Sopir Proyek Jalan ke Huntap Lewotobi Mogok Kerja Buntut Upah Tak Dibayar

Para sopir berkumpul di persimpangan jalan di wilayah Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, membicarakan hak mereka.

Larantuka, Ekorantt.com – Puluhan sopir dump truk dalam proyek jalan ke hunian tetap (Huntap) Gunung Lewotobi di Kabupaten Flores Timur, NTT, mogok kerja. Mereka kecewa dengan PT Dewi Graha Indah lantaran belum membayar upah dan sewa kendaraan selama lebih dari sebulan terakhir.

Aksi mogok kerja turut disaksikan Ekora NTT, Kamis, 4 Juni 2026 pagi. Puluhan kendaraan tampak mengular pada ruas jalan yang baru diaspal mulus sejak beberapa waktu lalu tersebut.

Para sopir berkumpul di persimpangan jalan di wilayah Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, membicarakan hak mereka. Tak ada lagi aktivitas pengangkutan material pasir dan batu yang biasa hilir mudik oleh armada tersebut dari pagi hingga petang.

Para sopir mengaku satu kendaraan dikontrak sebesar Rp16 juta per bulan. Mereka umumnya mulai bekerja pada Januari 2026 dalam proyek yang bersumber dari dana APBN senilai Rp41,5 miliar.

Namun, pada Mei 2026, hak mereka belum dibayar sepeser pun. Bahkan beberapa diantaranya sudah lewat tenggang waktu. Mereka lantas mogok kerja setelah permintaan yang telah disampaikan beberapa kali tak berefek.

“Bulan ini belum bayar. Kami sudah sampaikan kepada pak mereka (pihak PT Dewi Graha Indah), mereka hanya minta kami bersabar dan bersabar lagi,” kata salah seorang sopir yang meminta tak menyebutkan namanya.

Sopir di sana enggan menyampaikan nama ke media massa lantaran khawatir. Sebab, beberapa waktu lalu, ada kalimat bernada ancaman bahwa mereka akan diganjal pemutusan kontrak kerja jika tidak bersikap kooperatif.

“Kami hanya ingin hak kami segera dikasih, pak. Kami di rumah juga dikejar angsuran utang dan biaya hidup. Kami harus bagaimana lagi?” ungkapnya.

Selama sebulan, para sopir dituntut bekerja tanpa libur sehingga menggenapi jumlah 30 hari, dengan estimasi satu hari sebanyak 15 kali reit angkutan material pasir dari titik galian di Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura ke proyek yang jaraknya mencapai 4-9 kilometer.

Mereka berkata, pihaknya dan PT Dewi Graha Indah telah bersepakat soal pembayaran dipanjar di awal bulan Rp6 juta. Sementara Rp10 juta tersisa akan dilunasi pada jatuh tempo.

“Jadi ini sudah tidak sesuai dengan kesepakatan. Yang kami kerja juga sudah tidak sesuai dengan kalender hari kerja lagi, karena kami tidak ada hari libur. Sampai saat ini upah kami belum dibayar,” katanya.

Para sopir akan melanjutkan pekerjaannya bila upahnya terealisasi. Mereka meminta pemahaman dari penyedia terhadap nasib hidup pekerja lapangan.

Pihak PT Dewi Graha Indah melalui operasional dan logistik, Farisal, belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi terkait aksi mogok puluhan sopir dump truck.

Sementara PPK 4.5 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT, Viktor Nalle, selaku penanggung jawab dalam proyek jalan ke hunian tetap juga belum memberikan penjelasan lebih lanjut.

Viktor Nalle saat hendak diwawancara mengaku sedang menghadiri rapat penting bersama Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen. Ia meminta waktu beberapa saat kemudian atau setelah selesai agenda dimaksud.

“Sedang rapat di Kantor Bupati, selesai saya bisa hubungi kembali,” kata Viktor melalui pesan WhatsApp.

Paul Kabelen

TERKINI
BACA JUGA