Terharu, Kapolres Flotim Bedah Rumah Hendro, si Anak Yatim Asal Riangkemie

Flores Timur, Ekorantt.com – Setiap orang pasti mempunyai kesulitan sendiri dalam hidupnya. Ketika menghadapi kesulitan kadang kita mengeluh hingga meminta bantuan orang lain.

Namun tidak bagi Hendrikus Pati Lewar, anak muda asal Desa Riangkemie, Kecamatan Ilemandiri, Kabupaten Flores Timur (NTT).

Hendro demikian ia disapa, adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ia lahir pada tanggal 20 Mei 1998. Ia ditinggal mati ibunya, Getrudis Nebo Lein pada tahun 2015 silam.

Kini, Hendro hidup sebatang kara pasalnya ia ditinggal pergi ayah dan saudari kandungnya yang merantau ke negeri Jiran, Malaysia. Di usianya yang masih tergolong anak-anak itu, Hendro menjalani hidupnya tanpa dekapan hangat orangtua dan bantuan dana dari keluarga dekatnya.

Selain tinggal sendirian di rumah orang tuanya. Kondisi rumah peninggalan orang tuannya sangat memprihatinkan. Atap seng berlubang dan dinding yang terbuat dari bambu sudah mulai rapuh sementara lantainya beralaskan tanah.

iklan

Kondisi ini sama sekali tidak menyurutkan niat Hendro untuk menyelesaikan pendidikannya. Berkat keteguhan hati, Hendro mampu membiayai dirinya sendiri hingga tamat di SMK Negeri 1 Larantuka.

Sementara di lingkungan masyarakat, oleh warga sekitar Hendro dikenal sebagai anak muda yang patuh. Kendati teramat pahit hidupnya, Hendro tidak mau membuat orang lain susah karena dirinya.

“Anak-anak di kampung sini kadang suka buat onar. Tapi Hendro tidak pernah buat onar. Kemanapun, kalau malam, ia selalu pulang dan tidur di rumah. Tidak pernah menginap di rumah orang lain. Kalau sehari dia tidak singgah di rumah saya berarti dia sedang sakit. Kalau sakitpun ia tetap di dalam rumah. Tidak mau buat orang lain repot dan turut susah dengan dirinya,” tutur Elsi Molan, tetangga Hendro.

Dalam perjalanan hidupnya Hendro selalu tak kehabisan cara untuk bertahan hidup dan membiayai sekolahnya. Terkadang Ia mengorbankan waktunya terlambat masuk sekolah untuk ojek.

“Pagi-pagi misalnya mau berangkat sekolah di tengah jalan ia melihat penumpang. Maka ia langsung mengeluarkan bajunya dalam tas lalu tukar untuk ojek dulu. Begitu sehari-hari kalau Ia sudah tidak ada uang untuk beli beras,” cerita Elsi haru.

Ekora NTT menyambangi Hendro di rumahnya, Senin (20/5). Hendro mengaku, usai ditinggal pergi keluarganya, ia bekerja sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Ia menuturkan, saat hijrah ke Malaysia, ayahnya memilih untuk menikah lagi sementara saudari kandungnya sudah menikah di tanah rantau. Kenyataan ini tentu membuatnya tidak berharap banyak akan bantuan dari keluarga kandungnya.

Proses Bedah Rumah milik Hendro

Baginya tidak makan dalam satu atau dua hari dalam sebulan merupakan hal yang biasa.

“Beberapa bulan setelah mama meninggal, saya diberi motor oleh tanta. Tiap  pulang sekolah saya ojek. Dari hasil ojek, saya beli beras dan lauk untuk makan. Tiap bulan pasti selalu ada satu atau dua hari saya tidak makan. Setiap bulan begitu. Satu dua hari pasti tidak makan. Sejak merantau bapak baru kirim saya uang Rp. 1 juta ketika saya praktek di Kupang,” kisah Hendro.

Guna membiayai persekolahannya hingga tamat SMA, Hendro memperoleh uang dari pekerjaannya sebagai petani dengan memetik kelapa dan memanen mente di kebun orang tuanya.

“Kalau mau bayar uang sekolah, saya naik kelapa buat kopra. Kadang harus utang dulu untuk bayar uang sekolah. Kalau mau utang bayar sekolah, biasaya kalau kelapa sudah dibelah dan dijemur, baru saya berani utang. Kalau belum belah dan dijemur saya tidak berani utang, sebab takut bayarnya lama,” tutur Hendro.

Setitik Harapan

Kadang Tuhan menunjukkan kasihnya melalui jalan yang tak disangka-sangka. Kisahnya bermula ketika Hendro dinyatakan lulus sekolah, Senin (13/05).

Kala itu, ia dan teman-temannya hendak merayakan pesta kelulusan dengan berkonvoi keliling kota Larantuka.

Namun aksi Hendro bersama kawan-kawannya itu dihadang aparat keamanan Satuan Polres Flores Timur.

Hendro dan motor Honda supra-fit miliknya di bawah ke kantor polisi. Pemeriksaan terhadap dirinya berlangsung sore menjelang malam.

Akhirnya, Hendro diantar pulang oleh seorang anggota polisi.

“Karena kuatir saya konvoi lagi. Jadi motor saya ditahan sama pak polisi. Sudah mau malam jadi saya diantar pulang ke rumah. Tiba di rumah pak polisi yang mengantar saya menangis melihat keadaan saya. Lalu dia minta foto. Foto juga dengan saya. Lalu dia bilang ade tunggu kabar saja nanti,” cerita Hendro.

Hendro tak pernah menyangka, kisah penghadangan oleh Anggota Polres Flotim ini menjadi titik awal yang cerah dalam hidupnya.

Rupanya, kisah hidup Hendro si Anak yatim ini memantik rasa kemanusiaan Kapolres Flores Timur, AKBP. Deni Abraham membedah rumah milik Hendro.

Tak hanya itu saja, Kapolres Deni bahkan menggalang donasi bantuan dana untuk biaya kuliah Hendro.

Kapolres Flotim dan jajaran anggota Polres Flotim secara suka rela menyumbangkan dana untuk pembangunan rumah Hendro.

Tuhan menunjukkan berkatnya, Jumat (17/5) puluhan satuan Anggota Polres Flotim tiba dengan membawa bahan-bahan dan perlengkapan bangunan untuk memperbaiki rumah Hendro.

“Mereka bawa seng, batu, tripleks, dan lain-lain. Lalu mereka bongkar rumah dan bangun lagi,” tutur Hendro penuh haru.

Kemudian pada Senin (20/5) rumah Hendro dibedah Aparat Anggota Polres Flotim. Momen ini bertepatan dengan hari ulang tahun Hendro ke-21.

Hendro merayakan HUTnya bersama Kapolres Flores Timur, AKBP. Deni Abraham dan anggota Polres Flotim.

“Saya pasti tidak kuliah lagi. Begini saja. Dengan bantuan ini saya sudah sangat bersyukur. Kalau ada yang mau bantu saya kuliah di Larantuka, saya sangat bersyukur sekali,” jawab Hendro singkat dengan berlinang air mata.

TERKINI
BACA JUGA