Ruteng, Ekorantt.com – Sebanyak 35 lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Karya Ruteng didorong untuk menjadi lulusan yang mampu menawarkan solusi atas persoalan di daerah.
Persoalan seperti keterbatasan akses permodalan bagi UMKM, tata kelola koperasi yang belum optimal, rendahnya literasi keuangan masyarakat serta ketergantungan pada sektor pertanian tradisional menjadi rentan terhadap fluktuasi harga dan cuaca.
“Kalian lulus di tengah tantangan ekonomi daerah yang tidak ringan,” kata Ketua STIE Karya, Kirenius C. Watang dalam acara wisuda sarjana periode ke-VII STIE Karya berlangsung di Aula Cewonikit pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Para wisudawan berasal dari program studi Akuntansi dan Manajemen.
Menurutnya, Kabupaten Manggarai masih bergulat dengan persoalan semacam itu. Namun memiliki potensi besar di bidang pertanian, peternakan, pariwisata, hingga semangat gotong-royong masyarakat melalui lembaga credit union.
Watang berkata, tantangan ini bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dijawab. “Kalianlah, para sarjana akuntansi dan manajemen, yang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari jawaban itu.”
Karena itu, menurut Watang, momentum hari ini merupakan garis start, bukan finish. Ke mana pun melangkah tetap profesional.
“Bawalah selalu nilai-nilai kejujuran, ketelitian, dan integritas yang telah kalian pelajari di kampus,” ujarnya.
Watang juga meminta para lulusan agar menjadi sarjana yang berani mengambil peran meski mulainya dari langkah kecil, tapi konsisten.
“Teruslah membangun ekonomi. Jangan pernah berhenti menumbuhkan harapan bagi diri sendiri, bagi keluarga, dan bagi NTT yang kita cintai bersama,” ucap Watang.
Wisuda tahun ini bertajuk ‘Sarjana Berdampak, Berkarya untuk Bangsa: Membangun Ekonomi, Menumbuhkan Harapan’ bukanlah slogan semata, melainkan cermin dari visi STIE Karya untuk mencetak lulusan yang unggul, berkarakter, dan berjiwa wirausaha.
“Menjadi sarjana berdampak berarti tidak berhenti pada pencapaian gelar, tetapi terus bertanya: apa yang bisa saya berikan kepada masyarakat di sekitar saya?”
STIE Karya hadir bukan sekadar sebagai tempat mencetak ijazah, tetapi sebagai lembaga yang mengemban tanggung jawab Tridharma Perguruan Tinggi; pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
STIE Karya berkomitmen menjadikan motor penggerak pembangunan ekonomi daerah melalui kurikulum yang relevan dengan kebutuhan koperasi, UMKM, BUMDes, dan lembaga keuangan lokal.
Pihaknya pula mendorong penelitian dosen dan mahasiswa untuk menjawab persoalan ekonomi riil, melalui kerja sama strategis dengan pemerintah daerah, dunia usaha, maupun sesama perguruan tinggi.
“Peran perguruan tinggi tidak berhenti pada hari wisuda ini. Kami akan terus membuka pintu bagi kalian melalui jejaring alumni, pelatihan lanjutan, dan kolaborasi.”
Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Tunas Karya, Mariyati Helsako F Mutis berkata, menjadi sarjana bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan, namun bagaimana menciptakan nilai dan menyelesaikan persoalan.
Saat ini, menurutnya, ekonomi lokal membutuhkan sarjana-sarjana terbaik.
“Di daerah kita, masih terdapat UMKM yang membutuhkan pengelolaan keuangan yang lebih baik,” ungkapnya.
Selain itu, lembaga koperasi membutuhkan tata kelola yang lebih profesional. Ada usaha pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, perdagangan, dan ekonomi kreatif membutuhkan orang muda yang mampu mengelola bisnis secara modern.
“Di sinilah ilmu manajemen dan akuntansi yang saudara miliki menjadi sangat berarti.”
Mariyati berkata, lulusan Manajemen dapat hadir sebagai pengelola usaha, perencana bisnis, tenaga pemasaran, pengembang sumber daya manusia, konsultan, entrepreneur, maupun penggerak transformasi digital usaha masyarakat.
Sedangkan lulusan Akuntansi dapat menjadi penjaga kesehatan keuangan organisasi dan perusahaan, auditor, konsultan, analis keuangan, pengelola perpajakan, maupun pendamping bagi UMKM agar mampu menyusun laporan keuangan serta mengambil keputusan berdasarkan data.
“Bayangkan jika satu orang sarjana mampu membantu sepuluh UMKM menjadi lebih tertib dalam mengelola keuangan.”
Ia membayangkan apabila satu lulusan mampu membantu sebuah koperasi berkembang dengan tata kelola yang lebih baik. Kemudian para sarjana membangun usaha sendiri lalu memperkerjakan lebih dari lima orang.
“Di situlah sarjana benar-benar memberikan dampak,” pungkasnya.













