Puluhan Pasien RSUD Ruteng Dirawat di Tenda Darurat Pascagempa Flores

Pasien-pasien yang rawat di tenda adalah pasien yang terdampak gempa atau teridentifikasi sebagai triase Unit Gawat Darurat (UGD), pasien ruangan bedah, serta pasien ruangan penyakit interna

Ruteng, Ekorantt.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, Kabupaten Manggarai terpaksa harus melakukan perawatan pasien di halaman gedung dan badan jalan raya pasca gempa Flores.

Pasien-pasien tersebut tampak baring di tenda darurat didampi petugas dan keluarga mereka.

Rista Mari, Humas pada rumah sakit tersebut berkata, alasan utama pasien harus dipindahkan dan dirawat di tenda darurat karena kondisi bangunan gedung di instansi itu rusak dan roboh pasca terjadinya gempa pada 15 Agustus lalu.

“Jadi amat riskan kalau kita menempatkan pasien di dalam ruang perawatan yang sudah rapuh,” ungkap Rista kepada Ekora NTT pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, jumlah pasien yang sedang dirawat di tenda sebanyak 35 orang, sesuai data pagi tadi.

Pasien-pasien yang rawat di tenda adalah pasien yang terdampak gempa atau teridentifikasi sebagai triase Unit Gawat Darurat (UGD), pasien ruangan bedah, serta pasien ruangan penyakit interna.

Sedangkan untuk pasien intensifker, pasien nicu, pasien pascaoperasi, serta ibu bersalin, dikondisikan di gedung darurat milik rumah sakit yang berlantai satu.

“Jadi kita tetap berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik, meskipun dengan situasi dan sarana yang terbatas.”

Ia berpendapat, tenaga medis terus berupaya bekerja profesional dalam pelayanan meskipun itu dilakukan di tenda darurat.

Rista mengaku perawatan pasien di tenda sejak terjadinya gempa 7,7 magnitudo. Selain itu, perawatan dilakukan di tenda sebagai upaya kemungkinan terjadinya gempa susulan.

“Untuk pasien yang korban gempa, kita di hari kedua dan ketiga baru dapat bantuan dokter ortopedi,” ungkapnya.

Kebutuhan paling mendesak saat ini, menurut dia, adalah selimut untuk pasien, karena suhu udara di Ruteng sangat dingin.

Selain itu kursi atau tempat duduk untuk keluarga pasien dengan tenaga medis juga menjadi kebutuhan yang mendesak, kata Rista.

Kebutuhan lainnya juga; obat-obat anti nyeri, karena masih terbatas.

“Karena kita tahu rujukan ini kan rata-rata hampir sebagian besar itu karena patah tulang akibat tertindih material bangunan,” pungkasnya.

Gempa bumi mengguncang Pulau Flores, NTT pada Sabtu pagi pukul 04.58, 15 Agustus 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pusat gempa berada di 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores dengan kedalaman 15 kilometer.

Pendataan sementara Tim SAR per 19 Agustus pukul 18.00 Wita, korban luka ringan di Kabupaten Manggarai sebanyak 104 orang. Luka berat 32 orang. Sedangkan korban meninggal dunia 27 orang.

Lalu Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi di NTT selama 14 hari, sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.

Penetapan status tersebut dituangkan dalam Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang ditetapkan di Kupang pada 15 Agustus 2026 oleh Gubernur  Emanuel Melkiades Laka Lena.

Keputusan ini diambil menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 melanda wilayah Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 dengan kedalaman 15 kilometer dan berlokasi sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo.

Gempa bumi ini telah menimbulkan korban jiwa, korban luka-luka, kerusakan permukiman masyarakat, infrastruktur, sarana dan prasarana, serta mengganggu kehidupan dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah.

Penetapan status tanggap darurat dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak bencana, sekaligus mempermudah akses, koordinasi, dan komunikasi antarpihak dalam mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.

TERKINI
BACA JUGA