Populasi Komodo Riung Terbanyak Ada di Pulau Ontoloe

Pulau Ontoleo menjadi wilayah dengan jumlah populasi Mbou terbanyak yakni mencapai 100 ekor. Selanjutnya di kawasan Terong Padang terdapat 20 ekor, Cagar Alam Riung 16 ekor, kawasan Wolotadho berjumlah 10 ekor.

Bajawa, Ekorantt.com – Populasi komodo di kawasan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, tercatat paling banyak berada di Pulau Ontoloe. Hasil pengamatan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Provinsi NTT penyebaran reptil purba Riung berada di empat kawasan yakni Torong Padang, Cagar Alam Riung, Cagar Alam Wolotadho, dan Pulau Ontoleo.

Pulau Ontoleo menjadi wilayah dengan jumlah populasi Mbou terbanyak yakni mencapai 100 ekor. Selanjutnya di kawasan Terong Padang terdapat 20 ekor, Cagar Alam Riung 16 ekor, kawasan Wolotadho berjumlah 10 ekor.

“Ini hasil monitoring pada tahun 2025 oleh pihak KSDA melalui sejumlah kamera dan menangkap kehadiran Komodo Riung,” ujar Ketua Forum Konservasi Mbou atau Komodo Riung, Nikolaus Noywuli di Bajawa, Senin, 18 Mei 2026.

Ia menegaskan Mbou masuk dalam jenis Komodo setelah dilakukan tes DNA oleh Kementerian Kehutanan melalui KSDA NTT.

Meskipun demikian, Nikolaus mengaku ukuran Mbou atau Komodo Riung relatif lebih kecil dari Komodo yang ada di Kabupaten Manggarai Barat.

Kebiasaan berburu masyarakat sekitar terhadap rusa dan babi hutan turut mempengaruhi ketersediaan makanan bagi Mbou.

“Kita menduga kenapa dia lebih kecil? Ini mungkin faktor makanan, di mana di Riung persediaan makanan juga terbatas,” tuturnya.

Dengan banyaknya jumlah populasi Mbou, Nikolaus berkata, pihaknya akan menetapkan Pulau Ontole sebagai pusat rehabilitas dan pusat penelitian dan pengamatan.

“Kita sedang mengusulkan Pulau Ontoloe sebagai pusat rehabilitasi Komodo Riung,” ujar Nikolaus.

Ketua Fraksi PDI-P Ngada, Rinus Ndiwal mengaku langkah pemerintah dalam melakukan konservasi Mbou merupakan kebijakan yang positif.

Namun, ia mengingatkan kebijakan tersebut tidak boleh mempengaruhi terhadap ruang tangkap nelayan sekitar.

“Komitmen itu harus mendapatkan dukungan dari semua pihak dan pemerintah harus serius,” ujarnya.

Menurut mantan aktivis GMNI Cabang Kupang ini, pengelolaan potensi tersebut harus dilakukan secara serius dan tidak boleh setengah hati.

Ia mengingatkan pemerintah perlu memperhatikan akses jalan menuju Riung, termasuk di beberapa titik yang dalam kondisi memprihatinkan.

TERKINI
BACA JUGA