Belajar dari Kucing

Maumere, Ekorantt.com – Ada beberapa peribahasa yang menyangkutpautkan kucing di dalam muatan isinya.

Sebut saja, “seperti kucing keguguran anak”, ada juga adagium “biarpun kucing naik haji, pulangnya mengeong juga”, ataupun yang lebih puitis, “bila kucing lepas senja” dan “bagai kucing tidur di bantal”.

Peribahasa-peribahasa berkiaskan “kucing” ini memiliki maknanya tersendiri.

Yang tentu saja tidak punya singgungan sama sekali dengan dunia kucing sebagai hewan.

“Kucing” dan juga frasa-frasa lainnya hanya dipakai oleh manusia untuk merujuki sesuatu yang lain.

iklan

Meskipun begitu, hal tersebut tidaklah salah dan malah menunjukkan pekerjaan bahasa sebagai simbol.

Sesuatu yang tak dapat dimungkiri telah menjadi bagian dari tapak peradaban dan kebudayaan manusia.

Bahasa atau kata-kata mewedarkan makna.

Dan makna tentu memiliki tafsiran tersendiri bagi setiap makhluk yang berakal budi.

Rabu siang, 23 Januari 2019 lalu, saya bersama beberapa rekan jurnalis Ekora NTT beranjak dari kantor untuk pergi mencari makan siang.

Kami ingin mengisi perut yang mulai lapar tersebab kurasnya tenaga juga pikiran dalam menulis ataupun mengedit naskah.

Salah satu tempat makan favorit kami ialah angkringan Mbak Susilarini yang berlokasi di perempatan SMPK Frater Maumere. Kami memutuskan pergi ke sana.

Biasanya kami akan berkendara menuju lokasi tujuan.

Namun, kali ini agak berbeda.

Kami berjalan kaki saja sembari menikmati udara segar.

Toh angkringan Mbak Susilarini juga letaknya tak jauh dari kantor redaksi Surat Kabar Ekora NTT.

Tapak-tapak mulai terlangkah. Menelusuri jalanan aspal kecil di sebelah kiri kantor.

Kompleks di situ cukup sepi, meski jejeran rumah tampak padat. Barangkali para penghuninya sibuk dengan aktivitas keseharian mereka masing-masing.

Kami pun berjalan santai sambil mengudap cerita-cerita lepas, seperti proyeksi liputan ataupun masalah-masalah keseharian yang sedang terjadi di NTT dan Indonesia.

Tapi semuanya dibalut dalam nada yang ringan. Tak seberat diskusi-diskusi filsafat atau talk show kebangsaan di televisi.

Sebelum sampai di angkringan, sebelum perut diisi, kami dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang agak nyentrik.

Seekor kucing sedang tertidur di samping salah satu rumah warga. Pulas sekali. Naungannya; seng bekas dengan beberapa guguran daun mangga kering yang mengitari.

Redaktur Hengky Ola Sura kemudian meminta saya untuk mengambil potret. Saya jepret. Perjalanan kami teruskan.

Tanpa punya pikiran apa-apa atau berniat melakukan analisis gambar yang lebih mendalam.

Kami pun tiba di angkringan dan memesan makanan. Mbak Susilarini melayani dengan ramah. Di situ banyak sekali orang yang sedang makan.

Ada yang datang dan pergi dan rata-rata merupakan pekerja kantoran yang punya anjungan waktu sistematis.

Tentu saja semuanya diburu oleh waktu ataupun tuntutan pekerjaan. Orang-orang seperti memiliki dunia dan rutinitasnya masing-masing. Ya, termasuk kami tentu saja.

Namun, tiba-tiba saja saya teringat kucing tadi.

Ketika semua orang hidup dalam gegas, hewan tersebut seperti tak peduli apa-apa dan mengibarkan panji kehidupannya sendiri.

Tuannya barangkali lagi pontang-panting bekerja, dia terlihat santai dan malah tidur dengan tenang.

Memang kucing sebagai hewan hanya mengandalkan intuisi dan tak pernah berpikir menggunakan akal sehat.

Tapi perilaku tidur itu sendiri jadi semacam lawan balik atas manusia-manusia yang selalu sibuk dengan beragam hal.

Yang tak punya jeda atas diri untuk sejenak merenung di tengah kehidupan yang kian hingar-bingar.

Kerja pagi, pulang malam; memburu deadline pekerjaan; dipaksa atasan untuk berpenampilan menarik; berburu kecepatan di jalanan; menanti jualan laku; menyiasati tegangan dengan sesama rekan kerja, dan bermacam-macam persoalan lainnya.

Tapi manusia tanpa masalah tentu bukanlah manusia.

Dia bisa saja malaikat yang turun tiba-tiba dari langit atau jelmaan Yesus atau Muhammad yang datang kembali mengajarkan peri kehidupan baik kepada umat sekarang.

Meskipun dua nama terakhir sebetulnya memangku segudang masalah juga waktu mereka bernubuat di dunia.

Mungkin saja si kucing tadi sedang mengolok-oloki kami yang melewatinya. Mengejek kita sekalian, makhluk yang bernama manusia ini.

Namun, dia tetaplah kucing dan tak tahu apa-apa tentang definisi olokan.

Dalam catatan perjalanan yang singkat ini, nasibnya sama seperti pemakaiannya dalam konteks peribahasa tadi.

Kucing hanya sebagai alat untuk menjelaskan artian yang lebih jauh.

Tapi tak boleh senang dulu.

Barangkali di dunianya yang lain, di tengah nikmatnya tidur di atas seng, kucing itu memang benar-benar sedang menertawakan kita manusia sekalian.

Toh kita tak pernah tahu dunia kucing itu sendiri.

TERKINI
BACA JUGA