Salib Berhiaskan Kristal Ditemukan di Pantai Konga Flores Timur

Pada kedalaman sekitar tiga meter, ditemukan lagi dua patung bercorak kerjaaan, dua bingkai kayu bermotif, dan sebuah kain merah.

Larantuka, Ekorantt.com – Sebuah salib berhiaskan batu berkilau dan sejumlah arca bercorak kerajaan ditemukan warga saat menangkap ikan di pantai Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, Senin, 4 Mei 2026 malam.

Benda pusaka itu ditemukan Bernardus Budi Bukan, penyintas erupsi Gunung Lewotobi asal Desa Dulipali yang mengungsi di Huntara Desa Konga. Ia biasa menyuluh ikan untuk kebutuhan lauk bersama keluargaya.

Di laut yang surut, Bernardus awalnya menjumput seekor udang di balik karung berwarna putih. Karung itu rupanya berisi arca-arca bersejarah.

Bernardus kemudian memanggil seorang warga lain yang juga menyuluh ikan. Keduanya membawa karung itu ke basecamp Caritas, sebuah lembaga sosial kemanusiaan di bawah naungan Keuskupan Larantuka yang berlokasi di Desa Konga.

“Semua pusaka ini berbahan besi kuningan, saya juga tidak sengaja menemukannya, pas tangkap ikan,” ujar Bernadus, Selasa, 5 Mei 2026 siang.

Saat karung digelar dan disaksikan beberapa orang, terdapat satu buah salib berhiaskan batu mirip kristal dua warna, sejumlah keris, tongkat berkepala naga, mahkota kerucut, kendi, gelang lengan, dan masih banyak benda lagi yang tak diketahui namanya.

Kepala Desa Konga, Aloysius Sinyo Kung, bersama tokoh masyarakat datang melihat benda dugaan peninggalan kerajaan itu. Dari sana terungkap bahwa masih terdapat beberapa pusaka yang tertinggal.

Antonius Ola Buan bersama dua pemuda Desa Konga kemudian menyelam. Kondisi laut sudah pasang. Pada kedalaman sekitar tiga meter, ditemukan lagi dua patung bercorak kerjaaan, dua bingkai kayu bermotif, dan sebuah kain merah.

Aloysius Kung menyarankan Bernardus agar arca-arca temuan diamankan sementara waktu di Konga, sembari meminta pihak berwenang untuk menelitinya lebih lanjut.

Pertimbangan lain, menurut Aloysius, wilayah Konga yang menjadi tempat transit bangsa Portugis dan Jepang di masa lampau mungkin saja punya kaitan dengan benda pusaka dimaksud.

Wilayah itu juga menyimpan meriam peninggalan Portugis hingga sejumlah patung yang dianggap sakral. Tidak hanya itu, pada April 2025, warga pernah menemukan 16 granat dan 393 diduga sisa-sisa perang dunia II.

Di sisi lain, pemerintah desa dan tokoh adat setempat mengklaim tak punya tujuan tertentu, apa lagi bertujuan menguasai pusaka yang belum diketahui kepemilikan dan asal-usulnya.

“Tapi (arca pusaka) saya sudah bawa dan simpan di kebun, jauh dari sini,” sahut Bernardus Budi Bukan. Jarak kebunnya sekitar 15 kilometer dari Desa Konga.

Dalam dialog lanjutan, para tokoh masyarakat dan  seorang Bhabinkamtibmas juga keheranan lantaran benda pusaka ditemukan di dalam karung. Mereka pun curiga ada pihak yang sengaja melepaskannya ke laut.

Setelah diusut lewat rekan Bernardus, benda-benda itu milik salah seorang warga dari desa tetangga yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Ia cukup dikenal kalangan luas karena sudah banyak membantu orang sakit hingga sembuh.

Dari anaknya yang diarahkan Kepala Desa Konga untuk hadir dalam dialog, diakui bahwa barang itu milik ayahnya yang sudah dilepaskan dengan ritual adat “Tolak Bala” atau menolak sial.

Benda-benda peninggalan kerajaan ia tahu datang dari Jawa. Asal-muasal lebih detil tak diketahui pasti. Keluarga tak ingin menyimpannya lagi.

Atas pengakuan itu, Pemdes Konga dan beberapa tokoh masyarakat meminta agar pusaka itu  dijauhkan. Pasalnya, menurut kepercayaan, barang yang sudah dilepaskan lewat ritual “Tolak Bala” tak biaa diambil lagi karena dianggap akan mendatangkan hal buruk.

Penulis: Paul Kebelen

TERKINI
BACA JUGA