Borong, Ekorantt.com – Sekitar seluas 82 hektare sawah di kawasan Tambak Borong, Kabupaten Manggarai Timur terancam gagal panen akibat kekeringan. Para petani setempat dibayangi kerugian senilai ratusan juta.
Sebagian lahan tampak mengering dengan tanah pecah-pecah.
Sementara tanaman padi di area lain masih tumbuh, tetapi berada di atas tanah yang retak akibat kekurangan air. Kondisi daun terlihat mulai menguning dan kering.
Andry Saje, salah satu petani mengatakan kondisi tersebut mengancam 120 pemilik sawah.
Akibatnya, para petani mengalami kerugian sekitar ratusan juta rupiah.
Ia berkata, pasokan air mulai berkurang saat sehari setelah gempa pada Agustus lalu. Saat itu, terjadi longsor di bendungan, sebagai sumber irigasi untuk pengairan ke lahan sawah.
“Sejauh ini kurang lebih 70 hektare yang mengalami kekeringan parah dan berpotensi gagal panen,” sebut Andry kepada Ekora NTT pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Kondisi tanaman padi saat ini terutama yang sudah memasuki fase berbuah mulai menguning dengan kondisi tanah terpecah-pecah.
Pada tahun lalu, kata dia, lahan sawah seluas 0,5 hektare miliknya mampu menghasilkan sekitar dua ton padi.
Andry khawatir penghasilan kali ini menurun bahkan terjadinya gagal panen.
“Tahun ini diprediksi akan mengalami penurunan hasil panen hingga mencapai 80 persen,” ucapnya.
Apabila gagal panen, kerugiannya lebih dari Rp18 juta.
Untuk menyelamatkan tanaman, ia bersama petani lain berupaya menyewa mesin penyedot air dengan biaya Rp300.000 sekali operasi.
Upaya ini justru menambah pengeluaran petani, katanya.
“Kami berharap pemerintah segera turun tangan agar tanaman padi tidak gagal panen,” ujarnya.
Menurutnya, peristiwa ini sudah dilaporkan kepada pemerintah desa setempat dan sudah mendatangi langsung lokasi.
Kepala Desa Nanga Labang, Simplisius Abi Wagut mengemukakan, krisis air yang melanda persawahan di kawasan tambak masih berhubungan dengan kerusakan jaringan induk bendungan Wae Laku.
Kerusakan tersebut menghambat distribusi air ke persawahan.
Tak hanya di tempat itu, tempat lain seperti Lodo, Desa Bangka Kantar; Jawang, Golo Kantar; serta areal persawahan Wae Reca dan Toka di Desa Nanga Labang ikut terdampak.
“Jika pemerintah tidak segera memperbaiki jaringan irigasi dan memulihkan pasokan air, ancaman gagal panen dapat meluas dan memperbesar kerugian ekonomi masyarakat yang menggantungkan pendapatan pada sektor pertanian,” ungkapnya.
Para petani, menurutnya, berharap pemerintah daerah segera memeriksa kerusakan, mempercepat perbaikan, serta menyiapkan langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan air di areal persawahan terdampak.













