Ruteng, Ekorantt.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Manggarai melaporkan perkembangan dampak korban gempa Flores hingga Minggu siang, 16 Agustus 2026.
Gempa tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 menyebabkan 24 orang meninggal dunia, 32 orang mengalami luka berat, dan 88 orang luka ringan.
Data ini masih bersifat sementara. BPBD Manggarai terus melakukan pendataan secara menyeluruh, termasuk data kerusakan fasilitas umum, fasilitas sosial, dan rumah warga.
Sejauh ini, fasilitas publik yang mengalami kerusakan mencakup 10 kantor pemerintahan, 14 fasilitas pendidikan, dan 12 fasilitas umum. Sedangkan rumah warga masih dalam proses identifikasi.
Sebanyak 3.068 jiwa penduduk mengungsi di 10 titik pengungsian, yakni Lapangan Bea Waja Pagal, Puskesmas Pagal, Puskesmas Reo, halaman Kantor Camat Cibal, Rumah Sakit St. Rafael Cancar, RSUD Ruteng, Tengku Romot, Golo Sita, Barang Kolong, dan pesantren.
Total Korban Meninggal
Korban meninggal akibat gempa di Pulau Flores menjadi 51 orang berdasarkan data Minggu pagi. “Per pukul 09.00 tadi pagi hari ini, bahwa total korban meninggal dunia ada 51. Luka berat 64 warga,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M Syafii dalam konferensi pers, Minggu siang.
Syafii mengatakan pencarian korban terus dilakukan. Para korban meninggal ditemukan di lokasi berbeda.
Sebelumnya, TIM SAR merilis data korban tewas gempa NTT berjumlah 48 orang. Berdasarkan pendataan sementara yang diverifikasi per pukul 08.30 Wita, tercatat 112 korban, terdiri atas 48 orang meninggal dunia dan 64 orang mengalami luka-luka berat maupun ringan.
Dua Posko Tanggap Darurat
Badan Nasional dan Penanggulangan Bencana (BNPB) telah membangun dua posko nasional pendampingan provinsi untuk mempercepat penanganan dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto berkata, posko pertama berada di Labuan Bajo yang menjadi pusat koordinasi distribusi dan dukungan dari Kementerian, lembaga, serta BUMN.
Sementara posko kedua didirikan di Maumere untuk melayani wilayah terdampak seperti Sikka, Nagekeo, dan Ngada. Sedangkan untuk posko Labuan Bajo untuk menangani Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur.
“Dua titik ini harapannya bisa mengcover langkah-langkah penanganan bencana di wilayah terdampak,” ujar Suharyanto saat konferensi pers pada Minggu siang.
Warga dari Desa Rowa, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo warga yang terdampak bencana meminta perhatian dari pemerintah agar segera mendistribusikan kebutuhan pokok berupa sembako.
“Kami mengharapkan gerak cepat pemerintah pusat dan provinsi untuk bisa segera terjun ke wilayah kami di Nagekeo, kami terdampak cukup parah,” ujar Rober Belarminus, seorang warga yang terkena dampak bencana gempa.
Sementara dari Pulau Palue Kabupaten Sikka, update informasi yang dihimpun Ekora NTT ada 141 rumah yang rusak berat. Listrik dan telekomunikasi putus total.
“Pengumpulan data dari beberapa wilayah masih mengalami kendala karena jaringan komunikasi terputus dan akses jalan tertutup akibat longsor di beberapa titik,” ujar Rudolfus Riba, Camat Palue.













