Unika St. Paulus Ruteng Tarik Mahasiswa KKN Imbas Gempa Bumi

Ruteng, Ekorantt.com – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng mengambil langkah menyikapi gempa bumi dengan kekuatan 7,7 magnitudo yang melanda Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Setelah mencermati kondisi lapangan dan mempertimbangkan keselamatan mahasiswa, pihak kampus menarik seluruh mahasiswa KKN Tematik Tahun 2026 dari sejumlah lokasi.

Rektor Unika Santu Paulus Ruteng, Pastor Agustinus Manfred Habur berkata, keputusan ini diambil menyusul dampak gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Flores, termasuk adanya mahasiswa yang menjadi korban akibat reruntuhan rumah warga tempat mereka menginap selama menjalankan masa KKN.

Ia bilang, keselamatan mahasiswa merupakan prioritas utama universitas. Menarik mahasiswa dari lokasi KKN bukan berarti menarik diri dari masyarakat.

“Kami menyelamatkan mahasiswa kami, tetapi kami tidak menarik kepedulian dan tanggung jawab kemanusiaan kami terhadap masyarakat yang sedang mengalami bencana,” ujarnya dalam keterangan pers pada Sabtu, 17 Agustus 2026.

Menurutnya, penarikan mahasiswa dilakukan untuk memastikan seluruh mahasiswa berada dalam kondisi aman dan tidak terpapar risiko akibat gempa susulan maupun bangunan yang mengalami kerusakan.

Karena itu, para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) bersama Panitia KKN diminta memastikan seluruh mahasiswa terdata, memperoleh tempat yang aman, serta mendapatkan pendampingan apabila mengalami luka, kehilangan anggota keluarga, kerusakan tempat tinggal, maupun dampak psikologis akibat bencana.

Namun, kata dia, pihaknya tetap membuka ruang bagi mahasiswa yang dalam kondisi aman dan secara sukarela ingin menjadi relawan kemanusiaan.

Mahasiswa yang bersedia menjadi relawan akan ditempatkan secara terkoordinasi dan bukan lagi sebagai bagian dari kewajiban KKN.

Mereka akan membantu masyarakat sesuai kompetensi, kebutuhan lapangan, dan arahan pemerintah daerah serta lembaga penanggulangan bencana.

“Kami tidak ingin mahasiswa datang ke lokasi bencana tanpa koordinasi dan justru menambah risiko. Karena itu, kegiatan kerelawanan harus aman, terorganisasi, sesuai kompetensi, dan berada dalam koordinasi dengan pemerintah daerah,” ujar Manfred.

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan kemanusiaan, Unika Santu Paulus juga segera membentuk posko tanggap darurat gempa.

Ia berkata, posko ini akan menjadi pusat koordinasi kampus dalam melakukan pendataan mahasiswa terdampak, mengorganisasi relawan, memetakan kebutuhan masyarakat, serta mengoordinasikan bantuan dan pelayanan kemanusiaan.

Unika akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta lembaga dan pihak terkait untuk mengetahui lokasi-lokasi yang membutuhkan dukungan dan menempatkan relawan sesuai kebutuhan.

“Relawan dari lingkungan Unika akan diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan, antara lain pendampingan anak dan pendidikan, promosi kesehatan, dukungan psikososial, pendataan masyarakat terdampak, distribusi bantuan, serta pendampingan kelompok rentan.”

Untuk pekerjaan yang membutuhkan kompetensi dan perlindungan khusus, kampis tidak akan menempatkan mahasiswa pada kegiatan berisiko tinggi seperti memasuki bangunan rusak atau melakukan operasi pencarian dan penyelamatan.

Manfred juga menegaskan, penarikan mahasiswa tidak berarti Unika Ruteng menghentikan tanggung jawab akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.

Setelah kondisi darurat memungkinkan, Unika akan mengevaluasi dan menyiapkan skema keberlanjutan KKN Tematik, termasuk kemungkinan mengembangkan program KKN Tanggap, Pemulihan dan Ketangguhan Masyarakat Pascagempa Flores.

“Dalam situasi bencana, pendidikan tidak boleh kehilangan relevansinya. Mahasiswa belajar bukan hanya dari buku dan ruang kelas, tetapi juga dari bagaimana ilmu pengetahuan digunakan untuk membantu manusia. Namun, bantuan itu harus dilakukan dengan cara yang aman dan bertanggung jawab,” jelasnya.

Pastor Manfred berkata, pihaknya memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa yang menjadi korban atau terdampak langsung bencana agar tidak mengalami kerugian akademik akibat kondisi yang berada di luar kendali mereka.

Ia menambahkan Unika Santu Paulus memandang bencana gempa Flores bukan hanya sebagai persoalan kemanusiaan, tetapi juga sebagai panggilan bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan ilmu pengetahuan, solidaritas dan pengabdian secara nyata.

“Kami ingin Unika hadir bukan hanya ketika keadaan normal. Justru dalam situasi sulit seperti sekarang, kampus harus menunjukkan bahwa ilmu, iman dan solidaritas dapat menjadi kekuatan untuk membantu masyarakat bangkit kembali,” pungkasnya.

Pendataan korban maupun kerusakan pascagempa M7,7 di wilayah Provinsi NTT masih terus dilakukan petugas. Lebih dari 50 warga meninggal dunia dan ribuan rumah mengalami kerusakan.

Dikutip Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), data sementara pada Minggu, 16 Agustus pukul 16.00 WIB, total  korban meninggal dunia mencapai 53 orang.

Sebarannya yakni Kabupaten Manggarai 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Manggarai Barat satu orang, Nagekeo satu orang dan Ende dua orang.

Selain korban meninggal, petugas gabungan juga mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka.

Total korban luka-luka mencapai 137 jiwa. Saat ini, korban luka sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun faskes darurat.

TERKINI
BACA JUGA