Ruteng, Ekorantt.com – Yayasan Ayo Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Social Emotional Learning (SEL) bagi penyandang disabilitas dan caregiver yang mengikuti Program Kelompok Usaha Bisnis Inklusif atau KUBIK di Efata Ruteng pada 30-31 Juli 2026.
Pelatihan ini memperkuat kepercayaan diri penyandang disabilitas dan caregiver. Kemampuan sosial dan emosional menjadi penting untuk membangun kepercayaan diri, mengelola emosi, hingga menjalin relasi yang baik dengan orang lain.
Koordinator program, Jery Santoso berkata, pelatihan tersebut lahir dari pengalaman mendampingi peserta pada Program KUBIK Fase Satu.
Selama proses pendampingan, ditemukan bahwa banyak peserta sebenarnya memiliki kemampuan, tetapi masih menghadapi hambatan berupa kurang percaya diri, kesulitan mengelola emosi, ragu mengambil keputusan, hingga belum berani berinteraksi dengan pelanggan maupun mitra usaha.
“Kami belajar bahwa keterampilan teknis saja belum cukup. Fondasi yang perlu dibangun lebih dahulu adalah kemampuan sosial dan emosional,” kata Jery.
Apabila fondasi kuat, kata dia, proses belajar usaha juga akan jauh lebih optimal.
Ia berkata, pendekatan SEL menjadi penting karena penyandang disabilitas kerap menghadapi tantangan yang berlapis, mulai dari stigma, diskriminasi, hingga pengalaman diremehkan yang berdampak pada rasa percaya diri dan cara mereka memandang diri sendiri.
Melalui pelatihan ini, peserta dapat mengenali diri, memahami potensi yang dimiliki, mengelola emosi, membangun empati, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Peserta pelatihan terdiri atas penyandang disabilitas yang mengikuti Program KUBIK bersama para caregiver atau anggota keluarga yang selama ini mendampingi mereka.
Keterlibatan caregiver dinilai penting karena proses pembelajaran tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
“Di lingkungan keluarga, caregiver menjadi pihak yang paling sering berinteraksi dengan penyandang disabilitas sehingga memiliki peran strategis dalam memperkuat perubahan positif yang telah diperoleh selama pelatihan.”
Dalam pelaksanaannya, menurut Santoso, metode pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan peserta melalui pendekatan partisipatif dan fleksibel.
Berbagai aktivitas seperti diskusi, permainan, simulasi, refleksi, dan kerja kelompok, dapat memudahkan peserta memahami materi.
“Kami berharap pelatihan ini mampu meningkatkan kesadaran diri, rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, empati, komunikasi, kerja sama, serta keberanian peserta dalam mengambil keputusan,” katanya.
Selain itu, kepada caregive, diharapkan memiliki perspektif yang lebih positif terhadap potensi anggota keluarganya.
“Pendampingan yang diberikan tidak lagi sekadar membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga mendorong penyandang disabilitas agar semakin mandiri, memiliki ruang untuk berkembang, dan mampu membangun komunikasi yang lebih sehat di lingkungan keluarga,” terangnya.













