Larantuka, Ekorantt.com – Langkah kaki Yosef Ratu Lewar (47) terhenti ketika memasuki gelanggang sawah. Matanya terperangah melihat kawanan tikus yang berlari dari badan jalan ke tanaman padi di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, Kamis, 16 Juli 2026.
Pemandangan ini selalu terlihat kasat mata jika melintas di Jalan Trans Flores Larantuka-Maumere, antara Desa Kobasoma dan Konga. Tikus juga menyeberangi jalan raya. Mamalia pengerat kecil itu kerap dilindas sepeda motor dan mobil.
Hama tikus dalam jumlah besar diperkirakan muncul sejak pertengahan 2025. Petani sempat melakukan upaya pencegahan secara swadaya dengan pendampingan penyuluh pertanian. Namun populasi hama tikus masih belum terkendali.
Hama tikus mendatangkan bencana bagi kelangsungan hidup warga desa. Padi milik petani ludes dalam sekejap mata.
Petani akhirnya mengalami gagal panen hingga rugi puluhan juta rupiah. Belum lagi cuaca yang tak menentu bikin petani tambah sedih.
“Ini memang bencana yang nyata, kami sudah berusaha dengan cara-cara sederhana tetapi tidak membuahkan hasil maksimal. Kami minta tolong, kami khawatir gagal panen total,” tutur Yosef.
Yosef yang adalah Ketua Kelompok Tani (Poktan) Peten Lewo Poe Pore di Desa Konga memiliki 10 petak sawah. Ia sudah membajak semua petak dan menanti untuk tanam.
“Tetapi mungkin saya tunda dulu karena kondisi tidak memungkinkan,” ungkapnya.
Yosef dan sejumlah petani juga berencana menutup sementara saluran air induk. Mereka juga mau menerapkan sistem penanaman serentak dimi meminimalisir hama.
“Selama ini pola tanam belum teratur, ada yang lebih dulu tanam, ada yang kemudian. Memang cara ini belum ampuh tetapi kita coba terapkan langkah-langkah kecil dulu,” ujar Yosef.
Petani lain, Martinus Juang Lewar, bilang 10 hektare dari 15 hektare lahan yang diserang hama, mengalami puso atau gagal panen total. Ia telah mengupayakan berbagai cara, mulai dari sanitasi lahan hingga membeli racun, namun tidak membuahkan hasil.
“Mungkin kita sering gunakan racun jadi hama macam sudah terbiasa, apa lagi akhir-akhir ini cuaca sangat tidak menentu,” tuturnya.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mengklaim telah mengidentifikasi dampak serang hama tikus di Desa Konga. Tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga gagal panen total.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Yoseph Sadi Open, mencatat 18 hektare masuk kategori ringan, 1,65 hektare kategori sedang, dan 0,35 hektare rusak berat. Lahan sawah seluas 0,60 hektare lahan dipastikan mengalami puso atau gagal panen.
Dinas Pertanian yang didukung personel lapangan, kata dia, kewalahan untuk mengatasi masalah hama tikus. Stok obat pembasmi tikus sedang kosong.
“Kami sudah koordinasi dengan mengajukan permintaan ke Dinas Pertanian NTT, sudah ada jawaban. Flores Timur dibantu 100 kilogram, dalam waktu dekat akan tiba untuk selanjutnya kami distribusi dan dilakukan penanganan,” ujarnya.
Yoseph hanya bisa meminta petani selalu menjaga dan memperhatikan kebersihan sawah serta lingkungan sekitar persawahan.
Penulis: Paul Kabelen













