketat, massa aksi pun merasa kecewa dan melanjutkan unjuk rasa di kantor DPRD Kabupaten Manggarai, yang jaraknya sekitar 750 meter dari kantor Bupati.

TERKINI
BACA JUGA