Maumere, Ekorantt.com – Rumah BUMN Ende di bawah naungan PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT memberi pelatihan kriya bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kelurahan Hewuli, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka pada Kamis, 21 Mei 2026.
Kegiatan bertema Pelatihan Pewarnaan Alami Kain Tenun untuk Meningkatkan Kreativitas dan Daya Saing UMKM ini diikuti 30 peserta dari kelompok tenun Uli Muti Hewuli.
Pelatihan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk komitmen Rumah BUMN dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar mampu menghasilkan produk kreatifitas, berkualitas, dan berdaya saing.
Mereka menghadirkan instruktur pelatihan yakni Anselina Sidok dan Kristianus Pana yang merupakan pendamping tenun ikat di Kabupaten Sikka. Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka.
Lurah Hewuli, Gelfidus Gonde mengapresiasi karena Rumah BUMN PLN tidak hanya menghadirkan penerangan secara fisik, tetapi juga memberikan penerangan masa depan melalui program pemberdayaan. Ia bersyukur karena Hewuli dipilih menjadi lokus kegiatan tersebut.
“Dengan bekal keterampilan dasar dan ketersediaan bahan, kehadiran rumah BUMN membawa inovasi baru yang menjadi kolaborasi ideal. Hal ini mampu meningkatkan produksi tenun dan pendapatan keluarga, mengingat tenun ikat di Kelurahan Hewuli merupakan roda utama penopang ekonomi keluarga,” ujarnya.
Menurut Gelfidus, tenun ikat bukan hanya soal kain melainkan identitas dan jati diri budaya. Oleh karena itu, warisan ini harus dilestarikan, apalagi proses pembuatannya ramah lingkungan.
“Mengingat harga sarung pewarna alam yang mahal bagi masyarakat kelas bawah, maka harus mulai merancang produk turunan seperti tas, topi, dan dompet,” tutur dia.
Gelfidus meminta BUMN Ende turut memfasilitasi dan membantu pemasaran, mengingat kesulitan itulah yang selama ini para anggota kelompok hadapi.
Fasilitator Rumah BUMN PLN Ende, Albert Magnus Say mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan teknik pewarnaan alami pada kain tenun dengan memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti daun, akar, kulit kayu, dan tumbuhan lokal lainnya.
Menurutnya, selain ramah lingkungan, penggunaan pewarna alami juga memberikan nilai tambah pada produk tenun, sehingga memiliki ciri khas dan daya tarik tersendiri di pasar.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan bahan pewarna alami, teknik pengolahan warna, proses pencelupan kain, hingga cara menjaga kualitas hasil pewarnaan agar tahan lama.
“Peserta juga diberikan kesempatan untuk melakukan praktik langsung sehingga memahami setiap tahapan proses secara lebih baik,” ujar Albert.
Ia berharap melalui pelatihan ini, para pelaku UMKM mampu menghasilkan produk tenun yang lebih kreatif, inovatif, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi langkah nyata dalam melestarikan budaya tenun tradisional sekaligus mendukung pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Albert menambahkan, pengembangan produk tenun dengan pewarna alami berpeluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.
Oleh sebab itu, dia berharap para pelaku UMKM di Kelurahan Hewuli dapat terus berkembang, meningkatkan kualitas produknya, serta mampu bersaing di pasar lokal maupun nasional melalui inovasi produk tenun berbasis kearifan lokal.













